Posted in Sosial Budaya, Teknologi

Trisula Teknologi

Salah satu permasalahan dari manusia saat ini ialah konsentrasi dan fokus. Mengapa demikian? Karena begitu banyak distraction dalam kehidupan sehari-hari. Ambil contoh dengan adanya televisi, ponsel pintar serta keberadaan internet yang telah semakin melekat menjadi DNA hari kita terhabiskan. Bukan berarti Saya anti terhadap segala perangkat teknologi tersebut, namun perlu kiranya untuk mengirimkan sinyal bahaya terhadap kelekatan terhadap perangkat zaman tersebut. Sinyal bahaya dapat disebabkan karena kelekatan kita akan televisi, ponsel pintar, serta internet.berakibat tersedotnya waktu dalam pusara limbah kesia-siaan.

Bukankah dalam Islam, janganlah menjadi sia-sia, dan menghargai benar waktu. Maka, coba cek, evaluasi, segala laju kehidupan dalam sehari semalam. Apa saja yang telah dikerjakan? Apa saja yang telah dilakukan? Mampukah kita menang? Ataukah ternyata ada begitu banyak ceruk yang terhabiskan di depan televisi, internet, bersama ponsel pintar.
Konsentrasi dan fokus merupakan prasyarat bagi keberhasilan dan usainya suatu pekerjaan. Multi tasking, kerja sambil nyambi, membuat beberapa karya dan kerja tidak optimal. Mari jinakkan teknologi. Jangan mau menjadi budak teknologi.

Kehadiran ponsel pintar dalam kehidupan berhasil menjadikan seolah dunia berada dalam genggaman domain alat komunikasi yang memiliki basis penemuan awal oleh Alexander Graham Bell ini. Mau menelepon bisa, sms mampu, BBM sering, membuka lintas sapa melalui media sosial dapat, menjelajah internet siap. Kemampuan komplet ini dapat membuat yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat menjadi jauh. Mulai sekarang mari kendalikan diri. Jangan tercandukan waktu akut akibat ponsel pintar. Bebaskan diri dari budak teknologi.

Berjalanlah selusuri tempat. Bernavigasilah, dan apa yang ditemukan? Suara televisi. Televisi menjadi sobat yang begitu sohib bagi kehidupan. Entah sudah berapa waktu tersedot oleh “black hole” ini. Hanya terpaku bersama kotak segi empat tersebut. Mari renungkan tentang menu hidangan televisi yang sebenarnya tidak menyehatkan bagi pikiran dan jiwa. Apa yang diasup bagi makanan pikiran dan jiwa pastinya akan berpengaruh. Contoh sederhananya ialah dalam percakapan sehari-hari, seberapa banyak keluar “catatan kaki” dari kalimat yang bersumber dari tontonan di televisi.

Pola pikir menjadi tercetak dengan kanal yang meluas dari Sabang Sampai Merauke. Jangan lagi kalah dengan Siren audio visual tersebut. Janganlah jadi budak teknologi. Ada beberapa cara mensiasatinya, batasi tontonan televisi. Bahkan di beberapa daerah, ada program untuk memateni televisi dari ruang keluarga pada jam-jam tertentu, dan digunakan sebagai jam belajar. Yap, pemerintah punya tanggung jawab untuk mencerdaskan dan menyelamatkan masyarakat yang dipimpinnya. Jika pemerintah terlalu sibuk dengan kegaduhannya, maka marilah kita memulainya dengan diri kita sendiri, lalu membagi inspirasi pada orang lain.

Siasat lainnya ialah dengan membuat daftar tayangan layak tonton. Buat list mengenai hari dan jam menonton. Misalnya saja, acara-acara yang bergizi dan berbobot. Acara-acara yang memberikan nilai tambah bagi diri kita, tidak sekedar hiburan heboh kempot makna.Dengan begitu terdata seberapa banyak dalam seminggu menghabiskan waktu di layar kaca yang bermanfaat adanya. Tentu saja cara tersebut tidak berarti membunuh tontonan-tontonan insidental yang mendidik.

Terakhir, internet. Pergunakan berbagai media sosial dengan bijak. Ingatlah bahwa kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang dimiliki. Jadi, jangan terhanyut, terlenakan dalam lintas riuh dunia maya. Terus terang, Saya agak terganggu dengan begitu gaduhnya jejalan informasi yang masuk setiap kalinya berselancar di internet. Domain Facebook, misalnya yang diwarnai dengan narsisme, keluhan, yang menurut Saya patut untuk banyak diskip dari arsip waktu kita. Tak semua informasi tersebut berdayaguna bagi diri. Gunakan internet sebagai pintu upaya untuk menambah ilmu.
Tak perlu pasif pula, tapi berikan corak, karakter, dari kehadiran diri di internet. Ada medium blog (yang memungkinkan untuk menjadi arsip intelektual, sekaligus kanal penyebaran ide), ada facebook (dengan aneka fasilitasnya yang cukup mensupport bagi proses persebaran ilmu), ada twitter (berkicau dengan cerdik. Contoh nyatanya ialah kicauan dari Goenawan Moehammad yang telah dibukukan), dan banyak lagi. Dalam istilah Saya, mari menjadi ideolog net. Jangan hanyut, tetapi menjadi arus…

Sebagai penutup artikel, Saya dan Andalah si pemegang kekang kendali teknologi. Mari menjadi manusia modern yang otentik.

Author:

Suka menulis dan membaca

One thought on “Trisula Teknologi

  1. Nama anda adalah Saya atau Anda? Untuk kata ganti orang baik pertama, kedua, ketiga, dst (saya, anda, kami, kita, mereka, dan kalian) digunakan huruf kecil.

    Btw, postingannya menggugah, mestinya memang kita tak perlu diperbudak teknologi. Itulah mengapa klo liburan, nikmati saja liburannya. Toh hidup ga akan berkurang tanpa teknologi. Malahan waktu liburan dan kesempatan bersama-sama akan terlewatkan klo menyimak terus update Facebook… memangnya teman-teman maya ikutan liburan ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s