Posted in Fiksi Fantasi, Politik, Sejarah

Menjadi Indonesia

17 Agustus 1945 atau 9 Ramadhan 1364 Hijriah merupakan momentum bersejarah bagi negeri Indonesia. Proklamasi kemerdekaan dilaksanakan di kediaman Soekarno yakni Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta. Apa kiranya arti kemerdekaan? Apakah fiksi fantasi di Indonesia telah merdeka? Merdeka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesua berarti bebas (dari perhambaan, penjajahan dsb); berdiri sendiri (tidak terikat, tidak bergantung pada sesuatu yang lain); (W.J.S.Poerwadarminta:Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal 646). Merdeka tentu saja memiliki multi tafsir jika ditanya pada orang per orang. Maka izinkan Saya untuk memberikan tafsir kemerdekaan dalam fiksi fantasi Indonesia.

Salah satu poin yang disorot dalam kemerdekaan ialah tentang intervensi dan pengaruh asing. Ada pertanyaan besar tentang warna, karakter, dari karya fiksi fantasi Indonesia. Diantaranya medium komik yang berkiblat pada gaya Jepang. Secara penggambaran, cerita, ada role model lazim yakni gaya Jepang. Salahkah itu? Apakah hal tersebut sebentuk ketidakmerdekaan dari karya fiksi fantasi? Soekarno dalam pidatonya Pancasila tanggal 1 Juni 1945 memuat konsep kekeluargaan bangsa-bangsa. Dalam konsep tersebut, terdapat filosofi prinsip yakni internasionalisme. Menurut Soekarno, Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme (Herbert Feith dan Lance Castles: Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, hal 20). Dengan demikian ada sinergi, bukan perbenturan. Nasionalisme dan internasionalisme bukanlah oksimoron.

Aroma internasionalisme bukan milik Soekarno en sich. Sejumlah tokoh Indonesia tidak alergi pada dunia luar seperti Hatta dengan politik luar negeri bebas aktif. Hatta sendiri menuntut ilmu 11 tahun di negeri Belanda, sembari melakukan muhibah ke sejumlah Negara Eropa (Lihat Otobiografi Mohammad Hatta, Untuk Negeriku). Syahrir yang juga mengenyam ilmu di Belanda serta pemikiran Sosial Demokratnya merupakan bentuk petualangan literatur yang dilakukannya (Lihat Rosihan Anwar:Sutan Sjahrir, Negarawan Humanis, Demokrat Sejati Yang Mendahului Zamannya). Natsir yang menguasai lima bahasa asing (Belanda, Arab, Inggris, Perancis, Latin), dimana penguasaan atas bahasa-bahasa itu sangat memungkinkan Natsir melakukan ‘penjelajahan intelektual’ yang nyaris tanpa batas dan membentuknya menjadi manusia kosmopolitan (Ahmad Suhelmi:Soekarno Versus Natsir). Dengan demikian, para Founding Fathers Indonesia memiliki basis pemikiran dan wawasan global. Mereka tidak canggung untuk bicara kepada dunia dengan cita rasa Indonesia.

Basis internasionalisme terkuatkan dengan sejumlah fakta berikut: para ulama asal Indonesia yang menuntut ilmu di Makkah, juga menjadikan mereka memiliki wawasan global. Indonesia yang terletak pada persilangan benua Asia dan benua Australia, serta pada Samudera Hindia dan Pasifik (teringat dengan pelajaran “wajib” ini??) memungkinkannya untuk berinteraksi sebagai warga dunia. Terlebih di daerah pesisir, sebagai jalur perdagangan dunia. Dengan demikian terjadi transmisi ide, budaya, dari berbagai belahan dunia.

Wayang yang begitu Indonesia misalnya, mendapat pengaruh deras dari India. Wayang kulit sendiri mendapat pengakuan dari UNESCO pada tanggal 7 November 2003 sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Wayang dalam cerita utamanya menceritakan tentang kisah Ramayana. Bagaimana pertempuran antara kelompok Pandawa dengan kelompok Kurawa. Tokoh lokal untuk kemudian mengisi lakon wayang seperti Semar, Gareng, Petruk.

