Posted in Edukasi

Menulislah dan Temui Keabadian

The Gods envy us. They envy us because we’re mortal, because any moment might be our last. Everything is more beautiful because we’re doomed. You will never be lovelier than you are now. We will never be here again. (Achilles- Troy)

Kematian adalah kepastian. Sama seperti halnya hukum siklus kehidupan, ada yang hidup dan ada yang menemui kematian. Seperti matahari yang pada akhirnya henti pula, seperti bumi yang pada akhirnya akan menemui titik hancurnya. Pernahkah kita berpikir, jika kita mati pada detik ini, memori apa yang terkenang pada orang-orang yang kita kenal? Memori apa yang terlintas dari orang-orang kebanyakan terhadap kita? Pemikiran terhadap kematian, mungkin dapat menjadi pemicu untuk menulis. Menulis dengan sebenar-benar jiwa, menulis dengan sebenar-benar daya.

Salah satu sumber dari referensi para ahli sejarah dalam merekonstruksi masa lalu ialah dengan melihat bukti tertulis. Bukti tertulis merupakan jejak. Dengan jejak tersebut, sejarah dapat dibangun ulang, direkonstruksi. Beranjak dari hal tersebut, bagaimana dengan kita. Tidakkah menarik jika secara pribadi, kita menyusun jejak pribadi sendiri. Secara sederhana menulis catatan harian, sesungguhnya merupakan upaya peninggalan jejak, usaha untuk menabungkan keabadian. Dalam catatan harian, kita dapat mengetahui apa yang terjadi, apa yang ada dalam pikiran 1 tahun yang lalu misalnya. Kita dengan demikian dapat mengetahui evolusi, perubahan dan continuity yang kita alami.

Menulis juga merupakan upaya untuk melawan lupa. Seperti dituturkan oleh Milan Kundera, perjuangan kita adalah melawan lupa. Dengan menulis merupakan upaya untuk memetakan kata yang selama ini mungkin terlupa. Ada keterbatasan untuk mengingat, dan bukankah Allah Swt menjelaskan bahwa manusia memiliki sifat lupa. Menulis merupakan reminder yang baik. Menulis akan menjadi arah ketika semangat telah terjenuhkan dan berada pada titik nadir.

Menulis juga merupakan upaya untuk mengikat ilmu seperti dipesankan oleh Ali Bin Abi Thalib. Dengan menulis, ilmu yang kita dapati, berkeliaran di pikiran, dapat terkodifikasi, dapat

terbariskan dalam barisan yang rapi. Dengan menulis pula kemampuan belajar kita akan tertingkatkan, karena ada celah ketidaktahuan ketika menulis. Maka celah ketidaktahuan itu, akan memancing kita untuk membaca dan mencari tahu. Terakhir, mari tuliskan keabadian, jangan biarkan jejak, pemikiran kita terlupakan, tersapu debu begitu saja. Selamat menulis…

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s