Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Ardova (Volume 1)

Malam perlahan hadir menggelayuti angkasa. Namun bukan pekat yang akan menjadi latar dari konfigurasi alam. Malam ini merupakan malam perayaan ulang tahun pemerintahan, maka segenap keceriaan sudah mengendus di udara semenjak pagi hingga detik kisah ini bermula. Segenap inci persiapan telah memeluhkan tenaga, menguras biaya, serta menghadirkan varian dekorasi warna-warni. Pemerintah berkuasa akan memusatkan hajatannya di taman Razesia Roli, sebuah taman yang menyimpan nilai historis perihal berdirinya negeri ini. Lampu-lampu telah disusun sedemikian apiknya dengan memperhitungkan estetika serta prestise. Ini adalah malam perayaan pertama di bawah pemerintahan Rain Voux, seorang politisi ulung dengan wajah rupawan. Rain Voux, perdana menteri ke 54 sepanjang sejarah keberadaan negeri Avarsia. Negeri besar dengan eksotisme alam yang membentang di daratan dan lautan, sebuah negeri yang menaungi segenap dinamika etnis yang kompleks.

Ketika kisah ini diceritakan, Avarsia tercatat sebagai Negara kuat dan dipandang di konstelasi dunia. Torduva, Rozulus, merupakan dua Negara kuat lainnya yang ditenggarai berdiri sejajar dengan pengaruh Avarsia. Konflik diantara Negara ini sudah menjadi santapan konstelasi politik yang khas. Di bawah langit biru segenap manusia akan berkompetisi menemukan esensi kejayaannya, seakan sudah menjadi gurat takdir sejati manusia. Avarsia menjalankan roda pemerintahan di bawah perdana menteri yang dipilih langsung oleh rakyat setiap 4 tahun sekali. Sedangkan kepala Negara dipegang oleh raja secara hereditas.

Malam ini Avarsia semarak dengan antusiasme menjelang perayaan ulang tahun pemerintahan. Dahulu kala Avarsia merupakan kerajaan yang mengalami pasang surut dengan salah satu faktornya raja yang berkuasa. Kepemimpinan sejumlah raja yang lemah, membuat Avarsia mengalami sejumlah kemunduran baik secara teritori geografis, pengaruh, maupun kondisi sosial ekonomi rakyatnya. Sebaliknya kepemimpinan yang kuat membawa perluasan teritori geografis, pengaruh, pengerahan angkatan perang, serta pengaruh budaya, sosial, ekonomi ke masyarakat. Adalah Fav Tunnel, seorang tokoh revolusioner yang mengubah kontur pemerintahan negeri Avarsia. Fav Tunnel merupakan kepala pasukan pengamanan raja, yang merancang kudeta 1 hari, dengan melibatkan segenap komponen berkuasa. Fav Tunnel yang berasal dari keluarga petani biasa untuk kemudian menjadi perdana menteri yang memegang kendali roda pemerintahan, sedangkan raja ketika itu Sivasi memegang kepala Negara dengan domain kendali pada budaya, olahraga, seni, pariwisata.

Dengan latar kudeta 1 hari itulah ( kudeta terjadi pada tanggal 31 Desember), setiap tanggal 31 Desember diperingati sebagai ulang tahun pemerintahan. Semenjak Fav Tunnel berkuasa hingga Rain Voux berkuasa, perayaan selalu berlangsung tanpa sela, sekalipun negeri sedang mengalami depresi ekonomi dan perang. Malam 31 Desember dimaknai sebagai prestise Negara, maka kemewahan selalu mengalir bersama hembus perayaannya. Sebagai Negara besar maka hari tersebut merupakan replika dari kemegahan Avarsia. Segenap pentas budaya telah mengisi semenjak pagi dengan melibatkan pembacaan puisi, performa dari musisi kebanggaan Avarsia, serta drama sejarah politik yang memaparkan aliran yang berkuasa saat itu. Di siang hari, kuliner- kuliner khas dari bentangan daerah Avarsia tersedia melimpah di alun-alun kota. Aroma

harum pun bercampur dengan gairah warga negeri yang memadati alun-alun untuk mencicipi kuliner-kuliner terbaik di tangan para maestro masakan di Avarsia. Harum roti Prava dengan kuah pedasnya, keju yang dimodifikasi dalam ragam varian, teh zanik yang menandaskan khasnya daun teh di daerah tinggi Avarsia, merupakan varian wajib yang mengisi menu siang hari.