Sekian penjelasan “Menjadi Indonesia”, yang menurut hemat Saya mematahkan opini untuk menjadikan karya fiksi fantasi Indonesia menutup diri dari pengaruh “Negara kuat fiksi fantasi”, ataupun membenturkan antara “Nasionalisme Fiksi Fantasi” dengan pengaruh asing. Beranjak dari pengalaman sejarah yang diungkap di atas, nyatanya nasionalisme Indonesia berjalan beriringan dengan internasionalisme.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Politik

Berternak Badai Partai Demokrat

Takdir sejarah tidak akan membiarkan individu maupun entitas menjalani hari tanpa tantangan dan cobaan. Tantangan dan cobaan dibutuhkan untuk menguji, untuk menaikkan level kompetensi. Lalu bagaimanakah dengan yang dialami oleh Partai Demokrat. Partai yang melesat dalam dua kali keikutsertaannya di Pemilu 2004 dan Pemilu 2009. Belakangan ini boleh dibilang Partai Demokrat tengah menghadapi badai paling dahsyat dalam perjalanannya. Badai yang hadir tidak monokrom, melainkan hadir dalam berbagai rupa dan wajah. Pemilu 2014 merupakan parameter paling valid, akankah partai berlambang bintang mercy ini mampu bertahan atau menjadi artefak sejarah yang akan ditinggal oleh sejumlah elite dan massa pendukungnya.

Cobaan itu menjalani prolognya dengan kesaksian dari Mindo Rosalina Manulang yang mengaku sebagai bawahan dari M.Nazaruddin (Bendahara Umum Partai Demokrat), meski kemudian ditarik statement tersebut, terkait dengan proyek wisma atlet Sea Games. Dari kasus Nazaruddin, domain badai pun menyebar dan liar kemana-mana. Belum berhenti sampai disitu, Andi Nurpati yang sekarang menjabat sebagai Ketua Divisi Komunikasi dan Informasi Partai Demokrat terindikasi terlibat dalam pembuatan surat palsu ketika menjabat di KPU. Kasus Andi Nurpati ini menambah bobot badai, karena seakan menjadi serial dari badai yang menghinggapi partai yang begitu lekat dengan sosok SBY ini.

Badai dan hantaman terhadap Partai Politik merupakan sesuatu yang wajar dan pasti terjadi. Kekuasaan yang menjadi hulu dan hilir dari partai politik merupakan magnet kuat akan hadirnya badai di tubuh partai politik. Badai dapat datang dikarenakan rivalitas yang ditebarkan oleh partai politik lain, maupun dikarenakan dari internal partai tersebut. Menelisik arsip sejarah, kita akan menemui sekurangnya badai pernah menerpa Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera.

Partai Golkar bahkan ketika di awal reformasi dipenuhi dengan tuntutan untuk membubarkan diri. Di era transisi tersebut, Partai Golkar mampu untuk tetap hidup dan berperan dalam masa transisi dan kepolitikan. Daya survival di era reformasi tersebut tidak lepas dari berbagai faktor eksternal maupun internal Partai Golkar itu sendiri. Dengan kesiapan sumber daya internalnya, Partai Golkar mampu survive dan berperan. Keberhasilan Partai Golkar bertahan hidup tidak lepas dari kesiapan partai ini dalam mengelola perubahan yang terjadi. Karena itu, meskipun sedang menjadi “musuh bersama” pada era awal reformasi, keberadaan Partai Golkar beserta kader-kadernya dapat diterima di lingkungan politik baru, karena para politikus dan fungsionaris partai ini dikenal sebagai orang-orang yang memiliki pengalaman dan kemampuan dalam bidang politik, organisasi, dan pemerintahan. (Akbar Tandjung:The Golkar Way).

