Posted in Resensi Buku, Sejarah

Kutu Buku (47 Museum Jakarta & Sang Penyihir Dari Portobello

47 Museum Jakarta, Edi Dimyati, Tebal:316 halaman

Ada yang punah bersama waktu. Tenggelam, tersesat arah dan teredam bunyinya. Kita pernah mengenal sejarah pembakaran kota, pembakaran buku, pemusnahan ide-ide ulung yang monumental. Museum pada akhirnya bukan sekedar bangunan hampa beserta sejumlah artefak yang nirmakna, melainkan seperti dituturkan oleh Edi Dimyati bahwa di dalam museum, kita bisa menemukan kisah panjang perjalanan sejarah. Kita bisa belajar soal kejayaan, kegemilangan, masa keemasan bahkan kepedihan, keruntuhan serta keterpurukan sebuah bangsa. Dari museum pula kita bisa mendapatkan banyak pesan sakral, pikiran, ide kreatif, cita-cita dan karya fenomenal.

Menurut hemat saya buku ini amat layak dikonsumsi. Kenapa? Dikarenakan memberikan pembahasan dalam bahasa yang akrab, serta menguak sejumlah data dan fakta mengenai museum yang bertebaran di Jakarta. Dalam buku ini diklasifikasikan museum-museum berdasarkan seni, ekonomi, etnografi, flora&fauna, iptek, militer, olahraga, politik, religi, sejarah. Ada hal yang cukup menyiratkan pemahaman saya betapa begitu banyak museum yang termaktub di Taman Mini Indonesia Indah. Museum yang ada di TMII mewakili beberapa genre. Taman Mini Indonesia Indah sendiri dibangun di era Soeharto sebagai perwujudan dari miniatur Indonesia yang beragam dan kaya dengan segala ragam budaya dan sejarah. TMII merupakan contoh dari obsesi keabadian para pemimpin Indonesia. Era Orde Lama di masa demokrasi terpimpin, Soekarno dengan sejumlah proyek bangunan mercusuar untuk menegaskan kedigdayaan Indonesia (beberapa diantaranya baru rampung di era Orde Baru seperti masjid Istiqlal); Era Orde Baru pun memperlihatkan kesetipean karakter merindu gaung di keabadian dengan sejumlah museum yang terpapar di TMII (museum purna bhakti pertiwi, museum prangko Indonesia, museum listrik&energi baru,dsb).

Terdapat sejumlah fakta menarik yang dipaparkan oleh Edi Dimyati dalam buku ini. Banyak kiranya museum yang terasa asing di telinga namun mampu memberikan perspektif yang dinamik bagi kehidupan kita. Museum Harry Darsono diantaranya yang bergaya bangunan Baroque; Museum layang-layang yang memaparkan berbagai fungsi dari layangan dengan bentuk yang beraneka ragam; museum purna bhakti pertiwi yang memamerkan sejumlah cenderamata yang diperoleh Soeharto selama menjabat sebagai presiden RI; museum BI dengan high-technya yang menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia dari masa ke masa, dan lain sebagainya.

Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto yang memungkinkan kita untuk menyentuh museum dengan secara lebih dekat. Di halaman-halaman awal juga diberikan profil komunitas yang cukup intens dan peduli dengan keberadaan museum yakni; Sahabat Museum, Komunitas Jelajah Budaya, Komunitas Historia Indonesia. Mengunjungi museum dengan komunitas-komunitas tersebut tentunya memperoleh nilai lebih berupa panduan mengenai museum secara lebih komprehensif, beberapa ruang yang tertutup dalam museum dapat kita singgahi (seperti yang saya alami ketika ikut dalam kegiatan komunitas jelajah budaya yakni night time journey at museum dimana saya dapat naik ke tingkat tertinggi dari museum bank mandiri- melihat pemandangan dari atas atap yang mengagumkan).