Pada sore hari kegiatan massal dikosongkan, untuk memberi jeda persiapan menjelang malam 31 Desember. Begitu malam menjelang lampu-lampu ajaib menjadikan kota semarak bagaikan diserbu oleh ribuan kompi kunang-kunang. Kemeriahan berpuncak ketika malam tiba. Hiburan musik akustik, tarian-tarian khas daerah, pertunjukan ahli dari mereka yang terpilih (dengan mengkombinasikan elemen api, es, maupun gerakan telekinesis) menjadi pembuka malam. Pidato haluan kebijakan perdana menteri menjadi titik perhatian rakyat dan para politisi. Pidato tersebut akan memaparkan arah haluan kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah yang berkuasa. Fav Tunnel, diantaranya dikenal dikarenakan kemampuannya untuk berorasi dalam waktu singkat yang menggugah rakyat untuk beraksi, sedangkan Tudinal dengan pidato yang memakan durasi berjam-jam dengan selipan sejumlah puisi dari pujangga ternama maupun gubahannya sendiri.

Malam dibuka dengan penampilan megah dari kelompok komponis Moza Orchestra yang menyajikan musik-musik kebangsaan dengan buaian biola yang memainkan notasi tinggi rendah dalam estetika yang mengagumkan. Lagu-lagu kebangsaaan ini menjadi menu wajib sebagai usaha untuk mengedepankan kebanggan sebagai negara besar bernama Avarsia. Setelah dibuai dengan notasi kebangsaan, penonton diajak untuk menikmati sajian musik kontemporer yang disajikan secara medley. Potongan-potongan lagu dengan aransemen akustik khas gubahan Moza Orchestra memadati ruang-ruang udara dengan keindahan tanpa definisi. Tarian-tarian khas daerah menjadi pertunjukan berikutnya di malam yang bercahaya tersebut. Panggung kayu telah disiapkan dan para penari daerah dengan gerakan ritmis menghentak lantai kayu dengan langkah-langkah tertentu, setiap gerakan memiliki simbol dan makna. Tarian dengan menggunakan piring disajikan, ketika penari dengan lihai mempermainkan piring dari satu tangan ke tangan lainnya serta melemparnya ke angkasa untuk menangkapnya dengan presisi akurat. Kegembiraan juga meyeruak ketika tarian

khas kalangan pertanian disajikan. Tarian ketika panen tiba, menjadi kesempatan bagi segenap warga untuk urun ikut menari di atas lantai kayu. Tarian tersebut bernada dinamis, dengan tawa, hentakan kaki, serta tepukan tangan menghiasi dimensi tarian tersebut. Tarian tersebut juga sebagai simbolisasi syukur akan berkah panen yang melimpah.

Sajian dari mereka yang terpilih, merupakan unjuk ketangguhan, bagaimana elemen kekuatan dan kelenturan bersatu. Siapa mereka yang terpilih? Penjelasannya akan dijelaskan dengan lebih akurat di bagian lain buku ini. Yang jelas api, es, telekinesis ketika disatukan sebagai sajian megah akan menampilkan keindahan yang mengancam. Bentuk pertunjukan tahun ini berupa simulasi perang, bagaimana mereka yang terpilih memiliki keanggunan dalam bertempur. Penonton dibuat terpukau dengan keahlian langka yang ditempa dengan latihan intensif tersebut. Sepanjang sejarah Avarsia, mereka yang terpilih merupakan kelompok elite yang mewarnai konstelasi politik negeri. Sejumlah perdana menteri berasal dari kalangan mereka yang terpilih termasuk Fav Tunnel, serta Rain Voux, dan masih banyak nama lainnya yang berjejer.

