Posted in Sejarah

PELAUT SENJA (PLESIR GARIS PANTAI)

Kali ini perjalanan mengantarkan pada laut. Sesungguhnya Indonesia jika dilihat dari lekuk geografis merupakan wilayah yang banyak ditempati porsinya oleh laut (salah satunya ialah garis pantai di Indonesia yang terpanjang di dunia yakni 81.000 km). Hal tersebut ditandai juga salah satunya oleh lagu nenek moyangku seorang pelaut (hapal lagunya kan??). Perjalanan saya merupakan bagian dari tur dengan komunitas sahabat museum. Perdana kalau dengan komunitas sahabat museum(batmus) bagi saya jika dikaitkan dengan wisata sejarah, sebelumnya pernah ikut dengan KHI dan Komunitas Jelajah Budaya. Tema acara tur sejarah ini plesiran tempo doeloe garis pantai Sunda Kelapa, dengan rute sekitar pelabuhan sunda kelapa. Spot-spot yang dikunjungi yakni:Museum Bahari, Menara Syahbandar, Pelabuhan Sunda Kelapa, Jembatan Kota Intan, Galangan VOC, Jl.Nelayan Timur.

Kesemua spot-spot tersebut ditempuh dengan jalan kaki karena berada dalam wilayah yang berdekatan. Nyatanya sejarah benar-benar memiliki daya pikat yang legit. Jika kita berada di kaki kontemporer kini, maka akan terdapati bagaimana wilayah yang saya kunjungi terdapat kekumuhan, tidak terawat, serta terlunta. Padahal dulunya wilayah yang saya injakkan kaki adalah benteng VOC yang berperan vital bagi denyut nadi penjajah serta tentunya memiliki dinamika kemewahan khas Eropa. Tur kali ini merekonstruksi sisi sejarah dan menghidupkan dalam memori mengenai masa yang telah berlalu dahulu. Di titik kesadaran itulah dibutuhkan ingatan sejarah untuk menjaga segenap cagar budaya dan khazanah dari zaman lawas.

Sejarah bukan sekedar lagu, cerita, maupun bangunan tua melainkan jiwa. Jiwa zaman itulah yang sekurangya saya dapatkan dari tur plesir tempo dulu ini. Perjalanan direncanakan dimulai jam 7.30 pagi, namun dikarenakan ManUtd (tim favorit saya) bermain di FA cup hingga baru selesai jam 2-an dini hari maka hal tersebut berefek pada keterlambatan  stadium satu pada tur ini. Ketika tiba di titik rendezvouz awal di Museum Bahari, ternyata peserta telah terlihat berjalan menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Maka setelah bergegas ke Museum Bahari untuk daftar ulang dan mengambil name tag serta jatah minuman mineral, dengan bertubi-tubi langkah saya pun mengejar ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Ada sekitar lebih dari 100 orang yang ikut, dengan dikawal secara intelektual oleh tiga pemandu yakni Ade Purnama, Lilie Suratminto, Andy Alexander. Gempuran pengetahuan yang diberikan oleh ketiga narasumber semakin valid dengan semacam slide dalam bentuk gambar yang menjelaskan situasi sejarah. Tentunya metode ini memberikan pengayaan bagi peserta tur untuk seakan menyentuh masa penjajahan Belanda doeloe.

Di spot Pelabuhan Sunda Kelapa dijelaskan tentang kedatangan orang Eropa ke     nusantara, pelayaran para Belanda tersebut. Tentu saja era dulu berbeda dengan zaman sekarang. Tidak ada internet, blackberry, facebook, twitter, friendster (loh jejaring sosial antik-haha..). Maka perjalanan dari benua Eropa ke Indonesia bagaikan perjalanan ke negeri entah berantah. Tak mengherankan para pengisi kapal dalam perjalanan panjang tersebut pada episode awal kedatangan Belanda ialah para lelaki semua. Bukan sekedar lelaki tapi orang-orang kriminal, orang buangan ,para pengangguran. Tentunya rempah-rempah menjadi magnet sehingga orang Belanda tersebut berhasrat untuk mengarungi dahsyatnya samudra. Salah satunya ialah lada yang dihargai tinggi (ketika zaman tersebut hanya orang-orang kaya yang dapat menikmati lada karena harganya yang wah dan selangit).

Kedatangan Orang Belanda di Nusantara melalui perjanjian dengan kerajaan setempat di Nusantara. Ada semacam perjanjian antara pihak Kerajaan dan Belanda mengenai hak-hak masing-masing; akan tetapi perbedaan penafsiran tentang perjanjian kerap jadi problematika tersendiri. Inilah wajah hukum ketika diintervensi kepentingan politik, seperti kasus GxxxS (saya tidak akan melebar jauh ke politik kontemporer kali ini).
Yang menarik di pelabuhan Sunda Kelapa seperti dituturkan oleh pemandu Pak Lilie Suratminto ,bentuk perahu Indonesia dari jaman dahulu hingga sekarang praktis sama seperti dicontohkan bentuk kapal pinisi dari Makasar (aneka ragam bentuk perahu dapat dilihat di Museum Bahari).

