Posted in puisi, sastra

Adalah Kata

Adalah kata, berhenti di sudut tanpa makna

Adalah kata, berhenti di sudut tanpa jiwa

Advertisements
Posted in puisi, sastra

Bunga Kering

Apakah kau merasa sunyi membuluh di nadi?
Atau sepi yang menjerat di udara tak terkatakan
Semua frustasi yang memburu detak waktumu
Setelah itu hampa
Seumpama perih tak terjelaskan

Di bawah hujan kehilangan warna
Dibalik kabut tersesatkan rasa
Dan titik yang kau gambarkan terputus
Terhenti di lengkung ketakjubannya
Tak terselesaikan
Dan kau bernyanyi di melodi minor

Spirit yang kehilangan apinya
Spirit yang kehilangan mimpinya

Bersemayamlah senyum beserta bunga kering
Celoteh cerita menemui tiang gantungnya
Terasingkan tak terpulihkan

Posted in puisi, sastra

Aku Harap Aku Menemukanmu

aku harap aku menemukanmu
diantara bayangan duka
di balik konfirmasi luka

menari di sela melodi yang monokrom ini
bebaskan dari stagnasi hari
aku harap aku menemukanmu
mengubah hariku menjadi penuh pijaran

rotasi bisu yang bekuk imajinasi
dan senyummu terhenti tepat di jantung jiwa
warnai bintang penuhi benderang
aku harap aku menemukanmu

katakan kata pengharapan
kertas dalam botol di laut lepas
menanti si jiwa pengubah
aku harap aku menemukanmu
bertahan bersamaku di sisi badai

aku harap aku menemukanmu
ku harap menemukanmu
menemukanmu harapanku
harapanku

Posted in puisi, sastra

Di Tangan Luka

Seperti pagi yang menghilang
Seperti sepi yang menjelang
Seperti cinta yang temaram

Aku terhenti di jarum jam kusam ini
Meratapi puing-puing terhenti di pangkuan
Menatapi relung-relung terlunta

Tempatku menepi punah dilahap kemarau
Kehampaan hati
Luka yang mendera
Cinta yang memudar

Hatiku terseret nelangsa
Terjatuh dan terhempas
Terluka dan berdarah

Seperti pagi yang menghilang
Seperti mimpi yang mati di tangan cinta

Posted in puisi, sastra

Apakah Cinta

Apakah cinta yang menyadarkanku
Di kala limbung hatiku
Di kala surut binarku
Di kala dunia meringkuk menekuk

Apakah cinta yang menyakinkanku
Di masa berkabungnya jiwa-jiwa perih
Menepi di rintihan hari
Bertanya-tanya tentang makna kelu kehidupan

Apakah cinta yang mengertikanku
Di saat tatapan-tatapan bisu kelabu menjelang
Di saat suaraku tak terdengar ditelan gemuruh
Di saat angin utara berbalik menyesatkanku

Apakah cinta yang menjawabku
Di kala luka menandu tanya
Di kala terbujur bisu

Posted in puisi, sastra

Pantai

Di bibir pantai aku mendengar desir damaimu
Terbawa angin melintas lintas
Kuberjalan tapaki pasir putih
Langkah senyap dalam jejak terhapus ombak
Angin malam menjerat pikiranku
Mengarus untuk kemudian surut

Betapa cinta mengusik renung kontemplasi
Merangkai kata dalam sunyi malam
Menimba tanya dalam purnama cahaya
Terbangkan pundi-pundi keajaiban

Di bibir pantai aku merapuh
Pandangi keindahan tak jenuh jenuh
Meredup sunyi
Meredam mimpi
Gelombang bisu tawan hatiku
Buatku menepi
Buatku sepi
Diantara keindahan ini
Ada sepi tiada terbaca