Posted in novel, sastra

Racevel (Volume 1)

Semuanya berawal dari pertanyaan. Dan kisah ini dimulai, dijalin dari anyaman emosi, kekuatan harapan, dan ilusi delusi. Inilah kisahku. Terpapar melewati purnama waktu. Tentang cinta. Tentang roman. Tentang kata. Dari mana kisah ini harus dimulai..aku bertanya pada pena dan tinta yang kulihat terdiam. Kata-kata pertama dan halaman-halaman awal adalah tirai pembuka dari karnaval cerita. Penting, meski bukan segalanya. Maka kumulai cerita ini dengan mozaik ingatan yang satu ini…

Aku masih memandangnya dengan penuh harap..cinta yang bersenyawa dengan waktu..aku masih menginginkannya begitu erat..cinta yang bersenyawa dengan pagutan..aku terkadang kehabisan kata di depannya..kehilangan cerita yang mampu baginya untuk menolehkan kepalanya..menatap mataku sejenak..mendengar kisahku yang entah bagaimana..aku masih memandangnya dari kejauhan saat berdekatan.

Saat itu malam hari dan aku masih terpaku diantara lembah imajinasi, tokoh, dan cerita yang kurekonstruksi. Aku selalu suka malam. Seakan menyembunyikan segala luka yang menganga dan terberat. Malam membuatku menemui ruang-ruang kontemplasi. Malam membuatku jujur dari segala topeng-topeng yang berseliweran kala matahari menyinari. Saat malam adalah saat gilaku bersama karyaku. Aku adalah seorang sastrawan. Namaku Racevel. Umurku kisaran 20-an. Seperti pemuda pada umumnya aku sedang mengejar mimpiku dan satu kata yang kerap hadir dalam karyaku yakni cinta. Cinta..hei kata itu bukan sekedar kumparan huruf tapi sukar dimengerti atau terlalu sederhana. Aku selalu tidak puas dengan definisi dangkal dari kamus bahasa tentang cinta. Kurasa penyusun kamus bahasa itu tidak mampu menyelami jengkal demi jengkal makna yang tersusun dari kata cinta. Penyusun kamus gagal untuk menyelami kedalaman cinta, keagungannya.

Beginilah aku, hidup dari menjual roman. Menjual kata-kata, imajinasi, pengalamanku. Aku selalu suka menulis. Menulis bagiku mengalirkan energi. Aku bisa berbagi. Aku bisa bermimpi. Aku bisa terbang. Aku bisa lari dari bumi yang menghalangi daya jelajahku. Aku bisa menjadi aku. Aku bisa menjadi yang lainnya. Aku menikmati benar tokoh-tokoh dalam ceritaku. Aku memasukkan pikiranku dalam tokoh-tokoh itu. Tokoh-tokoh itu menjadi refleksi dari kanal pikiranku. Dan kalian tahu ada kepuasan tersendiri ketika orang-orang mengatakan karyamu bagus. Kata-katamu puitis. Kisah ini inspirasional. Bukan berarti aku menafikan kekuatan materi, tapi terkadang aku butuh lebih dari itu. Pengakuan akan karya. Nyala api yang membuatku mengarungi malam, memutar otakku, menggerakkan tanganku untuk melukiskan kata-kata dan menjadikannya samudera cerita.

Seperti kisah dari novel terbaruku yang sedang kususun ini. Aku mengkreasinya dari menggabungkan pengalamanku dengan daya fantasiku. Pengalaman memberi kuas jiwa bagi cerita sedangkan fantasi memberikan kejutan dan membuat cerita menjadi menarik dan laik untuk disantap. Apakah aku selalu lancar dalam menulis? Tiada juga terkadang aku menemui dinding-dinding tebal. Mood, kebosanan, inspirasi yang putus, jika aku menemui hal itu maka aku harus menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sendiri. Menemukan kekuatan dari perjalanan. Berdialog dengan diri sendiri.

