Posted in Jalan-Jalan, Sejarah

Trem

Saksi sejarah itu kini membisu. Tertinggalkan roda waktu yang dapat membunuhnya. Tapi seperti siklus kehidupan, bahkan yang terpunahkan pun dapat kembali terlahir. Begitulah kiranya yang Saya dapati ketika hari Ahad, 21 Agustus 2011, mengikuti tur Trem Pasar Ikan yang diadakan oleh Komunitas Sahabat Museum. Tema besar acaranya ialah tentang trem. Agenda acara sendiri terdiri dari presentasi yang dilakukan oleh Widioko (Komunitas Sejarah Perkereta apian Indonesia); lalu tur jalan kaki menelusuri jejak dari trem pasar ikan; dan kembali untuk buka puasa di Museum Bank Mandiri.

Trem sempat menjadi alat transportasi yang populer di Jakarta dikarenakan harga tiketnya yang murah serta daya jangkaunya. Trem ibarat kereta api lingkar Jakarta. Trem sendiri pertama kali diperkenalkan pada tahun 1881 di Berlin. Untuk kemudian setelah tahun 1881, trem menjadi alat transportasi yang terdiseminasi digunakan di kota-kota dunia. Jika di Eropa, trem menggunakan jendela lebih tertutup dikarenakan adanya musim dingin disana. Sedangkan di Jakarta, jendela dibiarkan terbuka sebagai sirkulasi udara di iklim tropis.

Trem bukan sekedar alat transportasi, melainkan menjadi saksi sejarah dan saksi politik. Ketika agresi militer Belanda hadir di Jakarta, trem merupakan saksi dari pergolakan keadaan ketika itu. Trem sendiri telah dikuasai oleh Republik. Penguasaan terhadap trem menjadikan moda transportasi tesebut digunakan oleh para pejuang untuk menembaki para tentara musuh. Bukan itu saja di bagian trem diimbuhi tulisan-tulisan yang mengobarkan semangat perjuangan serta menentang kembalinya penjajahan asing.

Trem pada akhirnya resmi berakhir beroperasi di Jakarta pada tahun 1962 dengan trayek terakhir Kramat-Mr.Cornelis. Trem sendiri berhenti beroperasi dikarenakan beberapa faktor. Faktor yang mengemuka ialah karena ledakan penduduk di Jakarta yang telah semakin banyak; beralihnya penduduk Jakarta menggunakan bus kota; pasokan listrik ketika itu yang turun naik sehingga menyebabkan trem listrik dapat mogok di jalan.

Diantara kegaduhan mengenai alat transportasi yang layak di Jakarta dewasa ini, trem dapat dijadikan salah satu alternatif. Bukan saja karena romantisme sejarah, melainkan karena kemampuan trem untuk menjadi alat pengangkut massal (dapat ditambahkan gerbong di belakang); harga operasional juga dapat murah. Dalam skema rencana di daerah Episentrum Kuningan akan dihidupkan kembali trem. Sedangkan di kota lain, kota Solo akan menggunakan trem di tahun 2013/2014 sebagai upaya keberpihakan kepada pengadaan alat transportasi untuk masyarakat kebanyakan.

Demikianlah artikel singkat saya. Semoga bermanfaat adanya memberikan perspektif baru dalam sejarah, politik, sosial.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s