Akbar Tandjung juga berhipotesis bahwa Partai Golkar survive karena partai ini mampu mendayagunakan kelembagaan (Golkar) yang telah mengakar secara kuat, dan pada saat yang sama partai ini juga melakukan berbagai kebijakan penyesuaian (adaptasi) terhadap lingkungan sistem politik baru yang demokratis. Terbukti Partai Golkar berhasil melewati badainya dan mampu bertahan hingga sekarang sebagai kekuatan politik papan atas Indonesia. Pada pemilu 1999, Partai Golkar memperoleh 22 % (di tengah kepungan tudingan dan tudingan untuk membubarkan Partai berlambang beringin ini); sedangkan pada pemilu 2004 Partai Golkar menjadi pemenang pemilu dengan perolehan 21,6 %. Dalam istilah pimpinan saya di kantor, Partai Golkar merupakan tempat para pendekar politik berkumpul.

Sedangkan Partai Keadilan Sejahtera sempat diguncang isu tak sedap berupa sebagai gerakan Islam garis keras yang menginginkan berdirinya Negara Islam di Indonesia. Citra ekslusif, elitis, serta konsep Islam yang tidak ramah dengan Indonesia serta Arabik juga menjadi bagian dari serangan terhadap Partai berlambang bulan sabit kembar ini. Dengan kerja keras dan nyata di masyarakat, Partai Keadilan Sejahtera bicara langsung kepada masyarakat bahwasanya segala stigma itu tidak benar adanya. Pada pemilu 1999, Partai Keadilan hanya memperoleh 7 kursi di parlemen atau setara dengan 1,36 %. Lalu pada pemilu 2004 di bawah nakhoda HM Hidayat Nur Wahid, Partai Keadilan Sejahtera menjadi rising star dengan perolehan 7,34 % atau setara dengan 45 kursi.

Apa yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera dalam menghadapi sejumlah stigma tersebut? Partai Keadilan yang mengusung slogan Bersih dan Peduli membuktikannya dengan kerja nyata di masyarakat. Bersih dan Peduli terlihat dalam kader partai ini di parlemen yang terbebas dari virus korupsi. Bersih dan peduli terbukti dari kerja-kerja kader Partai dalam sejumlah aktivitas sosial. Dan stigma negatif pun tertepiskan melalui kerja nyata dan terlihat adanya.

Lalu apa gerangan garis merah dari apa yang dialami oleh Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejarah dengan badai yang menerpa Partai Demokrat? Menurut hemat Saya, garis merahnya ialah manajemen terhadap badai. Badai yang dialami partai merupakan faktor yang absolut terjadi (tergantung skala badainya saja, besar atau kecil). Manajemen itulah yang paling penting untuk mengarungi badai dan membuat organisasi dapat bertahan, dan malahan semakin kuat.

Dalam menghadapi badai yang menerpa Partai Demokrat, internal Partai Demokrat gagal memadamkan badai. Internal Partai Demokrat gagal untuk menyelesaikan masalah dengan dingin dan cerdas. Yang terjadi ialah dalam istilah Saya, semakin “berternak badai”. Bukannya memadamkan api, malahan membuat titik api baru. Mulai dari Susilo Bambang Yudhoyono (Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat dan Presiden) yang gamang dalam mengatasi kemelut di tubuh partainya, manuver dari sejumlah petinggi Partai Demokrat yang menunjukkan titik pecah menghadapi masalah, dan sebagainya.

Dalam hal ini, internal Partai Demokrat, menurut hemat Saya belum memiliki kemampuan untuk menjinakkan badai dan menggunakan badai untuk menjadi daya pengungkit suara. Lihat saja bagaimana citra Partai Demokrat yang semakin babak belur. Skala badai juga bahkan telah terlampau liar dan merembet pada pemerintahan. Partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilu 2009, menghadapi skeptisme untuk menatap pemilu 2014. Magnet SBY akan kehilangan masa edarnya pada pemilu 2014 mendatang (batas masa kekuasaan Presiden hanya 2 periode), dan lagi sejumlah tudingan hukum yang hingga kini masih mengganjal.

Jika Partai Demokrat gagal untuk menjinakkan badai, alih-alih berternak badai. Bisa jadi ke depan, kita akan mendapati Partai Demokrat sebagai artefak sejarah masa lalu. Mengalami penyusutan suara, ditinggal konstituen, ditinggal elite partainya yang berpetualang ke partai lain. Kesemua skenario itu dapat terjadi seiring waktu, seiring bayangan badai yang tak kunjung reda. Badai tak pasti berlalu, tergantung pada juru mudi dan awaknya. Mampukah mengarungi badai?