(Bersambung)

Posted in puisi, sastra

Bunga Kering

Apakah kau merasa sunyi membuluh di nadi?
Atau sepi yang menjerat di udara tak terkatakan
Semua frustasi yang memburu detak waktumu
Setelah itu hampa
Seumpama perih tak terjelaskan

Di bawah hujan kehilangan warna
Dibalik kabut tersesatkan rasa
Dan titik yang kau gambarkan terputus                  
Terhenti di lengkung ketakjubannya
Tak terselesaikan
Dan kau bernyanyi di melodi minor

Spirit yang kehilangan apinya
Spirit yang kehilangan mimpinya

Bersemayamlah senyum beserta bunga kering
Celoteh cerita menemui tiang gantungnya
Terasingkan tak terpulihkan

Posted in puisi, sastra

Ketika Kau Tersenyum

Ketika kau tersenyum
Mendesakkan mimpimu ke bumi tersungkur ini
Menjejalkan kata-kata sunyi ke dunia berasap ini

Ketika kau tersenyum
Aku merasa asing kini…
Ketika kau tersenyum                                                   
Keindahanmu menghancurkan kini
Membisikkan racun dalam takaran tenang
Mengalir di nadi
Mendekam lalu mengkudeta kesadaran
Nafas pun terbelenggu

Apakah ini kamu?
Seseorang yang kunanti di pertukaran masa
Seseorang yang menginspirasi
Menarik kelam dari langit jiwa
Meniupkan kata-kata pembebasan

Posted in novel, sastra

Racevel (Volume 1)

Semuanya berawal dari pertanyaan. Dan kisah ini dimulai, dijalin dari anyaman emosi, kekuatan harapan, dan ilusi delusi. Inilah kisahku. Terpapar melewati purnama waktu. Tentang cinta. Tentang roman. Tentang kata. Dari mana kisah ini harus dimulai..aku bertanya pada pena dan tinta yang kulihat terdiam. Kata-kata pertama dan halaman-halaman awal adalah tirai pembuka dari karnaval cerita. Penting, meski bukan segalanya. Maka kumulai cerita ini dengan mozaik ingatan yang satu ini…

Aku masih memandangnya dengan penuh harap..cinta yang bersenyawa dengan waktu..aku masih menginginkannya begitu erat..cinta yang bersenyawa dengan pagutan..aku terkadang kehabisan kata di depannya..kehilangan cerita yang mampu baginya untuk menolehkan kepalanya..menatap mataku sejenak..mendengar kisahku yang entah bagaimana..aku masih memandangnya dari kejauhan saat berdekatan.

Saat itu malam hari dan aku masih terpaku diantara lembah imajinasi, tokoh, dan cerita yang kurekonstruksi. Aku selalu suka malam. Seakan menyembunyikan segala luka yang menganga dan terberat. Malam membuatku menemui ruang-ruang kontemplasi. Malam membuatku jujur dari segala topeng-topeng yang berseliweran kala matahari menyinari. Saat malam adalah saat gilaku bersama karyaku. Aku adalah seorang sastrawan. Namaku Racevel. Umurku kisaran 20-an. Seperti pemuda pada umumnya aku sedang mengejar mimpiku dan satu kata yang kerap hadir dalam karyaku yakni cinta. Cinta..hei kata itu bukan sekedar kumparan huruf tapi sukar dimengerti atau terlalu sederhana. Aku selalu tidak puas dengan definisi dangkal dari kamus bahasa tentang cinta. Kurasa penyusun kamus bahasa itu tidak mampu menyelami jengkal demi jengkal makna yang tersusun dari kata cinta. Penyusun kamus gagal untuk menyelami kedalaman cinta, keagungannya.