Tur pun berlanjut ke spot berikutnya yakni tempat dulunya kastil Batavia berada. Sekarang menjadi sederetan ruko kusam dan tanpa artefak sejarah cagar budaya yang menandakan tempat ini dulunya apa. Kastil sendiri berintikan benteng, gereja, barak pelatihan tentara, istana gubernur jenderal, rumah dewan penasihat Hindia Belanda, para saudagar, pegawai, wali kota, para anggota dewan Hindia, kepala seksi akomodasi, pemegang pembukuan, pengacara umum, para kapten, ketua sekretariat, ruang persenjataan, dapur, tempat pembuatan roti yang merupakan makanan pokok warga Belanda, ruangan untuk penjaga penjara dan gudang-gudang, rumah dokter dan apotek.

VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang membangun benteng di berbagai wilayah Indonesia jika ditarik keanggotaannya bukan sekedar orang Belanda, tapi juga ada orang Jerman, Denmark. VOC dibentuk untuk menyaingi EIC (East India Company) punyanya Inggris. VOC dengan kata lain diisi oleh para tentara bayaran dari Eropa. Keikutsertaan para orang Eropa dalam pelayaran jauh ke Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran para mucikari. Para mucikari mencari pemuda yang luntang lantung di pelabuhan, memberi mereka minuman keras, dan dalam keadaan mabuk para luntang lantungers menandatangani dokumen keikutsertaan untuk berlayar. Kombinasi wanita dan minuman keras memang bisa mendatangkan bahaya tak terkirakan.

Seperti disinggung diatas, kastil terdiri dari barak tentara VOC. Ketika VOC sedang jaya-jayanya dan kemakmuran meluap ke kas pada era 1680an, hal tersebut dapat dilihat pada barak tentara yang berlantaikan marmer. Tentunya seperti dicatatkan sejarah, VOC mengalami kemunduran dikarenakan korupsi akut yang melilit di organisasi tersebut. Sebuah pelajaran sejarah dan keniscayaan sejarah bahwasanya KORUPSI merupakan kata destruktif yang wajib dimusuhi. Lalu cerita dilanjutkan dengan menunjukkan slide berintikan seorang pembesar bersama istri dan budak pribuminya. Pada abad ke 17 aliran seni menggambar wanita yang lazim ialah wanita itu gendut serta mengenakan kalung mutiara. Gendut menandakan kecantikan serta kemakmuran. Tentunya konsep kecantikan mengalami berbagai permaknaan. Seperti era sekarang langsing lebih diminati dan diklasifikasikan cantik dibanding yang bertubuh gendut. Lalu cerita berlanjut dengan peraturan di Batavia bahwa untuk urusan buang air besar mewajibkan segenap warganya untuk menyimpannya dalam tong, lalu tong tersebut yang berisi kotoran manusia baru diizinkan dibuang di kanal jam 10 malam.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke spot berikutnya yakni ke titik Fatahillah menggempur Portugis pada tahun 1527 (sekarang dinamakan Jalan Intan). Di Jalan Intan ini dulunya terdapat padrao (semacam memorandum of understanding dalam bentuk batu yang ditandatangani pihak Portugis dan kerajaan di nusantara- padrao ini sekarang berada di museum gajah). Di tempat tersebut juga dulunya terdapat gerbang Amsterdam sebagai pintu masuk menuju kastil. Yang pada era 1950 dihancurkan oleh rakyat Indonesia sebagai manifestasi dari menghancurkan simbol-simbol Belanda yang masih bercokol. Jangan lupakan era 1950 merupakan era Indonesia mencoba untuk berdikari dan masih menggeloranya nasionalisme. Secara ekonomi ada konsep ekonomi Benteng dan konsep Ali Baba serta tahun 1957 dengan nasionalisme perusahaan menjadi milik nasional (dari tadinya milik Belanda). Jadi secara benang merah penghancuran gerbang Amsterdam berada dalam nuansa jiwa tersebut.

