Posted in Edukasi, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Riset dan Fiksi Fantasi

Menyebut fiksi fantasi di Indonesia kadung akrab dengan sejumlah stigma. Stigma itu diantaranya ialah fiksi fantasi merupakan kerja yang kurang mengandalkan rasionalitas, lebih pada kelihaian berfantasi dan bermimpi yang bertentangan dengan hukum ilmiah. Benarkah stigma tersebut? Menurut hemat saya, stigma itu terbantahkan ketika kita menelusuri sejumlah karya-karya fiksi fantasi. The Bartimaeus Trilogy yang menceritakan tentang penyihir, jin, manusia, dalam pergulatannya merupakan sampel yang dapat mematahkan stigma keliru tersebut. Jonathan Stroud (pengarang The Bartimaeus Trilogy) melakukan riset mendalam untuk membuat karya fiksi fantasi tersebut. Bahkan novel ini menyertakan catatan kaki untuk menjelaskan beberapa peristiwa.

Jonathan Stroud mengkombinasikan mitologi, fakta sejarah, dalam karyanya. Ada beberapa rekonstruksi sejarah yang dilakukan oleh Stroud, sebut saja tentang keterlibatan para jin dalam sejumlah momentum-momentum historis seperti Perang Dunia II, ide dari kuda Troya, pembuatan piramida, dan sebagainya. Stroud juga menyajikan para tokoh sejarah seperti William Gladstone dalam karyanya yang dikisahkan sebagai penyihir kuat dan berpengaruh dari Inggris. Gladstone sendiri merupakan Perdana Menteri Inggris selama 4 periode (pada era 3 Desember 1868 sampai 17 Februari 1874; dari 23 April 1880 sampai 9 Juni 1885; dari 1 Februari sampai 20 Juli 1886; dan dari 15 Agustus 1892 sampai 2 Maret 1894).

Untuk menghadirkan latar tempat dengan presisi akurat, Stroud juga melakukan riset. Hasilnya sejumlah tempat benar-benar hidup dalam pikiran kita, mulai dari Menara London, Praha, Mesir. Riset yang dilakukan Stroud tidak berhenti sampai disitu. Fakta sejarah dan fakta politik berhasil diracik menjadi unsur yang memperkuat cerita The Bartimaeus Trilogy. Stroud dalam karyanya memaparkan tentang pemerintahan Inggris dan daya pengaruhnya di dunia. Bahkan tokoh-tokoh dalam karya ini merupakan mereka-mereka yang berada dalam elite pemerintahan Inggris yang dikuasai oleh para penyihir. Simak saja quotes berikut, “Revolusi tidaklah nyata pada awalnya. Para commoner hampir tidak mengetahui konsep itu ada, namun mereka menghirupnya saat tidur dan merasakannya saat minum.” Cerdas, politis, dan sastrais bukan?

Menempatkan riset dalam fiksi fantasi membuat terdapati logika dalam cerita. Logika inilah yang untuk kemudian berhasil membuat “dunia” nya yang unik. “Dunia” yang diciptakan oleh fiksi fantasi ini sekaligus menjadikan kita sebagai pembaca dapat menelusuri, mengira-ngira, dan terhanyut dalam kisah yang diujarkan. Maka dalam “dunia” tersebut paradoks ataupun logika yang tidak koheren (seperti dalam jamaknya sinetron Indonesia) akan tertolak.

Tentu saja masih banyak sampel lainnya yang dapat memperkokoh argumentasi Saya bahwasanya fiksi fantasi pun didukung oleh riset. Avatar, Harry Potter, Inception, Nagabumi, merupakan deretan sampel lainnya yang dapat menguatkan tesis riset dan fiksi fantasi ialah sebangun. Jadi sisi rasional, intelektual, dari fiksi fantasi merupakan unsur yang ikut meracik holistik dari keindahan fiksi fantasi. Jadi apabila anda sedang membuat cerita fiksi fantasi, menurut hemat Saya, riset juga penting untuk menjadikan karya anda berbobot. Tentu saja daya kreativitas yang dipadukan dengan utuhnya riset dapat menjadi karya yang monumental. Selamat meracik kata.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s