Buku ini menarik dikarenakan segmentasinya yang jelas yakni museum. Saya percaya pada akhirnya penduduk Jakarta akan mengalami “kejenuhan hiburan”. Titik kejenuhan hiburan manakala penduduk Jakarta mulai jenuh dengan hiburan berupa pergi ke mall, nonton di bioskop, makan di fastfood atau restoran, ataupun menonton sejumlah pertunjukan konser. Dalam hal ini museum memberikan dimensi yang berbeda; anda dapat terhibur dengan pergi ke museum sembari menambah daya pengetahuan tentang berbagai hal, anda dapat melihat bagaimana Jakarta tempo dulu dengan melihat film buatan belanda, anda dapat menyantap hidangan yang disantap para pembesar belanda seperti rijsttafel ataupun anda dapat memasukkan file tembang lawas dengan mendengar musik tempo baheula.

Terkadang untuk menjalani masa kini dan mendatang kita perlu menengok masa dahulu. Agar memberi kita arah, pembelajaran dan tidak mengulang kesalahan. Museum bukan sekedar bangunan bersejarah dengan benda-benda bersejarah yang usang dan tidak ditoleh oleh warganya. Mari kita selami kekayaan negeri dengan mengunjungi museum, harga tiketnya juga murah dan terjangkau, dan mampu memberikan corak warna yang berbeda bagi kita.

Terima kasih…sampai jumpa di museum…

Sang Penyihir Dari Portobello, Paulo Coelho, Tebal:307 halaman

Membaca buku ini saya sudah mendapat wanti-wanti prolog yang kurang mengenakkan. Terus terang saya meminjam buku ini, dan opini sumir terlontar dari pemilik buku ini. Akhirnya saya memutuskan untuk meminjam dan meludesi halaman demi halaman, nyatanya menurut hemat saya buku ini tidak semenjemukan yang digadang-gadang teman pemilik buku ini. Pertama kali berkenalan dengan karya Coelho yakni melalui karya legendarisnya the alchemist. The Alchemist menuturkan sebuah cerita yang menyentuh hati dalam kesederhanaan, ketrampilan menggubah kata, dan pesan-pesan sepanjang perjalanan yang dilalui Santiago (tokoh utama). The Alchemist mampu menyentuh sisi roman, religi, sastra, dan pandangan hidup. Lalu bagaimana dengan buku sang penyihir dari Portobello? Kalau ada yang unik dan menarik dari buku yang satu ini ialah bagaimana Coelho mencoba menceritakan Athena (tokoh utama) dari sudut pandang orang-orang di sekitarnya. Dari sudut pandang teman, orang tua, guru spiritualnya, suami, dan lain sebagainya. Bagi saya pendekatan penceritaan ini menarik. Ini seperti kehidupan nyata dimana masing-masing kita dilumuri sejumlah komentar, pendapat, opini mengenai siapa kita. Kita tidak sedang berada dalam ruang pengadilan untuk membantah, menggugat, dan meluruskan sejumlah pemikiran yang keliru mengenai diri kita. Informasi yang asimetris dapat menjelaskan mengapa si A, si B, si C, memiliki persepsi yang berbeda tentang kita.

The Bartimaeus trilogy (karya Jonathan Stroud) dan My name is red (karya Orhan Parmuk) merupakan dua contoh buku yang memaparkan dari sudut pandang pelaku yang berbeda-beda. Dalam The Bartimaeus trilogy dalam satu peristiwa persepsi dari karakter utama bisa sangat diametral seperti ditunjukkan oleh Nathaniel dan Bartimaeus. Beranjak kembali ke buku sang penyihir dari Portobello, justru sudut pandang berbagai tokoh ini menjadi reduksi keindahan substansi buku ini pula. Berbagai tokoh berbeda yang mencoba mengupas Athena, namun dalam eksekusinya saya melihat ada warna suara yang sama antar masing-masing tokoh yang harusnya berbeda. Alangkah eloknya andaikala pembaca dengan benderang dapat membedakan warna suara dari masing-masing tokoh yang berbeda tersebut.

Dari substansi cerita, Coelho memasukkan unsur religi, keindahannya bermain kata-kata, dan perjalanan. Ada nada yang serupa yang saya temui dengan buku legendarisnya The Alchemist. Dari sisi religi bagaimana Coelho menceritakan soal Maria, Hagia Sofia, tari sufisme, juga tentang ortodoks ajaran yang terjadi. Dari keindahan kata-kata dapat kita jumpai di halaman demi halaman dari buku ini. Sedangkan dari segi perjalanan bagaimana Athena menempuh perjalanan untuk mencari arti bagi dirinya, London,Transylvania, Libanon merupakan area yang dikunjungi dalam perjalanan sang tokoh utama.