Sementara itu di kastil Batavia tepatnya di halaman balai kota merupakan tempat bagi hukuman gantung bagi para pemberontak. Hukuman eksebisionis ini sebagai pesan agar jangan berani mengusik pemerintahan kolonial. Namun event hukuman gantung yang dapat disaksikan oleh rakyat menjadi semacam hiburan tersendiri, sehingga setiap ada hukuman gantung berduyun-duyun orang ramai menyaksikan, tentunya para pedagang ikut menyedot rezeki seperti para pedagang kerak telor. Tak bisa dipungkiri manusia memiliki daya sadisme, bisa dilihat dari hukuman gantung yang ditonton khalayak ataupun di Italia sana melalui ajang gladiator. Selain itu manusia memang membutuhkan hiburan (seperti diperlihatkan dengan event hukum gantung yang menjadi event hiburan massal). Info selintasan lainnya yang dikemukakan pemandu ialah arsitek dari gereja di daerah dekat gedung balaikota (sekarang gereja tersebut menjadi museum wayang) ialah tukang roti. Terkait dengan museum wayang, makam JP Coen (atau diiistilahkan oleh orang Indonesia sebagai Raden Mas Mur Jangkung) konon berada di museum wayang (yang dulunya gereja). Sudah menjadi hal yang lumrah, orang kaya dan berpengaruh menguburkan jasadnya di dalam gereja sebagai bagian dari kemasyhuran abadi yang didamba.

Masih di spot yang sama, pemandu menerangkan tentang para kompeni dengan budaknya. Para budak bertugas memakaikan baju majikannya, juga membawa tempat meludah bagi majikannya (budaya menyirih juga dilakukan para kompeni ini). Banyaknya budak yang mengiringi tentu menunjukkan kekayaan dan seberapa pengaruh kuasa yang dimiliki. Info lainnya ialah soal budaya mandi. Nyatanya orang Belanda terbudayakan jarang mandi. Hal ini dikarenakan kondisi Eropa yang berbeda dengan Negara tropis. Lalu pada tahun 1675 dikeluarkan kebijakan untuk mewajibkan mandi minimal 1 kali/minggu. Hal ini dilakukan sebagai adaptasi dan mencegah berbagai penyakit yang potensial timbul. Masih berkait dengan mandi, dikarenakan jarang mandi maka industri parfum berkembang luas dengan mengggunakan bunga tropis sebagai bahan utamanya.

Perjalanan dilanjutkan ke spot berikutnya yakni Jembatan Kota Intan. Jembatan Kota Intan punya nama lain yakni Juliana bridge dan jembatan pasar ayam. Jembatan ini dulunya bisa terbuka ke atas sebagai tempat lewat kapal dan perahu, namun kini anda sudah mengira tentunya jembatan ini pasif tak bisa terbuka ke atas lagi. Dijelaskan di spot tersebut tentang tembok Batavia dimana daerah di luar tembok masih terdapat harimau, macan, buaya, banteng; sehingga bagi para pembesar Batavia diadakan kegiatan berburu untuk memuaskan hasrat adrenalin. Warga pribumi yang ingin melewati tembok diwajibkan untuk menyerahkan senjata yang dimiliki hingga maghrib ditutuplah gerbang. Sudah lazim era tersebut untuk membawa senjata sebagai perlindungan diri. Seni beladiri pun berkembang dengan berbagai kesaktian yang melingkupinya. Daerah luar tembok Batavia selepas malam seakan memiliki pemerintahan sendiri yang dimiliki para rampok, maling, dan begundalnya. Lalu perjalanan pun dilanjutkan untuk menuju Menara Syahbandar.

Di perjalanan melewati galangan kapal VOC yang menjadi kafe

galangan kapal VOC sekarang. Dulunya galangan kapal VOC ini untuk memperbaiki kapal-kapal kecil, sedangkan untuk memperbaiki kapal-kapal besar ada di pulau Onrust. Sayangnya kafe galangan kapal VOC yang berdiri di tempat bersejarah tersebut terkategorikan sepi pengunjung. Okelah secara arsitektur dan sejarah, tapi posisinya yang jauh dari strategis dan lingkup daerah sekitarnya melemahkan daya ekonomis kafe tersebut. Hal yang berbeda dengan kafe Batavia yang berada dekat Museum Fatahillah, yang berhasil memadukan unsur sejarah dan daya pikat kapitalisme.

Tiba di spot Menara Syahbandar, tempat yang dulunya menjadi bangunan tertinggi di Jakarta. Tempat ini semacam menara pengawas bagi kapal yang hilir mudik di pelabuhan (yang kini namanya pelabuhan Sunda Kelapa). Bangunan ini memiliki derajat kemiringan 2 derajat, bahkan secara kasat mata pun terlihat bangunan ini doyong. Hal tersebut menyebabkan pengunjung yang naik ke Menara Syahbandar dibatasi (maklum mungkin takut doyong bin roboh). Dan saya pun berkesempatan untuk naik ke Menara Syahbandar, menaiki tangga demi tangganya yang termakan usia, serta nuansa kusam dan lesu yang menghinggapinya. Ketika berada di titik teratas nyatalah keindahan. Berpadu hembus angin, juga pemandangan kota, kapal-kapal yang berlabuh, laut, nuansa bahari menunjukkan karakter kuatnya disini. Ada ketakjuban tanpa kata, sehingga saya betah berlama-lama di atas. Dari atas saya mendengar sayup-sayup suara pemandu yang menerangkan tentang tempat ini.