Posted in Fiksi Fantasi, Film

Sejumput Ingatan Dari Rise Of The Planet Of The Apes (1)

Sudahkah Anda menonton film Rise Of The Planet Of The Apes? Artikel yang Saya tulis ini, dihadirkan untuk menjadi jembatan koneksi segala mozaik dari film Rise Of The Planet Of The Apes dengan sejumput memori. Sejumput memori dari Saya, dan mungkin juga anda.

>> Tokoh-tokoh akrab di ingatan

Tom Felton, James Franco, Freida Pinto, Andy Serkis, merupakan deretan nama yang turut memberi nyawa pada film Rise Of The Planet Of The Apes. Melihat mereka dalam film yang dirilis pada bulan September ini, tidak lantas memutus koneksi ingatan dengan peran mereka di film terdahulu. Tom Felton, selama 8 film dari epik Harry Potter berperan menjadi Draco Malfoy. Felton dalam Rise Of The Planet Of The Apes berperan sebagai Dodge Landon, seorang penjaga dari tempat penampungan kera-kera liar. Sosok antagonis tampaknya masih setia dengan Tom Felton. Salam Sectumsempra (hanya bercanda Tom. Bahkan kata Tom mengingatkan Saya pada Tom Bombadil dan Tom Marvollo Riddle).

Berikutnya ialah James Franco. James Franco berperan sebagai Will Rodman, seorang ilmuwan yang berusaha mengembangkan penemuan baru. Will dengan serum 112-nya berhasil meningkatkan kecerdasan kera (Caesar dan ibunya), serta mengatasi penyakit alzheimer (meski kemudian belum ampuh 100% dan memerlukan pengembangan konsep). Jika di tiga film Spiderman, James Franco menjadi peran pembantu utama, kali ini Franco menempati posisi sebagai pemeran utama. Kematangan peran, sisi manusiawi, berhasil diperankan oleh Franco (meski tidak hingga akhir film). Franco dalam film Spiderman menjadi Harry Osborn dan new goblin, sobat dan sempat menjadi rival dari Spiderman. Melihat Franco sebagai Will Rodman tidak lantas menghapus segala karakter kuat yang diperankan sebelumnya dalam tiga seri film Spiderman. Dan Damai di bumi untuk Harry Osborn atau new goblin.

Freida Pinto berperan sebagai Caroline Aranha, sosok dokter hewan yang juga merupakan kekasih dari Will. Melihat Freida Pinto mengingatkan Saya ketika dia berperan dalam film Slumdog Millionaire. Yap, film yang kaya inspirasi dan mengingatkan saya dengan Tantowi Yahya (Saya harap anda tidak mengartikan kalimat ini sebagai kampanye Gubernur DKI).

Terakhir, ialah Andy Serkis yang berperan sebagai Caesar. Caesar merupakan tokoh kera yang mendapat warisan genetik serum 112, sehingga menjadikannya begitu cerdas. Caesar yang diperankan oleh Andi Serkis, menurut saya merupakan bintang dari seluruh karakter yang ada dalam film Rise Of The Planet Of The Apes . Tampil sebagai makhluk, menggunakan teknologi digital tingkat tinggi, bukan sesuatu yang baru dari Andy Serkis. Sebelumnya Andy Serkis dengan antologi, cum laude, sukses memerankan Gollum dalam serial film The Lord of the Rings.

Pertanyaannya ketika usai menonton film Rise Of The Planet Of The Apes, apakah Anda akan mengingat keempat bintang film tersebut sebagai karakter dari film Rise Of The Planet Of The Apes atau tetap mengingatnya dengan kuat sebagai karakter dalam film mereka terdahulu? Parameter yang menurut hemat Saya, mengindikasikan keberhasilan atau kegagalan dari film Rise Of The Planet Of The Apes dari segi pendalaman karakter.

