Posted in puisi

Rumus Kata-Kata

Seperti Rumus Kata-Kata
A+B=C
Aku dan Kamu dalam metamorfosa baru

Advertisements
Posted in Edukasi

Predator Buku

Seberapa gilakah hasrat anda dalam membaca buku? Apakah buku telah menjadi kebutuhan hidup anda? Apakah dari alokasi anggaran per bulan, adakah terlampir kolom untuk membeli buku? Hidup di keluarga yang bertumpukan buku, tidak serta merta menjadikan saya sebagai pecinta buku. Awal mulanya saya hanya tertarik membaca koran dan majalah. Kenapa tidak membaca buku? Di kemudian hari, saya baru menyadari koleksi buku dari bapak saya merupakan kompilasi buku-buku bagus, keren, bahkan langka.

Jika saya boleh berapologi terhadap ketidaklahapan, ketidakgemaran saya membaca buku di durasi terdahulu, rasanya saya mengalami impresi buruk terhadap buku dikarenakan buku pelajaran sekolah. Buku pelajaran sekolah hadir seperti kitab sakti yang harus dihafal para muridnya. Belum lagi setiap harinya, saya harus membawa tumpukan buku itu dalam tas (meski relatif tidak begitu sering saya buka, pelajari isinya, terkecuali menjelang ujian). Kesan saya terhadap buku ialah horor, beban, dan tidak menyenangkan. Bagaimana dengan anda?

Pola pendidikan Indonesia yang tidak ramah terhadap anak didik mungkinlah yang menjelaskan ketertinggalan akut negeri ini dibanding negeri lainnya di dunia. Okelah kita boleh berbangga dengan sejumlah siswa dan mahasiswa yang memperoleh medali di lomba internasional, namun di wajah lain pendidikan ada kemuraman besar terhadap kondisi pendidikan Indonesia. Kemuraman besar itu, menurut hemat saya, tercermin dari tingkat keterbacaan penduduk negeri ini. Berapa judul buku yang habis dibaca oleh rakyat Indonesia? Berapa judul buku yang habis dibaca oleh anda dalam satu tahun?

Buku memang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya bisa berawal dari buku. Buku merupakan jendela pengetahuan. Dunia boleh saja kini begitu datar dan bebas terjadi transformasi ide. Ada kemajuan internet yang begitu dahsyat yang memungkinkan konsep ilmu terketahui secara cepat dan instan. Namun, tetap saja ada celah besar yang tidak mampu dicover dalam ruang pengetahuan kecuali dengan membaca buku. Saya yang mencoba mengakrabi internet sebagai sumber bacaan mendapati betul bahwasanya kerap kali informasi dari internet seperti snack. Seperti snack yakni hanya cemilan pengetahuan, kurang mendalam, dan selintas-lintas.

Cover buku yang bersahabat, tampilan yang ramah, serta bahasa yang dekat dengan orbit pikir, merupakan upaya untuk meningkatkan daya baca. Ada agregasi yang menggembirakan tentu saja, termasuk dengan menjaring para pembaca muda. Meminjam istilah Helvy Tiana Rosa yang menyarankan agar menjadi predator buku. Rasanya konsep predator buku harus digaungkan secara massif. Budayakan membaca, beri waktu dalam sehari untuk membaca- jika perlu buat jam belajar, sekurang-kurangnya dari kita memprakteki membaca dan memberikan “penularan virus membaca” kepada yang lainnya. Dan Indonesia dapat lebih baik lagi. Dan kita tidak perlu lagi menjadi alpa dan lupa akan segala tiranik, maupun praktek pembodohan yang tetap terjadi.

Posted in Edukasi

Menulislah dan Temui Keabadian

The Gods envy us. They envy us because we’re mortal, because any moment might be our last. Everything is more beautiful because we’re doomed. You will never be lovelier than you are now. We will never be here again. (Achilles- Troy)

Kematian adalah kepastian. Sama seperti halnya hukum siklus kehidupan, ada yang hidup dan ada yang menemui kematian. Seperti matahari yang pada akhirnya henti pula, seperti bumi yang pada akhirnya akan menemui titik hancurnya. Pernahkah kita berpikir, jika kita mati pada detik ini, memori apa yang terkenang pada orang-orang yang kita kenal? Memori apa yang terlintas dari orang-orang kebanyakan terhadap kita? Pemikiran terhadap kematian, mungkin dapat menjadi pemicu untuk menulis. Menulis dengan sebenar-benar jiwa, menulis dengan sebenar-benar daya.

Salah satu sumber dari referensi para ahli sejarah dalam merekonstruksi masa lalu ialah dengan melihat bukti tertulis. Bukti tertulis merupakan jejak. Dengan jejak tersebut, sejarah dapat dibangun ulang, direkonstruksi. Beranjak dari hal tersebut, bagaimana dengan kita. Tidakkah menarik jika secara pribadi, kita menyusun jejak pribadi sendiri. Secara sederhana menulis catatan harian, sesungguhnya merupakan upaya peninggalan jejak, usaha untuk menabungkan keabadian. Dalam catatan harian, kita dapat mengetahui apa yang terjadi, apa yang ada dalam pikiran 1 tahun yang lalu misalnya. Kita dengan demikian dapat mengetahui evolusi, perubahan dan continuity yang kita alami.

Menulis juga merupakan upaya untuk melawan lupa. Seperti dituturkan oleh Milan Kundera, perjuangan kita adalah melawan lupa. Dengan menulis merupakan upaya untuk memetakan kata yang selama ini mungkin terlupa. Ada keterbatasan untuk mengingat, dan bukankah Allah Swt menjelaskan bahwa manusia memiliki sifat lupa. Menulis merupakan reminder yang baik. Menulis akan menjadi arah ketika semangat telah terjenuhkan dan berada pada titik nadir.

Menulis juga merupakan upaya untuk mengikat ilmu seperti dipesankan oleh Ali Bin Abi Thalib. Dengan menulis, ilmu yang kita dapati, berkeliaran di pikiran, dapat terkodifikasi, dapat

terbariskan dalam barisan yang rapi. Dengan menulis pula kemampuan belajar kita akan tertingkatkan, karena ada celah ketidaktahuan ketika menulis. Maka celah ketidaktahuan itu, akan memancing kita untuk membaca dan mencari tahu. Terakhir, mari tuliskan keabadian, jangan biarkan jejak, pemikiran kita terlupakan, tersapu debu begitu saja. Selamat menulis…