Posted in Edukasi, sastra

Novel Tak Terterbitkan

Pernahkah anda membaca novel yang tidak terjumpai di toko buku manapun? Dua kali kini sudah saya ludes membaca dua novel yang hingga detik ini, masih berbentuk draft. Novel pertama saya baca ketika SMA dulu. Cerita roman dengan sejumlah nilai kemanusiaan. Latarnya pun menarik, dengan pembahasaan yang tidak biasa. Novel itu konon terkenal di SMA asal sang penulisnya. SMA yang menjadi favorit di bilangan Jakarta Selatan. Saya merasa senang dan beruntung dapat membaca draft dari novel tersebut. Dikarenakan saya mendapati dari teman si penulis. Tanpa editor ahli, tanpa ahli pemasaran, tanpa campur tangan penerbit, draft novel dalam bentuk yang masih puritan.

Saya terus terang tertantang untuk menulis novel pula, ketika mengetahui ada seorang anak SMA yang telah membuat draft novel dengan diksi yang menarik, dengan latar tempat (serta penceritaan tempat yang prima). Draft novel tersebut telah berhasil menantang saya, menggugat waktu untuk menghasilkan sesuatu. Terima kasih saya ucapkan pada draft novel itu.

Draft novel kedua saya terima hari Jum’at yang lalu. Ini lebih dikarenakan konsekuensi dari tempat kerja saya di lingkungan penulisan buku. Secara pribadi saya pernah bertemu dengan penulis novel ini. Seorang bapak lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kami sempat berbincang-bincang ke barat, ke timur, tentang rupa-rupa hal. Menurut hemat saya, beliau memiliki derajat pengetahuan yang cukup luas.

Selepas berbincang, teman di kantor saya berkata, bahwa bapak itu pernah datang ke kantor, menawarkan novelnya, dan ditolak karena kualitas novelnya yang tidak bagus. Novel kreasi dari bapak tersebut pun telah coba dibantu dengan diberikan kepada penerbit yang lain. Jawaban setipe diterima, novel tersebut ditolak karena kualitasnya yang tidak mumpuni. Karakter yang tidak kuat, tidak pandai mengelola peak pembaca merupakan alasan yang dikemukakan oleh penerbit yang kedua.

Setelah tertolak di dua penerbit, novel itu tiba di rumah saya (teman saya membawanya untuk mengembalikan kepada sang penulis novel tersebut). Praktis baru hari Selasa malam dan Rabu malam (19-20 Juli), saya memaratoni membaca hingga tuntas tak kurang dari 163 halaman dari draft novel tersebut. Persepsi yang muncul sebelum saya membaca draft novel tersebut (dikarenakan penolakan dua penerbit) ialah novel ini tidak bagus, namun di sisi lain di pikiran saya bukankah banyak draft novel yang tertolak oleh beberapa penerbit-lalu menjadi novel best seller di kemudian hari. Pikiran saya juga menimbang perbincangan dengan si penulis novel, dimana saya dapati kesan berpengetahuan luas.

Halaman pertama yang berupa kisah singkat dari draft novel itu saya baca, kelihatannya lumayan, dan saya pun meneruskan membaca. Draft novel tersebut menceritakan tentang adanya organisasi konspirasi asing yang bergerak di Indonesia. Organisasi tersebut bersifat internasional, serta menginginkan tata dunia baru yang lebih baik. Cengkraman dari organisasi tersebut bergerak pada tiga wajah yakni lembaga riset, lembaga konsultan keuangan, lembaga sosial.

Sempat berpikir dengan buku Da Vinci Code yang pernah saya baca, merupakan perbandingan baik bagi draft novel ini. Saya juga sempat berpikir ini adalah organisasi gelap yang dikuasai oleh Yahudi dengan teori konspirasi di sana sini. Tapi sayang beribu sayang, yang saya dapati ketika membaca draft novel tersebut ialah karya yang mengecewakan. Begitu banyak kebetulan yang terjadi konsisten dari awal hingga akhir. Novel pun memiliki logika berpikir, dan draft novel ini benar-benar tidak menjalani kaidah logika yang benar.