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Sosial Budaya, Teknologi

Trisula Teknologi

Salah satu permasalahan dari manusia saat ini ialah konsentrasi dan fokus. Mengapa demikian? Karena begitu banyak distraction dalam kehidupan sehari-hari. Ambil contoh dengan adanya televisi, ponsel pintar serta keberadaan internet yang telah semakin melekat menjadi DNA hari kita terhabiskan. Bukan berarti Saya anti terhadap segala perangkat teknologi tersebut, namun perlu kiranya untuk mengirimkan sinyal bahaya terhadap kelekatan terhadap perangkat zaman tersebut. Sinyal bahaya dapat disebabkan karena kelekatan kita akan televisi, ponsel pintar, serta internet.berakibat tersedotnya waktu dalam pusara limbah kesia-siaan.

Bukankah dalam Islam, janganlah menjadi sia-sia, dan menghargai benar waktu. Maka, coba cek, evaluasi, segala laju kehidupan dalam sehari semalam. Apa saja yang telah dikerjakan? Apa saja yang telah dilakukan? Mampukah kita menang? Ataukah ternyata ada begitu banyak ceruk yang terhabiskan di depan televisi, internet, bersama ponsel pintar.
Konsentrasi dan fokus merupakan prasyarat bagi keberhasilan dan usainya suatu pekerjaan. Multi tasking, kerja sambil nyambi, membuat beberapa karya dan kerja tidak optimal. Mari jinakkan teknologi. Jangan mau menjadi budak teknologi.

Kehadiran ponsel pintar dalam kehidupan berhasil menjadikan seolah dunia berada dalam genggaman domain alat komunikasi yang memiliki basis penemuan awal oleh Alexander Graham Bell ini. Mau menelepon bisa, sms mampu, BBM sering, membuka lintas sapa melalui media sosial dapat, menjelajah internet siap. Kemampuan komplet ini dapat membuat yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat menjadi jauh. Mulai sekarang mari kendalikan diri. Jangan tercandukan waktu akut akibat ponsel pintar. Bebaskan diri dari budak teknologi.

Berjalanlah selusuri tempat. Bernavigasilah, dan apa yang ditemukan? Suara televisi. Televisi menjadi sobat yang begitu sohib bagi kehidupan. Entah sudah berapa waktu tersedot oleh “black hole” ini. Hanya terpaku bersama kotak segi empat tersebut. Mari renungkan tentang menu hidangan televisi yang sebenarnya tidak menyehatkan bagi pikiran dan jiwa. Apa yang diasup bagi makanan pikiran dan jiwa pastinya akan berpengaruh. Contoh sederhananya ialah dalam percakapan sehari-hari, seberapa banyak keluar “catatan kaki” dari kalimat yang bersumber dari tontonan di televisi.

Pola pikir menjadi tercetak dengan kanal yang meluas dari Sabang Sampai Merauke. Jangan lagi kalah dengan Siren audio visual tersebut. Janganlah jadi budak teknologi. Ada beberapa cara mensiasatinya, batasi tontonan televisi. Bahkan di beberapa daerah, ada program untuk memateni televisi dari ruang keluarga pada jam-jam tertentu, dan digunakan sebagai jam belajar. Yap, pemerintah punya tanggung jawab untuk mencerdaskan dan menyelamatkan masyarakat yang dipimpinnya. Jika pemerintah terlalu sibuk dengan kegaduhannya, maka marilah kita memulainya dengan diri kita sendiri, lalu membagi inspirasi pada orang lain.

Siasat lainnya ialah dengan membuat daftar tayangan layak tonton. Buat list mengenai hari dan jam menonton. Misalnya saja, acara-acara yang bergizi dan berbobot. Acara-acara yang memberikan nilai tambah bagi diri kita, tidak sekedar hiburan heboh kempot makna.Dengan begitu terdata seberapa banyak dalam seminggu menghabiskan waktu di layar kaca yang bermanfaat adanya. Tentu saja cara tersebut tidak berarti membunuh tontonan-tontonan insidental yang mendidik.

