Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Fragmen Waktu(Bagian 2)

Para ahli tarung memiliki kode etik. Ya…kami petarung, tapi kami bukan level begundal yang cuma berniat menghadirkan darah sebanyak-banyaknya bagi musuhnya. Kami merupakan petarung yang berada dalam klasifikasi petarung yang berperadaban. Kami bukan hanya lihai, dan tangguh dalam seni tarung; tapi kami juga memiliki kadar intelektual, dan kadar intelektual itu memiliki anak cabang yang berguna bagi eksistensi keberadaan kami. Kami merupakan petarung yang memiliki referensi sejarah yang panjang dan agung (meski kuakui tidak semuanya putih, ada catatan hitam dalam referensi sejarah para petarung seperti kami). Salah satu kode etik dalam pertarungan diantaranya ialah dalam pertarungan sekelompok orang versus satu (seperti yang kualami di restoran La Te) yakni kami akan berduel satu lawan satu. Jadi jika aku menghadapai tujuh orang, aku akan bertarung satu lawan satu hingga tinggal tersisa satu pemenang yang bertahan. Tak ada serangan keroyokan. Terkecuali serangan pembuka yang sekedar seperti tradisi berjabat tangan bagi orang kebanyakan.

Ada lagi kode etik lainnya yakni jika sekelompok petarung, dan ada petarung yang     tumbang maka rekan-rekannya diperbolehkan untuk merawat lukanya dan menyelamatkannya dari kematian. Contoh kasus:Pertarungan di restoran La Te. Setelah salah satu ksatria kelam yang gemar melompat itu bermandikan api, seorang rekannya segera menetralisirnya dengan hamparan es sehingga tak lama kemudian api di tubuhnya padam.

Kembali ke arena pertempuran, Sesosok ksatria kelam melompat tinggi, kaki-kakinya segera menjepit kipas angin di atap (kipas anginnya sudah dalam kondisi mati). Ia menelengkan kepala sebentar seakan menimbang kekuatanku. Petarung kedua ini merentangkan tangannya, perlahan butir-butir es menyebar dari pangkal jarinya hingga lengannya. Dia seorang petarung dengan karakter utama, es. Tangannya menyapu udara dan serentak hamparan es terbentuk di lantai bagaikan efek domino. Aku memilih melompat, tak tinggi-tinggi amat sih, guna menghindari sapuan es itu membekukan kakiku. Sekarang seluruh lantai keramik di restoran La Te dilapisi hamparan es. Kakiku sudah kembali menyentuh bumi, dan aku merasakan dingin dan permutasi udara yang menurun. Petarung itu turun dari kipas angin dan lagi-lagi menelengkan kepala sebentar. Mungkin ini kebiasaan yang sudah melekat padanya, gaya menelengkan kepala ini.

Taktik konvensional menghadapi es yaitu api, tapi kalian boleh sebut aku tidak konvensional. Lagian dalam pertarungan, yang harus diperhitungkan bukan hanya diri sendiri, tapi bagaimana musuh. Musuh pasti sudah mengira jika dia menerapkan jurus es maka lawannya(dalam hal ini:Aku) akan menangkalnya dengan jurus api. Tapi Aku bukanlah petarung yang mudah dibaca seperti lembaran buku yang terbuka. Aku enigmatik. Hal-hal seperti ini juga yang menyebabkan dibutuhkan daya intelektual bagi para ahli tarung. Menimbang, berpikir, dan keberuntungan merupakan elemen kata yang senantiasa meliputi duel-duel para ahli tarung.                    

Ksatria kelam kedua yang gemar menelengkan kepala ini, mulai mengumpulkan butiran es di tangannya. Kali ini dia membentuk es dalam bentuk stalagnit. Stalagnit es itu segera menujuku dengan kecepatan 80 km/jam(taksiran kasarku) dan jangan tanya apa akibatnya jika stalagnit es itu menghantam tubuh. Aku bisa menjadi landak es dan rest in not peace. Aku mengcounter serangannya dengan menjadikan meja terdekat sebagai perisai. Aku merebahkan diri, berlindung dengan perisai meja. Dan hujaman stalagnit es mematuk kejam menjadikan meja perisaiku bagaikan landak meja (semoga kalian tidak bingung dengan istilah ini).

Sekarang aku akan membalas serangan ksatria kelam kedua ini. Aku mengatupkan jari telunjuk dan jari tengahku, memusatkan tenagaku pada kedua jari, kulekatkan pada perisai meja. Sekejap serangan balikku terpapar. Sederhana saja kalau kalian mau tahu strategiku, aku ingin mengejutkan musuh dengan menyerang balik, tanpa diketahui jenis serangan yang kulakukan (hei aku terseluput di balik perisai meja). Tepat di titik tengahnya, tenagaku memecah meja dan membentuk sinar es. Sinar es berbeda dengan stalagnit es, sinar es kupilih untuk menjadikan pola seranganku lentur.

(Bersambung)

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s