Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Equilibrium (1)

Keresahan itu selalu mengganggu equilbriumku. Dan kata “keresahan” selalu hadir tanpa prolog dan datang seenaknya di bilangan waktu tak terkira. “Keresahan” itu datang ketika ku dulu mereguk ilmu di bangku sekolah, “keresahan” itu hadir ketika aku berada di lintas perjalanan, “keresahan” itu hadir ketika aku dalam pekerjaan kantoranku, “keresahan” itu hadir tanpa pesan. Jadilah aku terpecah konsentrasi. Jadilah aku sekedar fisik disini, namun jiwa di tempat yang berbeda.

“Keresahan” itu berupa keinginanku untuk menjenguk dunia fiksi fantasi. Kecintaanku pada fiksi fantasi sendiri, entah bermula dari umur berapa. Literatur ilmu sosial berbicara tentang sosialisasi politik, dan kupikir sosialisasi politik yang kualami terhadap dunia fiksi fantasi telah begitu lama dan dalam. Cetakan dasar kepribadianku terlalu kokoh. Aku telah hidup dalam nadi fiksi fantasi.

Dari keluargakah asal “keresahanku” terhadap dunia fiksi fantasi? Hmm..aku pikir banyak benarnya ada pengaruh dari keluarga. Fiksi fantasi adalah resistensiku, kastil imajinasiku, pulau utopisku, proyeksi cahaya dari himpitan. Nanti akan kuceritakan tentang keluargaku yang membentukku menjadi cinta 100% terhadap fiksi fantasi. Kalau kalian mau melihat loker sejarahku maka akan kalian dapati begitu banyak jejakku yang terkait dengan fiksi fantasi.

Loker sejarah itu biar kubuka perlahan halamannya. Halaman awalnya yakni Aku suka menggambar, membuat cerita, aku juga bisa membuat lagu. Tapi jangan kalian katakan, aku orang yang populer selama di sekolah dan kini ketika aku berada di dunia kerja. Aku seperti bayangan dalam komunitas yang kusinggahi. Dalam beberapa kesempatan orang akan lupa siapa namaku. Mereka bahkan kerap lupa bahwa aku hadir dalam suatu temu bersama dengan mereka.

Dan kalian tahu, pada beberapa bagian, aku suka menjadi bayangan. Menjadi bayangan membuatku menjadi enigma. Aku bukanlah buku yang lembar halamannya mudah terbaca. Aku bukanlah facebook yang bebas dan terbuka untuk dilihat oleh siapa saja. Aku adalah teka teki sejati.

Apakah kalian percaya pada keajaiban? Apakah kalian percaya bahwasanya hidup ini dapat berbeda dari yang normal kelihatannya? Apakah kalian percaya pada “kehidupan kedua”? “Kehidupan kedua” yang kumaksud seperti Harry Potter yang begitu terkenal di Hogwarts ataupun dunia sihir; seperti Percy Jackson yang ternyata memiliki genetik super dari Poseidon. Kehidupan kedua yang mampu menjungkir balikkan segala keadaan tepat di titik kita berdiri saat ini. Berpindah kutub secara ekstrem.

(Bersambung)

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s