Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Fragmen Waktu

(Sebuah Corat-coret di kala menunggu sobat)

Ingatanku pulih. Setelah kekuatanku dirampas oleh para ksatria kelam. Kini aku berada di dalam kondisi letih, lemah, dan menjemukan. Aku berada di bilik sederhana kini. Seluruh tulangku rasanya dirambati ngilu. Beginilah rasanya sensasi dirampas kekuatan oleh para ksatria kelam. Secara fisik benar-benar seperti berada di palung kelemahan. Secara mental aku teramat terluka. Segala kekuatan yang kutimba, kucicil untuk menjadi seorang ahli tarung kini berada dalam titik nir, titik hampa. Segala kemasyhuran yang sempat singgah di langit pikiran mimpi kini terhempas, terjungkal, tersungkur. Apa yang salah denganku? Atau ini hanya peristiwa acak yang dapat menimpa setiap ahli tarung?

Pikiranku mulai meraba perlahan keadaan. Akalku kini mulai mengais langkah, mencoba memetakan kemungkinan jejak yang bisa kuambil. Pikiranku bergerak mundur ke fragmen waktu kala kekuatanku (sialnya) terampas. Dan pikiranku tiba di fragmen malam itu. Aku sedang menikmati makan malamku. Kepungan hidangan memenuhi meja makan. Restoran La Te memang selalu menyajikan menu secara spartan dan simultan. Hmm…udara disesaki harumnya aroma makanan. Aroma keju, bawang, cokelat, kuah, …tapi sekonyong-konyong aroma sedap itu terdistorsi gelisah. Sekejap seluruh kaca restoran La Te pecah berantakan dengan suara deras. Para ksatria kelam datang. Mereka menggunakan setelan kebanggaan mereka, baju abu-abu, celana abu-abu, lencana bergambar kerucut dalam kubus, dan tentu saja topeng perak. Mereka berdiri dengan arogan dalam jangkauan jarak 5 m dari pintu utama. Panik, takut, cemas segera bertalu-talu melihat kondisi kaca yang berhamburan mengenaskan ditambah kedatangan tiba-tiba para ksatria kelam.

Restoran La Te dengan tunggang langgang ditinggal para pengunjungnya plus para kru restoran (dari mulai cheff dengan topi masak meningginya hingga pelayan dengan wajah pias). Para ksatria kelam tidak mengincar mereka, tapi mengincar Aku. Dan aku tahu para ksatria kelam memiliki seorang pengintai tenaga. Si pengintai tenaga ini merupakan elemen krusial bagi segenap misi ksatria kelam. Pengintai tenaga memiliki kapasitas untuk mendeteksi keberadaan kekuatan para ahli tarung. Aku tidak tahu seberapa luas daya endus pengintai tenaga, tapi aku yakin dalam radius sekarang, keberadaan kekuatanku positif terlacak. Jadi percuma saja berhamburan seperti orang kebanyakan. Aku memilih takzim dengan hidanganku, menikmati setiap jengkal sensasi rasa melewati tenggorokan.

Sambil dalam ketakziman, aku menimbang pikiran, mengurai langkah-langkah yang akan kuambil dalam pertarungan yang akan siap meledak ini. Aku tahu seperti membalik halaman sebuah buku, para ksatria kelam ialah kelompok petarung yang tangguh, gemar eksebisionis jika menghadapi lawannya, serta piawai mengolah kemampuan mereka dalam menghadapi tipikal lawan yang berbeda. Ini benar-benar akan menjadi pertarungan yang sulit bagiku.

“Kami akan menjadikan nasibmu seperti remahan kaca menjijikan ini”ujar seorang dari ksatria kelam sembari menumbuk repihan kaca dengan ujung sepatunya. Yang mengujarkannya kupikir adalah pemimpin mereka. Antiknya warna yang keluar begitu lembut di udara, tapi reputasi ksatria kelam bukanlah para penyuguh seni, mereka adalah kelompok tarung yang siap melahap musuhnya bagai bunga berwarna yang seketika menjadi bunga merangas sekarat kehilangan warnanya.

Denting suara sendok dan garpu terdengar lemah. Aku pun menyeruput kopi perlahan. Dan bangkit dari tempat dudukku. Aku takkan berpanjang kata karena mereka pastinya berhasrat menguji derajat kemampuan tarungku. Segera aku mengalirkan tenaga ke ujung jari dan membelah udara dengan satu gerakan tangan untuk membuat perisai.

“Membuat perisai …haha…pilihan yang menarik, kebanyakan musuh kami langsung menyerang kami dengan hantaman tenaga kuat, tapi kau malah memilih untuk bertahan, kalau begitu izinkan kami menyerang”ujar si pemimpin dengan warna suara ceria.

Mula-mula bumi tempatku berpijak bergetar, lalu sebuah sabetan tenaga menguji perisaiku. Perisauku masih kokoh. Setiba-tiba hantaman tenaga beruntun menyerangku, sahut bersahut serangan mereka, dan mereka pun berpencar. Segera aku menata mataku untuk memindai keberadaan mereka semuanya. 1..2..3..4..5..6..dimana satu lagi dari mereka? Giliranku menyerang. Serangan pertamaku ialah mengirim masing-masing dari mereka dengan detonasi api. Ada yang membuat perisai, melompat menghindar, mengeluarkan kekuatan es. Aku memang tidak berharap serangan pertamaku akan berhasil meringkus mereka semua. Aku hanya ingin mengacaukan gerak mereka.

Lalu aku membentuk cemeti api mengejar seorang ksatria kelam. Dia meloncat dari satu meja ke meja lainnya. Mula-mula aku terlihat ingin menyasar tubuhnya tapi dengan segera aku modifikasi seranganku dengan memeluk kaki meja sehingga sesosok ksatria kelam yang gemar meloncat itu terjatuh dengan bunyi brak keras. Begitu dia jatuh segera cemeti apiku melilit tubuhnya dan kubesarkan volume kekuatan apiku. Jadilah dia terbakar sekujur tubuh. Satu lawanku telah tumbang bermandikan api.

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Fragmen Waktu

  1. Setelah sobatmu datang, ceritanya pun telah tamat pula… mestinya sobatmu ga jadi datang aja sekalian biar tuntas hahaha😀

    Btw nice post, saya bayangkan sang Aku itu adalah si Frodo bertemu dengan Ring Wraith. Feel-nya dapat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s