Aku mengemasi peralatan tulis dan kertas, rupanya pagi akan menjelang. Kurasa aku akan merebahkan sejenak tubuh ini. Sesaat, karena aku punya janji perjalanan hari ini. Selamat beristirahat.

Terlelap sejenak mengembalikan daya ketahananku. Aku punya janji hari ini, sebuah janji perjalanan dengannya. Hari ini tepat 7 bulan yang lalu kami pertama kali bertemu dan berkenalan. Kurasa dia tidak mengingat sudah 7 bulan terjadi korelasi antara kami. Namanya Kirana, sesosok keindahan yang membuat kata-kata terlucuti untuk menjelaskannya. Tak bisakah kukatakan dia indah, teramat indah. Cantik teramat cantik. Baiklah akan kuberikan sedikit deskripsi tentangnya. Kirana memiliki rambut hitam yang indah. Aku selalu menanti ketika angin menerpa mencoba memorakmorandakan rambutnya tapi tiada melainkan menimbulkan kecantikan dengan sudut tertentu. Saat rambutnya tergerai menampik udara untuk sepakat. Terkadang dia merubah tatanan gaya rambutnya, tidak ekstrem memang, namun memberikan dinamika ketakjuban sendiri. Lalu matanya, seakan matanya bicara tentang kecantikan yang sunyi. Saat dia menatapku seketika jantungku berdetak tak beraturan, ada lintasan cepat di otakku. Apakah ini namanya kekaguman?

Sebagai sastrawan, aku menyukai keindahan. Dan Kirana adalah keindahan yang tak jemu-jemu dipandang dalam berbagai sisi dalam berbagai terminologi waktu. Bagiku ketika memutuskan untuk mencintai wanita, aku kerap melihatnya berkali-kali. Jemukah aku ketika melihatnya setelah sekian kali? Seperti kurator yang terpaku di depan lukisannya..mengamati dan menghayati bagaimana sensasi ketakjuban tanpa kata.

Kubuka jendela kamar ini, kota masih diliputi kabut pagi. Ada hening tanpa suara. Aku hanya melamun selama beberapa menit di pinggir jendela. Sebelum memutuskan untuk bersiap menghadapi hari. Siang ini aku akan bertemu dengan rekananku yang mengatur distribusi karya-karyaku, barulah sore nanti akau bersua dengan Kirana.

Dan siang telah tiba dengan segala teriknya. Beruntungnya aku telah berada di ruang dalam sebuah penerbitan buku. Itu dia yang kutemui namanya Arusi, dia pria berumur 30-an dengan wajah berumur 40-an. Arusi tak bisa bermufakat dengan ukuran perutnya yang menggelembung dari pakaiannya. Arusi juga kerap memberikan saran bagi karyaku juga mengenai saran-saran menghadapi kehidupan. Wajar bukan, mengingat dirinya telah menghirup oksigen lebih lama di bumi ini dibanding diriku.

“Nampak cerah mukamu,”buka percakapan dari Arusi.

Aku tersenyum dan balik berkata, “Macam peramal dirimu, bagaimana dengan karya terakhirku? Sudah berapa laku terjual?”

“Macam baru kenal kau, aku tahu air mukamu itu, kalau lagi senang, sedih, atau kekurangan duit,”ujar Arusi lalu tertawa berlepasan. “Soal karya terakhirmu mendapat sambutan dari khalayak ramai, suka benar mereka dengan karyamu itu. Tak biasa, lain dari arus utama, berani bermain kata-kata, nah itu sekelumit yang kutahu. Soal pembagian uangnya nantilah, masih dalam perhitungan rupa-rupa, karena mesti dibagi disana sini.”

“Baguslah kalau begitu, aku juga mulai menyiapkan untuk karya selanjutnya. Masih tahap awal, tapi cobalah tengok kalau kebetulan ada masukan.”ujarku. Arusi ini juga merupakan kawan bertukar pikiran dalam berbagai karyaku. Memiliki pembaca sebelum diedarkan menurutku menguntungkan karena aku bisa menyerap arus balik dan tanggapan dalam bentuk mini.

