Posted in Edukasi, Sosial Budaya

Mengerami Tulisan

Menulis bukanlah proses sekali jadi. Menulis merupakan kerja yang terkait dengan kata “revisi”. Revisi dibutuhkan untuk memperbaiki kesalahan, mempertajam tulisan, serta memperkuat bangunan ide. Dengan adanya revisi, seharusnya menjadikan menulis lebih laju. Kenapa demikian? Dikarenakan ada kesempatan untuk memperbaiki ketika tulisan gelombang pertama selesai dilakukan. Dengan adanya revisi, juga mengurangi beban dalam menulis. Hei..kita tidak sedang menyusun kitab suci, melainkan menulis ala manusia (hal itulah yang beberapa kali saya gaungkan ketika memberat dalam menyusun kata). Revisi juga menunjukkan bagaimana manusiawinya kita sebagai manusia. Yap, manusia sebagai tempatnya salah, lupa, dan dosa.

Bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan yang terkait dengan dunia tulisan seperti FISIP, mungkin pernah mengalami tulisan sekali jadi. Biasanya dikarenakan telah mentok dengan deadline pengumpulan tulisan. Jadilah energi kepepetisme, plus tenaga dalam, menyatu dalam laju tulisan. Saya akui beberapa makalah kuliah Saya dulu terlahir dari rahim situasi tersebut. Menegangkannya lagi ialah ketika berkejar-kejaran dengan waktu, entah itu dengan waktu keberangkatan, printer di warnet, sehingga ketika menyerahkan di kelas, dalam istilah teman saya, masih hangat dari oven.

Tulisan yang masih hangat dari oven ini pada realitanya kerap menemui kesalahan. Entah itu huruf yang kurang atau salah, ide yang tidak sinergis, kalimat yang tidak koheren dan sebagainya. Dengan demikian ada celah tidak optimal dari ide dan karya yang dihasilkan. Waktu, itulah yang menurut saya kata yang dapat menjadi sahabat atau musuh dalam menulis. Waktu menjadi musuh, ketika kita berleha-leha dalam sejumlah varian pengisi waktu tidak penting hingga habislah waktu tanpa sebuah karya tulis. Waktu menjadi sahabat, ketika kita dapat menjadikannya sebagai periode mengerami tulisan dan melakukan revisi.

Mengerami tulisan sendiri merupakan proses “membiarkan” tulisan kita sementara waktu. Membiarkan bukan berarti menelantarkan. Melainkan memberinya jeda waktu untuk segalanya. Waktu pengeraman sendiri relatif, tergantung kebutuhan (dan tergantung deadline hehe..). Menulis sendiri merupakan proses yang melibatkan pikiran dan emosi. Perlibatan pikiran dan emosi ini terkadang menjadikan diri berada pada kutub penilaian yang keliru tentang tulisan yang telah dikreasi. Memberi jeda waktu dengan mengerami tulisan, merupakan upaya untuk menempatkan takaran pikiran dan emosi pada proporsinya. Ketika selesai menulis maka limpahan koneksi pikiran dan emosi kita masih lekat dengan tulisan yang baru usai dituliskan tersebut. Inilah dalam beberapa hal, yang membuat kita tidak melihat celah, sela, dari tulisan.

 

Mengerami tulisan dengan demikian merupakan teknik dari komprehensifnya tulisan. Tinggalkan sejenak tulisan yang telah usai, biarkan sejenak terlepas dari orbit pikir dan emosi, lalu kembalilah menengok tulisan tersebut, revisi apa yang telah ditulis. Proses revisi dan pengeraman dalam beberapa kasus juga tidak bisa hanya satu kali. Demikianlah, selamat mengerami, selamat merevisi, dan tentu saja selamat menulis.

 

 

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s