EYD

Neil Gaiman pernah bertutur dengan mengutip pepatah lama bahwa novel paling baik didefinisikan sebagai prosa panjang dengan sesuatu yang salah di dalamnya (Neil Gaiman, Dewa-Dewa Amerika, hlm. 9-10). Sementara itu orang bijak pernah berkata bahwa buku yang sempurna adalah buku yang tak pernah ditulis. Apa gerangan yang membuat saya mengutipkan kedua ide di atas? Melegalisasi kesalahan? Saya hanya ingin untuk menawarkan bahwa kesalahan adalah sesuatu yang wajar dan lumrah, termasuk dalam dunia penulisan. Kesalahan dalam dunia penulisan sendiri banyak ragamnya. Bisa dari kealpaan penulis, ketidaktahuan penulis, kesalahan pengetikan, penggunaan kata atau kalimat yang tidak sesuai dengan EYD, dan sebagainya.

Suatu waktu saya membuat sebuah cerpen berjudul Karnaval Sunyi. Dalam cerpen tersebut saya memakai frasa ‘sombongisme’ dan menggunakan beberapa istilah asing. Frasa ‘sombongisme’ dan istilah asing yang saya gunakan mendapatkan cabe dari beberapa orang. Para pengkritik menganggap penggunaan kata ‘sombongisme’ dan istilah asing tidak tepat digunakan dalam cerpen yang saya buat. Baiklah kiranya di kesempatan ini saya gunakan untuk mengulas sekilasan terkait frasa yang saya pakai dan istilah asing dalam tulisan.

Ada berapa banyak kosakata dalam bahasa Indonesia? Jika mengutip dari majalah Tempo, maka akan terdapat komparasi data sebagai berikut: dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia baru tercatat 90 ribu kata Indonesia. Bandingkanlah dengan Jerman atau Inggris, yang memiliki satu juta kata (Tempo, Edisi Lukisan Palsu Sang Maestro, hlm. 60). Mengutip pendapat dari Redaktur Senior Tempo Leila S.Chudori,”Kami menyadari, dalam bahasa, selalu ada ‘penyimpangan’, penjelajahan, eksperimen, dan permainan kata atau kalimat.” Tak mengherankan dengan basis pemikiran tersebut, dari rahim majalah Tempo bermunculanlah kata-kata berikut:”berkelindan”, “aduhai”, “santai”, “konon”, “gebrakan”, “menggebrak”, “menonjok”, “menggojlok”, “dangdut”, “melejit”, “tumben”, “kinclong”, “didapuk”, “digadang-gadang”, “cowok”, “cewek”, “cuek” (Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo 40 Tahun (1971-2011), hlm. 100-102). Majalah Tempo berpandangan kata-kata atau istilah yang meluncur dari kawasan kantor kami adalah kata-kata temuan baru yang bisa memperkaya bahasa Indonesia. Kita bisa memetiknya dari bahasa daerah, bahasa sehari-hari, atau bahkan serapan bahasa asing. Selama kata-kata itu memang terasa tepat dan pas dengan maknanya (Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo 40 Tahun (1971-2011), hlm. 103).

Ide dan alasan yang dikemukakan oleh majalah Tempo itulah kiranya yang menjadi basis serta referensi mengapa saya menggunakan frasa “sombongisme”. “Isme” sendiri berarti ajaran. “Isme” telah digunakan pada beberapa kata seperti “nasionalisme”, “materialisme”, “konsumerisme”. Jadi “sombongisme” ini sekadar melakukan paralelisme dengan konsep yang telah terbakukan tersebut. Adapun arti dari “sombongisme” ialah sombong yang telah menjadi nilai hidup dari seseorang. Sifat sombong telah menadi dan mendaging dalam orang tersebut. Begitulah kira-kira permaknaan dari “sombongisme” yang saya gunakan dalam cerpen Karnaval Sunyi.

Adapun beberapa istilah asing yang saya gunakan dalam cerpen memiliki basis historis. Cobalah tengok bagaimana buah pena dari para founding fathers Indonesia. Soekarno menulis sebagai berikut: …Pun makin lama makin tipislah kepertjajaan rakjat-rakjat itu, bahwa rakjat-rakjat jang memepertuankannja itu, adalah sebagai “voogd” jang kelak kemudian hari akan “ontvoogden” mereka; makin lama makin tipislah kepertjajaannja, bahwa rakjat-rakjat jang mempertuankannja itu ada sebagai “saudara-tua”, jang dengan kemauan sendiri akan melepaskan mereka, bilamana mereka sudah “dewasa”, “akil-balig”, atau “masak” (Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi, hlm. 1). Adapun Mohammad Hatta menulis sebagai berikut: …Ucapan struggle for life tidak saja menyatakan adanya perjuangan, tetapi juga menunjukkan pertentangan-dengan meminjam kata Sombart-antara bedarf (keperluan hidup) dan deckung (pemuasannya) (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku: Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi, hlm. 252). Sedangkan Mohammad Natsir menulis sebagai berikut: Bahasa Arab itu, bukanlah bahasa Agama semata-mata, bukan satu dialek, bukan bahasa salah satu propinsi. Akan tetapi, satu bahasa dunia, satu bahasa kebudayaan, satu bahasa pemangku kecerdasan, kunci dari bermacam pengetahuan dan kaya raya untuk mengutarakan sesuatu paham atau pengertian, dari yang mudah sampai kepada yang sesulit-sulitnya, dari yang bersifat maddah (konkrit) sampai kepada yang bersifat ma’nawi (abstrak) (Mohammad Natsir, Capita Selecta 1, hlm. 151). Penggunaan istilah asing sendiri dapat digunakan manakala belum ditemui padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia. Dengan keterbatasan kosa kata dari bahasa Indonesia, disamping itu dibutuhkan istilah yang dapat menarasikan suatu kalimat dengan tepat, saya pikir menggunakan istilah asing sah-sah saja. Jangan lupakan bahwa bahasa Indonesia sendiri memiliki akar dari bahasa bangsa lainnya.