Terakhir, internet. Pergunakan berbagai media sosial dengan bijak. Ingatlah bahwa kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang dimiliki. Jadi, jangan terhanyut, terlenakan dalam lintas riuh dunia maya. Terus terang, Saya agak terganggu dengan begitu gaduhnya jejalan informasi yang masuk setiap kalinya berselancar di internet. Domain Facebook, misalnya yang diwarnai dengan narsisme, keluhan, yang menurut Saya patut untuk banyak diskip dari arsip waktu kita. Tak semua informasi tersebut berdayaguna bagi diri. Gunakan internet sebagai pintu upaya untuk menambah ilmu.
Tak perlu pasif pula, tapi berikan corak, karakter, dari kehadiran diri di internet. Ada medium blog (yang memungkinkan untuk menjadi arsip intelektual, sekaligus kanal penyebaran ide), ada facebook (dengan aneka fasilitasnya yang cukup mensupport bagi proses persebaran ilmu), ada twitter (berkicau dengan cerdik. Contoh nyatanya ialah kicauan dari Goenawan Moehammad yang telah dibukukan), dan banyak lagi. Dalam istilah Saya, mari menjadi ideolog net. Jangan hanyut, tetapi menjadi arus…

Sebagai penutup artikel, Saya dan Andalah si pemegang kekang kendali teknologi. Mari menjadi manusia modern yang otentik.

Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Equilibrium (1)

Keresahan itu selalu mengganggu equilbriumku. Dan kata “keresahan” selalu hadir tanpa prolog dan datang seenaknya di bilangan waktu tak terkira. “Keresahan” itu datang ketika ku dulu mereguk ilmu di bangku sekolah, “keresahan” itu hadir ketika aku berada di lintas perjalanan, “keresahan” itu hadir ketika aku dalam pekerjaan kantoranku, “keresahan” itu hadir tanpa pesan. Jadilah aku terpecah konsentrasi. Jadilah aku sekedar fisik disini, namun jiwa di tempat yang berbeda.

“Keresahan” itu berupa keinginanku untuk menjenguk dunia fiksi fantasi. Kecintaanku pada fiksi fantasi sendiri, entah bermula dari umur berapa. Literatur ilmu sosial berbicara tentang sosialisasi politik, dan kupikir sosialisasi politik yang kualami terhadap dunia fiksi fantasi telah begitu lama dan dalam. Cetakan dasar kepribadianku terlalu kokoh. Aku telah hidup dalam nadi fiksi fantasi.

Dari keluargakah asal “keresahanku” terhadap dunia fiksi fantasi? Hmm..aku pikir banyak benarnya ada pengaruh dari keluarga. Fiksi fantasi adalah resistensiku, kastil imajinasiku, pulau utopisku, proyeksi cahaya dari himpitan. Nanti akan kuceritakan tentang keluargaku yang membentukku menjadi cinta 100% terhadap fiksi fantasi. Kalau kalian mau melihat loker sejarahku maka akan kalian dapati begitu banyak jejakku yang terkait dengan fiksi fantasi.

Loker sejarah itu biar kubuka perlahan halamannya. Halaman awalnya yakni Aku suka menggambar, membuat cerita, aku juga bisa membuat lagu. Tapi jangan kalian katakan, aku orang yang populer selama di sekolah dan kini ketika aku berada di dunia kerja. Aku seperti bayangan dalam komunitas yang kusinggahi. Dalam beberapa kesempatan orang akan lupa siapa namaku. Mereka bahkan kerap lupa bahwa aku hadir dalam suatu temu bersama dengan mereka.

Dan kalian tahu, pada beberapa bagian, aku suka menjadi bayangan. Menjadi bayangan membuatku menjadi enigma. Aku bukanlah buku yang lembar halamannya mudah terbaca. Aku bukanlah facebook yang bebas dan terbuka untuk dilihat oleh siapa saja. Aku adalah teka teki sejati.

Apakah kalian percaya pada keajaiban? Apakah kalian percaya bahwasanya hidup ini dapat berbeda dari yang normal kelihatannya? Apakah kalian percaya pada “kehidupan kedua”? “Kehidupan kedua” yang kumaksud seperti Harry Potter yang begitu terkenal di Hogwarts ataupun dunia sihir; seperti Percy Jackson yang ternyata memiliki genetik super dari Poseidon. Kehidupan kedua yang mampu menjungkir balikkan segala keadaan tepat di titik kita berdiri saat ini. Berpindah kutub secara ekstrem.