Beginilah aku, hidup dari menjual roman. Menjual kata-kata, imajinasi, pengalamanku. Aku selalu suka menulis. Menulis bagiku mengalirkan energi. Aku bisa berbagi. Aku bisa bermimpi. Aku bisa terbang. Aku bisa lari dari bumi yang menghalangi daya jelajahku. Aku bisa menjadi aku. Aku bisa menjadi yang lainnya. Aku menikmati benar tokoh-tokoh dalam ceritaku. Aku memasukkan pikiranku dalam tokoh-tokoh itu. Tokoh-tokoh itu menjadi refleksi dari kanal pikiranku. Dan kalian tahu ada kepuasan tersendiri ketika orang-orang mengatakan karyamu bagus. Kata-katamu puitis. Kisah ini inspirasional. Bukan berarti aku menafikan kekuatan materi, tapi terkadang aku butuh lebih dari itu. Pengakuan akan karya. Nyala api yang membuatku mengarungi malam, memutar otakku, menggerakkan tanganku untuk melukiskan kata-kata dan menjadikannya samudera cerita.

Seperti kisah dari novel terbaruku yang sedang kususun ini. Aku mengkreasinya dari menggabungkan pengalamanku dengan daya fantasiku. Pengalaman memberi kuas jiwa bagi cerita sedangkan fantasi memberikan kejutan dan membuat cerita menjadi menarik dan laik untuk disantap. Apakah aku selalu lancar dalam menulis? Tiada juga terkadang aku menemui dinding-dinding tebal. Mood, kebosanan, inspirasi yang putus, jika aku menemui hal itu maka aku harus menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sendiri. Menemukan kekuatan dari perjalanan. Berdialog dengan diri sendiri.

Aku mengemasi peralatan tulis dan kertas, rupanya pagi akan menjelang. Kurasa aku akan merebahkan sejenak tubuh ini. Sesaat, karena aku punya janji perjalanan hari ini. Selamat beristirahat.

Terlelap sejenak mengembalikan daya ketahananku. Aku punya janji hari ini, sebuah janji perjalanan dengannya. Hari ini tepat 7 bulan yang lalu kami pertama kali bertemu dan berkenalan. Kurasa dia tidak mengingat sudah 7 bulan terjadi korelasi antara kami. Namanya Kirana, sesosok keindahan yang membuat kata-kata terlucuti untuk menjelaskannya. Tak bisakah kukatakan dia indah, teramat indah. Cantik teramat cantik. Baiklah akan kuberikan sedikit deskripsi tentangnya. Kirana memiliki rambut hitam yang indah. Aku selalu menanti ketika angin menerpa mencoba memorakmorandakan rambutnya tapi tiada melainkan menimbulkan kecantikan dengan sudut tertentu. Saat rambutnya tergerai menampik udara untuk sepakat. Terkadang dia merubah tatanan gaya rambutnya, tidak ekstrem memang, namun memberikan dinamika ketakjuban sendiri. Lalu matanya, seakan matanya bicara tentang kecantikan yang sunyi. Saat dia menatapku seketika jantungku berdetak tak beraturan, ada lintasan cepat di otakku. Apakah ini namanya kekaguman?

Sebagai sastrawan, aku menyukai keindahan. Dan Kirana adalah keindahan yang tak jemu-jemu dipandang dalam berbagai sisi dalam berbagai terminologi waktu. Bagiku ketika memutuskan untuk mencintai wanita, aku kerap melihatnya berkali-kali. Jemukah aku ketika melihatnya setelah sekian kali? Seperti kurator yang terpaku di depan lukisannya..mengamati dan menghayati bagaimana sensasi ketakjuban tanpa kata.

Kubuka jendela kamar ini, kota masih diliputi kabut pagi. Ada hening tanpa suara. Aku hanya melamun selama beberapa menit di pinggir jendela. Sebelum memutuskan untuk bersiap menghadapi hari. Siang ini aku akan bertemu dengan rekananku yang mengatur distribusi karya-karyaku, barulah sore nanti akau bersua dengan Kirana.

Dan siang telah tiba dengan segala teriknya. Beruntungnya aku telah berada di ruang dalam sebuah penerbitan buku. Itu dia yang kutemui namanya Arusi, dia pria berumur 30-an dengan wajah berumur 40-an. Arusi tak bisa bermufakat dengan ukuran perutnya yang menggelembung dari pakaiannya. Arusi juga kerap memberikan saran bagi karyaku juga mengenai saran-saran menghadapi kehidupan. Wajar bukan, mengingat dirinya telah menghirup oksigen lebih lama di bumi ini dibanding diriku.

