Posted in novel, sastra

PROLOG

Api melahap bangunan seisi kota. Hawa panas menyengat, mengikat partikel-partikel udara. Kobaran api membumbung, menggeruskan pilar-pilar keagungan Avarsia. Kota V, ibukota Avarsia telah jatuh ke tangan Resistance, chaos terjadi di seisi kota. Pada waktu itu istana kerajaan telah disusupi para pemberontak. Aula utama menjadi saksi bisu pertarungan kelompok Resistance dengan anggota kerajaan.

Hantaman detonasi api lontarkan perisai Ardova, ia mundur sekejap. Torbinski terlihat dengan busana putih-putih, seolah melambangkan kesucian misi balas dendamnya. Torbinski terlihat begitu lugu, manis,agung layaknya elf dalam kisah-kisah epik namun di balik penampilan wajahnya, ada magma pembunuh yang senantiasa membara.

“ Api, abu, pembalasan telah tiba di pintu gerbangnya,” lantang Torbinski di aula utama.

Ardova menatap langit melalui kubah kaca Minatrium. Benarkah semua kekhawatiran akan terjadi. Pemberontak akan menang, kota akan jatuh, huru hara akan meliputi Avarsia? Tanya itu mengambang di udara. Beberapa detik kemudian, dari kubah kaca Minatrium, ledakan besar terjadi. Sekejap kubah kaca itu menjadi serpihan yang siap menghujam menuju bumi. Ardova tertegun, dirinya tepat berada di tengah repihan kubah kaca yang siap memenuhi daya gravitasinya…

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s