Kalau ada yang khas dari sentuhan Coelho yakni bahwasanya perjalanan bukan sekedar memberikan persinggahan fisik tapi juga memberi esensi yang lebih mendalam. Dalam perjalanan kita akan menemui dinamika, kekayaan dan keragaman budaya serta manusia dengan sejumlah persepsi yang membentuknya. Bagaimana manusia yang berusaha menjadi arti mengumpulkan mozaik demi mozaik kebermaknaannya di bilangan waktu dan tempat.

Dalam Sang Penyihir dari Portobello bagaimana Athena berusaha untuk menuangkan cintanya kepada pasangan, anak, sahabat, dan lingkungan. Keinginan dan keresahannya telah membawa Athena pada sejumlah dilema dan permasalahan. Seperti dituturkan di awal buku- Tak seorang pun menyalakan lampu untuk kemudian menyembunyikannya di balik pintu: keberadaan cahaya adalah untuk menghasilkan lebih banyak cahaya, untuk membuka mata orang-orang, untuk menyingkap hal-hal menakjubkan yang ada di sekitar- Potongan kalimat tersebut dapat memberikan resume singkat mengenai pesan yang ingin disentuh dari buku ini. Bagaimana Athena yang tercerahkan berusaha untuk menularkan kecerahannya dan menyingkap hal mengagumkan yang ada dalam keseharian dan di sekitar. Meski menurut hemat saya merasa tercerahkan dan berbagai metode yang dilakukan Athena mengulik memori saya mengenai berbagai sekte sempalan dan menyimpang dari arus agama besar yang telah kita kenal. Memang disisipkan pesan untuk mengkritisi agama besar yang telah termapankan saat ini dalam kehidupan sosial dan kehidupan keseharian. Disini menunjukkan adanya kebutuhan spiritual yang dibutuhkan manusia.

Terakhir buku ini cukup sastrais dan mengurai banyak pesan meski para pembaca (saya mewanti-wanti pula disini) untuk tetap mengkritisi dengan kritis mengenai berbagai hal dan metode yang dilakukan oleh Athena dan para pengikutnya. Selamat membaca dan jangan tanggalkan daya kritis anda. Terima kasih.

 

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Kutu Buku (47 Museum Jakarta & Sang Penyihir Dari Portobello

  1. Ayo-ayo, mari kita mengunjungi Museum Harry Darsono!!😀😀 . Butuh minimal 12 orang nih, mari bergabung menjadi pengikut gw hehehe😀

    Tentang Sang Penyihir dari Portobello, bagus ga bukunya? Sama seperti The Alchemist-kah? Klo saya baca di resensi anda, sepertinya buku itu menceritakan tentang aliran sesat yah, sepertinya pembahasan di bukunya terlalu berat, apalagi kalimat penutupnya “jangan tanggalkan daya kritis anda” :p .

    1. @arkden: donasi 185.000 talangin dulu aja
      Soal Sang Penyihir dari Portobello klo menurut saya bagus secara sastra, segi penceritaan yang unik (dari orang2 yg terkait tokoh utama). klo dibandingkan dgn the Alchemist saya condong lebih tertarik pada the alchemist.ada persamaan seperti perjalanan mencari jati diri tapi the alchemist lebih cerah,romantis dibanding sang penyihir dari portobello.iya athena tokoh utama memberikan pencerahan dg metode yg tidak lazim dari agama besar dunia yang kita kenal;hal ini agak setipe dg sang nabi dari kahlil gibran.saran2 yg diberikan athena si tokoh utama mengingatkan saya pada kisah sang nabi kahlil gibran (bahasanya indah memabukkan secara sastra dan memberi pesan universal).jangan tanggalkan daya kritis anda karena metode2 yg dilakukan athena bersama pengikutnya tdk lazim dan ditentang oleh kelompok kristen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s