“Nampak cerah mukamu,”buka percakapan dari Arusi.

Aku tersenyum dan balik berkata, “Macam peramal dirimu, bagaimana dengan karya terakhirku? Sudah berapa laku terjual?”

“Macam baru kenal kau, aku tahu air mukamu itu, kalau lagi senang, sedih, atau kekurangan duit,”ujar Arusi lalu tertawa berlepasan. “Soal karya terakhirmu mendapat sambutan dari khalayak ramai, suka benar mereka dengan karyamu itu. Tak biasa, lain dari arus utama, berani bermain kata-kata, nah itu sekelumit yang kutahu. Soal pembagian uangnya nantilah, masih dalam perhitungan rupa-rupa, karena mesti dibagi disana sini.”

“Baguslah kalau begitu, aku juga mulai menyiapkan untuk karya selanjutnya. Masih tahap awal, tapi cobalah tengok kalau kebetulan ada masukan.”ujarku. Arusi ini juga merupakan kawan bertukar pikiran dalam berbagai karyaku. Memiliki pembaca sebelum diedarkan menurutku menguntungkan karena aku bisa menyerap arus balik dan tanggapan dalam bentuk mini.

Kuserahkan beberapa halaman yang sepagi ini kutambahi dan kusempurnakan. Aku menyukai presisi dan menurut suatu ilmu aku menuntut kesempurnaan atau dengan istilah lain yakni perfeksionis. Aku selalu menginginkan yang terbaik, nomor 1, dan menjadi terdepan. Begitu juga dengan karyaku yang kerap kupikirkan masak-masak

hingga kupikir telah menemui titik optimal dari suatu karya. Kesempurnaan adalah obsesi dan alasanku. Dan untuk menuju kesempurnaan aku kerap harus berlarut-larut waktu dalam melahirkan kata. Nuansa yang melingkupi juga harus kususun konstuktif untuk menemui kesempurnaan.

Arusi mengambil kacamata bacanya dan mulai menelusuri kata demi kata dari rancangan novel terbaruku. Sementara aku melihat sekeliling. Dari lantai dua sini aku bisa melihat keriuhan kota Luvvaby. Luvvaby merupakan kota impian bagi segenap penduduk negeri Natsuva. Ada begitu banyak alasan untuk menjadikan kota ini magnet ajaib bagi para penduduk dari daerah lain untuk singgah. Kota Luvvaby merupakan kota perdagangan, memiliki banyak taman kota, hidup dengan daya seni dan estetika tingkat tinggi, menjadi pusat olahraga. Kota ini memang tidak menyajikan segalanya tapi segala-galanya bisa berawal dari kota ini. Kota ini bisa menjadi tujuan para pemimpi, yang telah muak berkubang dengan segala kepandiran, kenistaan dan ketidakberdayaan. Dari lantai 2 ini aku bisa melihat pasar kota Luvvaby. Riuh rendah para pedagang yang menyajikan barang dagangannya, para pembeli yang memilah dan memilih untuk mengempiskan isi kantongnya. Dari sini aku bisa melihat arus manusia dan denyut jiwa mereka.

Aku sendiri bukan penduduk asli dari kota Luvvaby, aku adalah pendatang dari kota kecil bernama Klazen. Aku pindah ke kota Luvvaby semenjak aku menginjak kelas pertama di sekolah tinggi hingga sekarang. Kota Klazen merupakan kota kecil yang indah dan sederhana, tapi aku butuh lebih dari itu untuk memenuhi obsesiku, ambisiku, dan segala mimpi yang belum kugenggam. Aku butuh kota yang kompleks yang memiliki daya dukung untuk melambungkan, memvertikalkan statusku ke pucuk terbaik.

Arusi telah berdiri membelakangiku dan menatapku lekat dari kacamatanya. Batuk pelannya menyadarkanku.