W.J.S.Poerwadarminta

Berbicara tentang Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) sosok yang lekat dan menjadi referensi utama ialah W.J.S.Poerwadarminta. Beliau adalah penulis dari Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) yang menjadi dasar pengembangan kamus bahasa Indonesia kontemporer. W.J.S.Poerwadarminta merupakan ilmuwan swadidik bersahaja yang berperan besar dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Ia tercatat pernah mengambil kursus pelbagai bahasa, seperti bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Sanskerta, Jerman, Jawa Kuno, Melayu, dan Jepang, sampai ia menguasai semua bahasa itu. Tercatat ia sudah menghasilkan sedikitnya 25 buku-sebagian besar berupa kamus-lima diktat kuliah bahasa, serta sejumlah tulisan yang tersebar di beberapa media cetak.

W.J.S.Poerwadarminta menyatakan kamusnya bukanlah kamus standar atau baku, melainkan kamus deksriptif yang mencatat sambil merumuskan arti dan penggunaan tiap kata sebagaimana kata itu hidup di tengah pemakainya. W.J.S.Poerwadarminta berharap kamusnya “dapat memenuhi keperluan-keperluan jang praktis dalam batja-membatja segala matjam bacaan”. Sedari awal ia pun sudah membayangkan keperluan memperbaiki dan memperbaruinya setiap sepuluh atau 15 tahun. Baginya, kamus tak mungkin kekal.

Pilihan pendekatannya tersebut secara tak terelakkan memang mengakibatkan ada tuntutan penyempurnaan terus-menerus. Namun sayang, sejarah berkata lain. Sampai meninggalnya, ia tidak pernah berkesempatan melakukan penyempurnaan tersebut. Sejak pertama terbit pada 1952, baru pada 1976-di cetakan kelima- Kamus Poerwadarminta “diolah kembali” oleh Pusat Bahasa. Penyempurnaan kedua kita lihat pada cetakan ke-13 pada 2003 (Tempo, Edisi Indonesia yang Kuimpikan- 100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri, hlm. 138-139).

Dari relasi saya dengan sejumlah kalangan, saya menemui ada beberapa orang yang terlampau meninggikan peran dari Kamus Umum Bahasa Indonesia. Referensi dan rujukan boleh saja, namun terlalu strict berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia saya pikir kurang pada tempatnya. W.J.S. Poerwadarminta telah menerangkan bahwa karyanya merupakan kamus deksriptif yang mencatat sambil merumuskan arti dan penggunaan tiap kata sebagaimana kata itu hidup di tengah pemakainya. Ia pun sudah membayangkan keperluan memperbaiki dan memperbarui kamusnya setiap sepuluh atau 15 tahun.

Bahasa sendiri sesungguhnya merupakan elemen yang hidup, tumbuh dan berkembang. Ada kata-kata baru yang tumbuh, entah itu dari serapan bahasa asing, eksplorasi bahasa daerah, ataupun kreasi para sastrawan. Menjadikan bahasa beku dengan terkekang pada aturan Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti menyalahi kodrat dari bahasa. Bahasa menjadi sekadar aksara yang beku dan itu-itu saja. Saya tidak menyalahkan betul pihak yang kukuh strict dengan kamus. Saya pikir akar kekukuhan mereka dikarenakan musababnya ialah pelajaran bahasa Indonesia yang benar-salah. Pelajar Indonesia mendapatkan durasi pembelajaran tentang mana kalimat yang baku dan tidak baku. Mana yang sesuai EYD dan tidak sesuai EYD. Lalu pola baku-tidak baku ini diujikan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.

Eksesnya ialah terbentuk cetak pola bahwa bahasa itu seperti pilihan benar-salah. Maka terlupalah dengan intisari dari bahasa dan guna dari bahasa yang sebenarnya sebagai media komunikasi. Terlampau paten memusingkan tentang EYD menurut hemat saya dapat melucuti kemampuan menulis. Bukan berarti saya menyarankan Anda untuk melabrak dan semena-mena terhadap EYD. Namun ingatlah raison d’etre dari berbahasa. Dari pengalaman personal saya ketika dulu mengenyam studi bahasa Indonesia di bangku sekolah, materi membuat kalimat yang sesuai dengan EYD malahan menjadi momok dan menjadi hantu bagi lahirnya kelincahan bernarasi lewat kata. Ada ketakutan untuk menulis, karena jangan-jangan tulisan yang dihasilkan tidak sesuai dengan EYD. Fungsi turunannya ialah karya tulis dari anak bangsa ini yang dalam istilah satire Taufiq Ismail sebagai pincang menulis.

Pengajaran materi sesuai EYD juga membuat pelajaran bahasa Indonesia menjadi tidak mengasyikkan. Bagaimana teror dalam berbahasa dan mengekspresikan perasaan terjadi di ruang kelas, lalu dilanjutkan dengan ujian baik skala sekolah ataupun nasional. Bahasa seharusnya menjadi sesuatu yang kenyal dan hidup. Medium menulis menjadi kanal yang ekspresif untuk mengungkap ide dan pikiran. Bahasa sudah semestinya menjadi mengasyikkan dan mampu mengungkap panorama perasaan dan pikiran yang dimiliki. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) memang penting, namun lebih penting lagi ialah lahirnya generasi yang mampu untuk menuliskan secara nyaman dan aman tentang pergolakan pemikirannya. Selamat menulis wahai jiwa.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

About these ads

About kertaspasir

Suka menulis dan membaca
This entry was posted in Buku, Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s