Kekecewaan membaca draft novel itu berlanjut, dengan penokohan karakter yang lemah. Warna dari karakter demi karakter tidak kuat. Bim (tokoh utama pria) yang merupakan orang cerdas malahan terkesan dipakaikan baju intelektual. Sehingga yang muncul ialah ketidakalamian dalam melihat sosok Bim yang semestinya intelek. Berbeda betul misalnya dengan Andrea Hirata yang begitu jenial memotret kompetensi Lintang. Kita seakan dihadapkan pada Lintang dengan segala kejeniusannya tepat di hadapan kita, dengan presisi akurat.

Sebagai novel yang bertemakan kospirasi, praktis tak ada analisa kritis dan cerdas. Bahkan hingga akhir, saya tidak mendapatkan gambaran yang utuh bagaimana organisasi rahasia internasional tersebut dapat mengintervensi Indonesia secara mendalam. Tak ada analisa ilmiah yang dikemukakan, tak ada bedah kasus yang dihadirkan. Yang ada hanya permukaan pengupasan secara kedodoran yang dibangun oleh si penulis novel.

Draft ini juga seperti gado-gado yang salah. Berusaha memasukkan unsur lucu, menegangkan, politik, ekonomi, konspirasi, namun hasilnya benar-benar menjemukan. Unsur-unsur tersebut gagal diramu oleh penulis menjadi jalinan yang utuh dan cerita yang apik. Jangan tanyakan soal alur cerita. Terkait dengan kebetulan-kebetulan yang terjadi, saya terus terang tidak berselera untuk tahu halaman berikutnya menceritakan apa. Dalam satu resume kata draft novel konspirasi tersebut:”hancur”.

Lalu kenapa saya meluangkan waktu untuk menulis tentang ini semua? Pertama, dikarenakan saya ingin membagi pengalaman membaca novel yang masih dalam bentuk draft, serta tampil begitu orisinil. Kedua, saya ingin membagi cerita tentang dunia penulisan. Apabila seseorang mempunyai karya, nyatanya ada faktor keberuntungan yang menaungi. Kisah Andrea Hirata, merupakan kisah ketidaksengajaan, ketika novel Laskar Pelanginya yang diberikan kepada sobatnya. Lalu, sobatnya memberikan naskah novel tersebut kepada penerbit. Tentu setelah melalui sejumlah perjalanan, hingga kini si Ikal menjadi novelis best seller Indonesia.

Melalui karya pula, JK Rowling beranjak dari kemiskinan yang menerpanya, untuk kemudian menjadi orang terpandang, termasyhur dan populer di dunia. Bahkan JK Rowling yang merupakan kreator dari Harry Potter pun menangguk untung dari divisi lain dari ekstensifikasi karyanya yakni film. Simak data berikut, Film terakhir “Harry Potter” mengguncang rekor box office di seluruh dunia dengan mengantungi 168,6 juta dolar AS dari penjualan tiket di Amerika Utara dan Kanada pada akhir pekan dan hampir 476 juta dolar AS secara global. Di tingkat internasional, film terakhir “Harry Potter” meraih 307 juta dolar di 59 negara sejak peluncurannya pekan lalu. Angka tersebut menuturkan bagaimana ajaibnya “dunia tulisan” yang merambah ke “dunia film”.

Ketiga, tentunya sebagai pembelajaran. Bahwasanya, ada lho karya yang begitu yah…Tentu saja itu merupakan patokan, warning, jangan sampai saya menurunkan tulisan dengan kualitas seperti itu. Tentu saja saya tidak bermaksud merendahkan, menghina, si penulis draft novel konspirasi tersebut. Namun, seperti kata Natsir, “tidak semua orang harus menjadi pujangga.” Tentu saya mengapresiasi kerja dari si penulis draft novel konspirasi tersebut yang telah mengalokasikan waktunya untuk menuliskan karya, untuk memuat ide.

Akhir kata, setiap tindakan memang selalu memancing arus balik. Tergantung kita yang memaknainya. Selamat membaca dan menulis…

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s