Kuserahkan beberapa halaman yang sepagi ini kutambahi dan kusempurnakan. Aku menyukai presisi dan menurut suatu ilmu aku menuntut kesempurnaan atau dengan istilah lain yakni perfeksionis. Aku selalu menginginkan yang terbaik, nomor 1, dan menjadi terdepan. Begitu juga dengan karyaku yang kerap kupikirkan masak-masak

hingga kupikir telah menemui titik optimal dari suatu karya. Kesempurnaan adalah obsesi dan alasanku. Dan untuk menuju kesempurnaan aku kerap harus berlarut-larut waktu dalam melahirkan kata. Nuansa yang melingkupi juga harus kususun konstuktif untuk menemui kesempurnaan.

Arusi mengambil kacamata bacanya dan mulai menelusuri kata demi kata dari rancangan novel terbaruku. Sementara aku melihat sekeliling. Dari lantai dua sini aku bisa melihat keriuhan kota Luvvaby. Luvvaby merupakan kota impian bagi segenap penduduk negeri Natsuva. Ada begitu banyak alasan untuk menjadikan kota ini magnet ajaib bagi para penduduk dari daerah lain untuk singgah. Kota Luvvaby merupakan kota perdagangan, memiliki banyak taman kota, hidup dengan daya seni dan estetika tingkat tinggi, menjadi pusat olahraga. Kota ini memang tidak menyajikan segalanya tapi segala-galanya bisa berawal dari kota ini. Kota ini bisa menjadi tujuan para pemimpi, yang telah muak berkubang dengan segala kepandiran, kenistaan dan ketidakberdayaan. Dari lantai 2 ini aku bisa melihat pasar kota Luvvaby. Riuh rendah para pedagang yang menyajikan barang dagangannya, para pembeli yang memilah dan memilih untuk mengempiskan isi kantongnya. Dari sini aku bisa melihat arus manusia dan denyut jiwa mereka.

Aku sendiri bukan penduduk asli dari kota Luvvaby, aku adalah pendatang dari kota kecil bernama Klazen. Aku pindah ke kota Luvvaby semenjak aku menginjak kelas pertama di sekolah tinggi hingga sekarang. Kota Klazen merupakan kota kecil yang indah dan sederhana, tapi aku butuh lebih dari itu untuk memenuhi obsesiku, ambisiku, dan segala mimpi yang belum kugenggam. Aku butuh kota yang kompleks yang memiliki daya dukung untuk melambungkan, memvertikalkan statusku ke pucuk terbaik.

Arusi telah berdiri membelakangiku dan menatapku lekat dari kacamatanya. Batuk pelannya menyadarkanku.

“Nampak cerah mukamu”ujar Arusi lagi

“Kau mengatakan kalimat itu untuk kedua kalinya”,ujarku dengan pandangan bertanya.

Arusi tersenyum dan bertutur,”Kalau tadi aku sekilas melihat mukamu sekarang diperkuat dengan novel awal yang kauberikan padaku.tak perlu kau berkilah lagi biar kubacakan puisi dari novel awalmu ini:

 KERTAS PASIR

Kuakui dirimu elokkan perasaan
Kumengerti caramu takjubkan hatiku
Sekejap bibir membeku
Hanya kagumi keindahan ini

Lepaskan perih di jiwa
Bersimpuh tersenyum dengarkan lantun harimu
Terpana pada lukisan emosi yang kauarsir
Konspirasi mimpi yang kau sisipkan
Daya gugah yang kau sematkan
Naluri penjelajah yang kau hembuskan

Kata cinta memantul riang di langit jiwa
Kupegang erat-erat momentum bersamamu
Kuingat kuat-kuat lembar kertas pasir yang kau tuliskan
Sentuhan cintamu hadirkan tenang di jiwa
Sentuhan cintamu terbitkan asa untuk berlari dan bermimpi

 “Puisi macam begini menurutku lahir dari orang yang sedang jatuh cinta. Penuh madu, penuh mimpi, penuh keindahan.”tutur Arusi kemudian.

(Bersambung)

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s