Posted in Sosial Budaya

Reuni

Waktu adalah ilusi. Dan kita sering terperangkap dalam ilusi itu:waktu. Bagaimana waktu dapat bersifat begitu relatif. Detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, merupakan perjalanan makna. Kesemuanya adalah pemaknaan terhadap persepsi ataukah persepsi yang memberi makna? Selepas titik bifurkasi bagaimanakah kiranya pemaknaan kita terhadap seseorang. Reuni merupakan kata yang dapat menjadi terminal dari persepsi dan pemaknaan kita terhadap sesuatu. Reuni merupakan persepsi-pemaknaan terhadap keberhasilan, cinta, potret ideal.

Sudahkah anda di bulan Ramadhan ini mendapati undangan reuni bertajuk buka puasa bersama? Apa kira-kira yang beredar di lintas edar pikiran anda? Pamer materialisme, pamer pacar, pamer pasangan, pamer “inilah profil keberhasilan”? Sedikit banyak saya menggugat, mengkritisi tentang reuni. Jangan-jangan reuni merupakan panggung etalase kesekian dari virus akut materialisme dan narsis. Tentu saja saya percaya tentang keharusan menyambung tali silaturahmi, serta efek wow dan ajaib dari persahabatan. Tapi hal kacamata positif tersebut tidak melunturkan skeptisme, pertanyaan saya tentang reuni.

Apa yang ada di benak anda, ketika menghadiri reuni? Kesempatan untuk bertemu cinta lama, kesempatan untuk eksebisionis keberhasilan di tempat kerja yang bonafid, kesempatan untuk menyiarkan status (baik sosial dan lainnya), kesempatan untuk mengupdate berita terbaru tentang para sobat, memverifikasi berita? Ah…begitu banyak kata reuni dapat terhubungkan. Lalu bagaimana dengan reuni tahun ini? Ada baiknya untuk terus memperbaiki diri seiring waktu. Jika dulu reuni menjadi ajang eksebisionis, sekarang dapat dimaknai sebagai temu rendah hati bahwa masih banyak kewajiban kita sebagai khalifah di bumi yang belum tertunaikan. Bahwa kita masih belum optimal mendayagunakan jaring persahabatan untuk memutar turbin kebaikan secara lebih dahsyat dan baik lagi.

Pergi ke tempat reuni dengan akar berpikir yang berbeda, jernih, mungkin akan membantu dalam memperbaiki potret Indonesia secara lebih luas. Ajang reuni tidak sekedar sebagai arena tawa, pamer, konsumsi yang berlebih. Ada masih banyak celah untuk dimaknai dalam kata reuni seperti fungsi sosial. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Menempatkan reuni dalam bingkai yang tepat akan menjadikan kita dapat merestorasi persahabatan, melaksanakan sunnah nabi (bersilaturahmi), menjadikan reuni lebih tepat guna. Selamat bereuni, dan selamat memberi arti.

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s