(Bersambung)

Posted in Edukasi, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Riset dan Fiksi Fantasi

Menyebut fiksi fantasi di Indonesia kadung akrab dengan sejumlah stigma. Stigma itu diantaranya ialah fiksi fantasi merupakan kerja yang kurang mengandalkan rasionalitas, lebih pada kelihaian berfantasi dan bermimpi yang bertentangan dengan hukum ilmiah. Benarkah stigma tersebut? Menurut hemat saya, stigma itu terbantahkan ketika kita menelusuri sejumlah karya-karya fiksi fantasi. The Bartimaeus Trilogy yang menceritakan tentang penyihir, jin, manusia, dalam pergulatannya merupakan sampel yang dapat mematahkan stigma keliru tersebut. Jonathan Stroud (pengarang The Bartimaeus Trilogy) melakukan riset mendalam untuk membuat karya fiksi fantasi tersebut. Bahkan novel ini menyertakan catatan kaki untuk menjelaskan beberapa peristiwa.

Jonathan Stroud mengkombinasikan mitologi, fakta sejarah, dalam karyanya. Ada beberapa rekonstruksi sejarah yang dilakukan oleh Stroud, sebut saja tentang keterlibatan para jin dalam sejumlah momentum-momentum historis seperti Perang Dunia II, ide dari kuda Troya, pembuatan piramida, dan sebagainya. Stroud juga menyajikan para tokoh sejarah seperti William Gladstone dalam karyanya yang dikisahkan sebagai penyihir kuat dan berpengaruh dari Inggris. Gladstone sendiri merupakan Perdana Menteri Inggris selama 4 periode (pada era 3 Desember 1868 sampai 17 Februari 1874; dari 23 April 1880 sampai 9 Juni 1885; dari 1 Februari sampai 20 Juli 1886; dan dari 15 Agustus 1892 sampai 2 Maret 1894).

Untuk menghadirkan latar tempat dengan presisi akurat, Stroud juga melakukan riset. Hasilnya sejumlah tempat benar-benar hidup dalam pikiran kita, mulai dari Menara London, Praha, Mesir. Riset yang dilakukan Stroud tidak berhenti sampai disitu. Fakta sejarah dan fakta politik berhasil diracik menjadi unsur yang memperkuat cerita The Bartimaeus Trilogy. Stroud dalam karyanya memaparkan tentang pemerintahan Inggris dan daya pengaruhnya di dunia. Bahkan tokoh-tokoh dalam karya ini merupakan mereka-mereka yang berada dalam elite pemerintahan Inggris yang dikuasai oleh para penyihir. Simak saja quotes berikut, “Revolusi tidaklah nyata pada awalnya. Para commoner hampir tidak mengetahui konsep itu ada, namun mereka menghirupnya saat tidur dan merasakannya saat minum.” Cerdas, politis, dan sastrais bukan?

Menempatkan riset dalam fiksi fantasi membuat terdapati logika dalam cerita. Logika inilah yang untuk kemudian berhasil membuat “dunia” nya yang unik. “Dunia” yang diciptakan oleh fiksi fantasi ini sekaligus menjadikan kita sebagai pembaca dapat menelusuri, mengira-ngira, dan terhanyut dalam kisah yang diujarkan. Maka dalam “dunia” tersebut paradoks ataupun logika yang tidak koheren (seperti dalam jamaknya sinetron Indonesia) akan tertolak.

Tentu saja masih banyak sampel lainnya yang dapat memperkokoh argumentasi Saya bahwasanya fiksi fantasi pun didukung oleh riset. Avatar, Harry Potter, Inception, Nagabumi, merupakan deretan sampel lainnya yang dapat menguatkan tesis riset dan fiksi fantasi ialah sebangun. Jadi sisi rasional, intelektual, dari fiksi fantasi merupakan unsur yang ikut meracik holistik dari keindahan fiksi fantasi. Jadi apabila anda sedang membuat cerita fiksi fantasi, menurut hemat Saya, riset juga penting untuk menjadikan karya anda berbobot. Tentu saja daya kreativitas yang dipadukan dengan utuhnya riset dapat menjadi karya yang monumental. Selamat meracik kata.