Yang Stagnan, yang Berubah

Saya menyakini bahwa hidup terdiri dari perubahan dan sejumlah stagnasi. Seberapa ingin pun dirimu bertahan, pada akhirnya perubahan itu menghampiri. Seperti umur yang semakin berdetak menuju arah kematian. Maka dengan itu perubahan adalah kepastian. Memusuhi perubahan berarti memusuhi hidup.

Hidup saya belakangan ini mengalami sejumlah perubahan. Semenjak ibu saya kembali ke Jakarta, ada sejumlah perubahan signifikan yang terjadi. Saya percaya kebermaknaan seseorang itu dapat dirasakan. Dan salah satu parameternya adalah ketika orang itu berlalu. Kepergian ibu saya pada medio Maret 2010 ke Amerika Serikat menghantarkan saya pada sejumlah kenyataan baru. Dua dekade lebih sebelumnya hidup saya selalu terpagut pada ibu. Lalu di satu ceruk waktu, kami pun terpisah jarak dan waktu. Saya banyak belajar dari keterpisahan itu. Yang jelas dengan kembalinya ibu saya membawa sejumlah perubahan berarti pada hari-hari saya belakangan ini. Saya mendapatkan kembali asupan masakan rumahan. Sesuatu yang terlepas selama 3 tahun. Dan itu benar-benar bermakna. Semenjak ibu saya kembali ke Jakarta pada tanggal 6 Maret 2013, relatif saya sangat amat jarang membeli makanan di luar rumah. Mohon maaf tukang nasi goreng, tukang bubur, warung padang di radius rumah saya, Anda semua kehilangan pelanggan yang satu ini haha…

Sedangkan adapun yang boleh dibilang masih tetap ialah rutinitas saya membaca dan menulis. Titelnya boleh sama: membaca dan menulis, namun dalam bobot penekanan saya pikir telah terjadi modifikasi. Dalam membaca misalnya, dahulu saya relatif tidak melakukan perhitungan rigid dalam membaca. Koran menjadi santapan wajib harian, namun ketika membaca buku saya membebaskan diri. Ada fluktuasi dalam pembacaan buku. Terkadang begitu getol dan tekun, terkadang melamban membaca seperti siput ber-harlem shake (apa coba ini analogi). Hari-hari ini saya menskemakan membaca. Mulai dari tadarus, membaca buku, majalah, dan koran. Dengan demikian membaca dengan takaran tertentu menjadi menu wajib saya setiap hari. Dan itu membentuk reading habbit.

Menulis pun mengalami sejumlah modifikasi. Saya memiliki rentang minat yang luas pada berbagai bentuk penulisan. Puisi, cerpen, novel, esai, merupakan ceruk yang dapat saya olah. Permasalahannya terkadang menjadi menggantung dan tidak terselesaikan. Saya pikir itu masih PR besar untuk menemukan equilibrium yang tepat dalam multi tulisan tersebut.

Sementara pekerjaan formal saya juga menulis. Terkadang seperti mesin yang harus dicambuk dalam pekerjaan formal. Logika perusahaan, uang, membaur dalam lembaran kalimat yang saya susun untuk pekerjaan formal. Saya pun kini lebih fokus dan serius dalam merampungkan tulisan pekerjaan formal. Jadi saya juga mohon maaf apabila blog saya ini tidak begitu rutin terisi. Saya masih belajar untuk mencari titik keseimbangan antara pekerjaan formal dan proyek personal.

Yang menyenangkannya dalam menulis belakangan ini adalah saya merasa kemampuan menulis saya semakin liat. Baik dalam kecepatan, daya tahan, kualitas. Saya pikir itu adalah berkat dari latihan sekian jam yang saya lalui dengan menulis. Jam terbang menulis saya semakin tinggi. Saya cukupkan dulu sampai sini untuk edisi artikel kali ini.

Bagaimana dengan hidup Anda? Apa yang stagnan dan mengalami perubahan? Perubahan positifkah yang Anda lalui?

About these ads

About kertaspasir

Suka menulis dan membaca
This entry was posted in Aku. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s