Dan tibalah kita di spot terakhir dalam plesiran tempo doeloe yakni Museum Bahari. Museum Bahari dulunya adalah gudang tempat menyimpan rempah-rempah. VOC menyimpan pala, lada, juga kopi, the, kain sebelum dikirimkan ke bandar/pelabuhan di Asia dan Eropa. Museum bahari menyingkap secara lengkap mengenai dunia bahari. Ada model perahu di nusantara, miniatur kapal, berbagai pernak-pernik yang terkait dengan laut, juga nilai-nilai historis seperti sejumlah foto dan lukisan.

Ada lukisan Malahayati pejuang Aceh yang bersama janda-janda lainnya berperang melawan tentara Belanda. Malahayati memimpin 2000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas) berperang melawan kapal-kapal dan tentara Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal, ia pun mendapat gelar laksamana atas keberaniannya ini.  Jalannya pertarungan menurut pemandu sewaktu saya ikut tur dengan KHI dulu ialah dengan bersenjatakan rencong para pejuang wanita ini menyiram ketakutan ke kubu penjajah diiringi hujan beserta petir yang mengguntur dalam titel sejarah perang tersebut. Lukisan ini konon agak beraura mistis, terus terang dari ukuran lukisannya teramat besar dibanding lukisan lainnya dan kesan hidup terasa pada lukisan Malahayati ini.

Di spot museum bahari kisah pun berlanjut tentang kastil Batavia dimana dikenal istilah menara jaga monyet (dikarenakan relatif tidak menjaga apa-apa selain mengawasi hewan-hewan yang bersliweran). Info singkat lainnya ialah penamaan sejumlah tempat seperti kebon kacang, kebon sirih, kebon jeruk tak bisa dilepaskan dari ditanamnya sejumlah tanaman sesuai nama yang tertera tersebut. Info lainnya terkait dengan komunitas Cina. Pada tahun 1740 terdapat pembantaian besar-besaran pada etnis Cina. Pembantaian ini diprologi dengan pengangguran, overload dari etnis Cina di Batavia, serta munculnya semacam preman-preman Cina di jalan-jalan. Hal ini tak bisa dilepaskan dari pergolakan yang sedang terjadi di Cina sehingga melajukan jumlah eksodus ke nusantara, laju eksodus ini tidak berbanding dengan kemampuan/skill yang dimiliki. Sebegitu dahsyatnya pembantaian sehingga Kali Besar berubah menjadi merah selain itu sejumlah etnis cina akhirnya memeluk muslim awalnya meminta perlindungan bagi warga pribumi untuk kemudian menjadi keunikan tersendiri bagi negeri.

Info lainnya ialah kebijakan dari pemerintah kolonial Belanda untuk membuat bemper yakni yang terdiri dari etnis Cina di Glodok serta dari Portugis di Kampung Tugu. Bemper ini sebagai pertahanan jika muncul pemberontakan dari rakyat dan kerajaan nusantara. Sekilas info yang diwartakan pemandu ialah tentang pembangunan Istiqlal, Soekarno dan Hatta berbeda pendapat tentang pendirian masjid Istiqlal. Soekarno berkeras untuk mendirikan masjid Istiqlal di dekat katedral sebagai perwujudan dari kerukunan dan nilai-nilai Pancasila yang digagasnya. Di spot terakhir ini dijelaskan kastil Batavia dihancurkan oleh Daendels yang pada tahun 1808 ketika dia menjabat sebagai Gubernur Jendral. Hal ini dikarenakan kondisi kota yang sudah tidak sehat, serta wabah penyakit yang menyebar, kanal-kanal mengalami pemampetan. Seni memerintah kota nyatanya memuat banyak aspek termasuk aspek lingkungan hidup dan bagaimana dengan Jakarta sekarang ini?

Padahal pada tahun 1602 dari catatan harian seorang kelasi kapal air di Batavia merupakan air yang terbersih di dunia. Batavia pun pernah menjadi begitu eksotik dengan arsitektur kota yang menawan juga dengan sungai yang menjadi nadinya. Batavia pun pernah dijuluki Venesia dari timur. Keindahan kota Batavia tak bisa dilepaskan karena JP Coen meniru kota Amsterdam dengan membangun belasan kanal. Rumah-rumah dibangun di tepi kanal dengan pekarangan luas. Di tiap sisinya, ditanam barisan pohon yang membuat jalan-jalan di sekitarnya begitu menawan dan tampak sejuk.

Perjalanan secara de jure usai, namun sesungguhnya perjalanan masih terus berjalan. Ada kata sejarah, makna, kontemporer, dan masa depan. Dan kita menjadi sosok dalam kepungan kata tersebut.

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “PELAUT SENJA (PLESIR GARIS PANTAI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s