“Nampak cerah mukamu”ujar Arusi lagi

“Kau mengatakan kalimat itu untuk kedua kalinya”,ujarku dengan pandangan bertanya.

Arusi tersenyum dan bertutur,”Kalau tadi aku sekilas melihat mukamu sekarang diperkuat dengan novel awal yang kauberikan padaku.tak perlu kau berkilah lagi biar kubacakan puisi dari novel awalmu ini:

 KERTAS PASIR

Kuakui dirimu elokkan perasaan
Kumengerti caramu takjubkan hatiku
Sekejap bibir membeku
Hanya kagumi keindahan ini

Lepaskan perih di jiwa
Bersimpuh tersenyum dengarkan lantun harimu
Terpana pada lukisan emosi yang kauarsir
Konspirasi mimpi yang kau sisipkan
Daya gugah yang kau sematkan
Naluri penjelajah yang kau hembuskan

Kata cinta memantul riang di langit jiwa
Kupegang erat-erat momentum bersamamu
Kuingat kuat-kuat lembar kertas pasir yang kau tuliskan
Sentuhan cintamu hadirkan tenang di jiwa
Sentuhan cintamu terbitkan asa untuk berlari dan bermimpi

 “Puisi macam begini menurutku lahir dari orang yang sedang jatuh cinta. Penuh madu, penuh mimpi, penuh keindahan.”tutur Arusi kemudian.

(Bersambung)

Posted in puisi, sastra

Delusi Pagi

Tikam aku segera
Sebelum luka ini menyebar
Lelapkan aku cepat
Sebelum aku meregang kalah pada keadaan

Ada delusi hitam sambangi jendela jiwa
Ada pertanyaan keparat yang mengusik keseimbangan hati
Ada ragu yang memburu sepi
Ada ragu yang memburu mimpi           
Ada rasa yang tersedak pekat

Percaya?
Enyah saja dari tabir tak berbisa
Sungguh
Luka ini meracuni sekujur diri

Ada sepi tak terjawab
Atau cintaku yang memucat
Sekarat melekat

Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Fragmen Waktu(Bagian 2)

Para ahli tarung memiliki kode etik. Ya…kami petarung, tapi kami bukan level begundal yang cuma berniat menghadirkan darah sebanyak-banyaknya bagi musuhnya. Kami merupakan petarung yang berada dalam klasifikasi petarung yang berperadaban. Kami bukan hanya lihai, dan tangguh dalam seni tarung; tapi kami juga memiliki kadar intelektual, dan kadar intelektual itu memiliki anak cabang yang berguna bagi eksistensi keberadaan kami. Kami merupakan petarung yang memiliki referensi sejarah yang panjang dan agung (meski kuakui tidak semuanya putih, ada catatan hitam dalam referensi sejarah para petarung seperti kami). Salah satu kode etik dalam pertarungan diantaranya ialah dalam pertarungan sekelompok orang versus satu (seperti yang kualami di restoran La Te) yakni kami akan berduel satu lawan satu. Jadi jika aku menghadapai tujuh orang, aku akan bertarung satu lawan satu hingga tinggal tersisa satu pemenang yang bertahan. Tak ada serangan keroyokan. Terkecuali serangan pembuka yang sekedar seperti tradisi berjabat tangan bagi orang kebanyakan.

Ada lagi kode etik lainnya yakni jika sekelompok petarung, dan ada petarung yang     tumbang maka rekan-rekannya diperbolehkan untuk merawat lukanya dan menyelamatkannya dari kematian. Contoh kasus:Pertarungan di restoran La Te. Setelah salah satu ksatria kelam yang gemar melompat itu bermandikan api, seorang rekannya segera menetralisirnya dengan hamparan es sehingga tak lama kemudian api di tubuhnya padam.

Kembali ke arena pertempuran, Sesosok ksatria kelam melompat tinggi, kaki-kakinya segera menjepit kipas angin di atap (kipas anginnya sudah dalam kondisi mati). Ia menelengkan kepala sebentar seakan menimbang kekuatanku. Petarung kedua ini merentangkan tangannya, perlahan butir-butir es menyebar dari pangkal jarinya hingga lengannya. Dia seorang petarung dengan karakter utama, es. Tangannya menyapu udara dan serentak hamparan es terbentuk di lantai bagaikan efek domino. Aku memilih melompat, tak tinggi-tinggi amat sih, guna menghindari sapuan es itu membekukan kakiku. Sekarang seluruh lantai keramik di restoran La Te dilapisi hamparan es. Kakiku sudah kembali menyentuh bumi, dan aku merasakan dingin dan permutasi udara yang menurun. Petarung itu turun dari kipas angin dan lagi-lagi menelengkan kepala sebentar. Mungkin ini kebiasaan yang sudah melekat padanya, gaya menelengkan kepala ini.

Taktik konvensional menghadapi es yaitu api, tapi kalian boleh sebut aku tidak konvensional. Lagian dalam pertarungan, yang harus diperhitungkan bukan hanya diri sendiri, tapi bagaimana musuh. Musuh pasti sudah mengira jika dia menerapkan jurus es maka lawannya(dalam hal ini:Aku) akan menangkalnya dengan jurus api. Tapi Aku bukanlah petarung yang mudah dibaca seperti lembaran buku yang terbuka. Aku enigmatik. Hal-hal seperti ini juga yang menyebabkan dibutuhkan daya intelektual bagi para ahli tarung. Menimbang, berpikir, dan keberuntungan merupakan elemen kata yang senantiasa meliputi duel-duel para ahli tarung.                    

Ksatria kelam kedua yang gemar menelengkan kepala ini, mulai mengumpulkan butiran es di tangannya. Kali ini dia membentuk es dalam bentuk stalagnit. Stalagnit es itu segera menujuku dengan kecepatan 80 km/jam(taksiran kasarku) dan jangan tanya apa akibatnya jika stalagnit es itu menghantam tubuh. Aku bisa menjadi landak es dan rest in not peace. Aku mengcounter serangannya dengan menjadikan meja terdekat sebagai perisai. Aku merebahkan diri, berlindung dengan perisai meja. Dan hujaman stalagnit es mematuk kejam menjadikan meja perisaiku bagaikan landak meja (semoga kalian tidak bingung dengan istilah ini).

Sekarang aku akan membalas serangan ksatria kelam kedua ini. Aku mengatupkan jari telunjuk dan jari tengahku, memusatkan tenagaku pada kedua jari, kulekatkan pada perisai meja. Sekejap serangan balikku terpapar. Sederhana saja kalau kalian mau tahu strategiku, aku ingin mengejutkan musuh dengan menyerang balik, tanpa diketahui jenis serangan yang kulakukan (hei aku terseluput di balik perisai meja). Tepat di titik tengahnya, tenagaku memecah meja dan membentuk sinar es. Sinar es berbeda dengan stalagnit es, sinar es kupilih untuk menjadikan pola seranganku lentur.

(Bersambung)

Posted in puisi, sastra

Bunga Patah Tanpa Warna

Di secarik kertas yang terkusamkan waktu
Tertera mimpi dalam tinta
Diujarkan dalam riuh dan sendiri
Disini pernah ada harapan yang berkejaran
Harapan untuk menjadi gelombang arti

Dengarkan era yang tersurut
Membuka lembar lusuh dari gudang memori
Di secarik kertas yang terkusamkan waktu
Pernah ada rencana demi rencana
Rencana tuk senyum bersambung senyum

Di perhentian stasiun kereta
Ketika hujan menyerap sepi
Mengetuk jendela dalam harmoni simfoni
Tandaskan ulang alik waktu serta perasaan
Ketika lampau riuh rendah dengan gelimang pijar mimpi
Masa kini tertunduk tepi

Relakan mimpi dihanyutkan gelombang karam
Relakan mimpi dibenturkan dinding angkuh lagi lara
Relakan mimpi diserap bumi
Menjadi bunga-bunga patah tanpa warna