Posted in Politik

Berternak Badai Partai Demokrat

Takdir sejarah tidak akan membiarkan individu maupun entitas menjalani hari tanpa tantangan dan cobaan. Tantangan dan cobaan dibutuhkan untuk menguji, untuk menaikkan level kompetensi. Lalu bagaimanakah dengan yang dialami oleh Partai Demokrat. Partai yang melesat dalam dua kali keikutsertaannya di Pemilu 2004 dan Pemilu 2009. Belakangan ini boleh dibilang Partai Demokrat tengah menghadapi badai paling dahsyat dalam perjalanannya. Badai yang hadir tidak monokrom, melainkan hadir dalam berbagai rupa dan wajah. Pemilu 2014 merupakan parameter paling valid, akankah partai berlambang bintang mercy ini mampu bertahan atau menjadi artefak sejarah yang akan ditinggal oleh sejumlah elite dan massa pendukungnya.

Cobaan itu menjalani prolognya dengan kesaksian dari Mindo Rosalina Manulang yang mengaku sebagai bawahan dari M.Nazaruddin (Bendahara Umum Partai Demokrat), meski kemudian ditarik statement tersebut, terkait dengan proyek wisma atlet Sea Games. Dari kasus Nazaruddin, domain badai pun menyebar dan liar kemana-mana. Belum berhenti sampai disitu, Andi Nurpati yang sekarang menjabat sebagai Ketua Divisi Komunikasi dan Informasi Partai Demokrat terindikasi terlibat dalam pembuatan surat palsu ketika menjabat di KPU. Kasus Andi Nurpati ini menambah bobot badai, karena seakan menjadi serial dari badai yang menghinggapi partai yang begitu lekat dengan sosok SBY ini.

Badai dan hantaman terhadap Partai Politik merupakan sesuatu yang wajar dan pasti terjadi. Kekuasaan yang menjadi hulu dan hilir dari partai politik merupakan magnet kuat akan hadirnya badai di tubuh partai politik. Badai dapat datang dikarenakan rivalitas yang ditebarkan oleh partai politik lain, maupun dikarenakan dari internal partai tersebut. Menelisik arsip sejarah, kita akan menemui sekurangnya badai pernah menerpa Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera.

Partai Golkar bahkan ketika di awal reformasi dipenuhi dengan tuntutan untuk membubarkan diri. Di era transisi tersebut, Partai Golkar mampu untuk tetap hidup dan berperan dalam masa transisi dan kepolitikan. Daya survival di era reformasi tersebut tidak lepas dari berbagai faktor eksternal maupun internal Partai Golkar itu sendiri. Dengan kesiapan sumber daya internalnya, Partai Golkar mampu survive dan berperan. Keberhasilan Partai Golkar bertahan hidup tidak lepas dari kesiapan partai ini dalam mengelola perubahan yang terjadi. Karena itu, meskipun sedang menjadi “musuh bersama” pada era awal reformasi, keberadaan Partai Golkar beserta kader-kadernya dapat diterima di lingkungan politik baru, karena para politikus dan fungsionaris partai ini dikenal sebagai orang-orang yang memiliki pengalaman dan kemampuan dalam bidang politik, organisasi, dan pemerintahan. (Akbar Tandjung:The Golkar Way).

Akbar Tandjung juga berhipotesis bahwa Partai Golkar survive karena partai ini mampu mendayagunakan kelembagaan (Golkar) yang telah mengakar secara kuat, dan pada saat yang sama partai ini juga melakukan berbagai kebijakan penyesuaian (adaptasi) terhadap lingkungan sistem politik baru yang demokratis. Terbukti Partai Golkar berhasil melewati badainya dan mampu bertahan hingga sekarang sebagai kekuatan politik papan atas Indonesia. Pada pemilu 1999, Partai Golkar memperoleh 22 % (di tengah kepungan tudingan dan tudingan untuk membubarkan Partai berlambang beringin ini); sedangkan pada pemilu 2004 Partai Golkar menjadi pemenang pemilu dengan perolehan 21,6 %. Dalam istilah pimpinan saya di kantor, Partai Golkar merupakan tempat para pendekar politik berkumpul.

Sedangkan Partai Keadilan Sejahtera sempat diguncang isu tak sedap berupa sebagai gerakan Islam garis keras yang menginginkan berdirinya Negara Islam di Indonesia. Citra ekslusif, elitis, serta konsep Islam yang tidak ramah dengan Indonesia serta Arabik juga menjadi bagian dari serangan terhadap Partai berlambang bulan sabit kembar ini. Dengan kerja keras dan nyata di masyarakat, Partai Keadilan Sejahtera bicara langsung kepada masyarakat bahwasanya segala stigma itu tidak benar adanya. Pada pemilu 1999, Partai Keadilan hanya memperoleh 7 kursi di parlemen atau setara dengan 1,36 %. Lalu pada pemilu 2004 di bawah nakhoda HM Hidayat Nur Wahid, Partai Keadilan Sejahtera menjadi rising star dengan perolehan 7,34 % atau setara dengan 45 kursi.

Apa yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera dalam menghadapi sejumlah stigma tersebut? Partai Keadilan yang mengusung slogan Bersih dan Peduli membuktikannya dengan kerja nyata di masyarakat. Bersih dan Peduli terlihat dalam kader partai ini di parlemen yang terbebas dari virus korupsi. Bersih dan peduli terbukti dari kerja-kerja kader Partai dalam sejumlah aktivitas sosial. Dan stigma negatif pun tertepiskan melalui kerja nyata dan terlihat adanya.

Lalu apa gerangan garis merah dari apa yang dialami oleh Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejarah dengan badai yang menerpa Partai Demokrat? Menurut hemat Saya, garis merahnya ialah manajemen terhadap badai. Badai yang dialami partai merupakan faktor yang absolut terjadi (tergantung skala badainya saja, besar atau kecil). Manajemen itulah yang paling penting untuk mengarungi badai dan membuat organisasi dapat bertahan, dan malahan semakin kuat.

Dalam menghadapi badai yang menerpa Partai Demokrat, internal Partai Demokrat gagal memadamkan badai. Internal Partai Demokrat gagal untuk menyelesaikan masalah dengan dingin dan cerdas. Yang terjadi ialah dalam istilah Saya, semakin “berternak badai”. Bukannya memadamkan api, malahan membuat titik api baru. Mulai dari Susilo Bambang Yudhoyono (Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat dan Presiden) yang gamang dalam mengatasi kemelut di tubuh partainya, manuver dari sejumlah petinggi Partai Demokrat yang menunjukkan titik pecah menghadapi masalah, dan sebagainya.

Dalam hal ini, internal Partai Demokrat, menurut hemat Saya belum memiliki kemampuan untuk menjinakkan badai dan menggunakan badai untuk menjadi daya pengungkit suara. Lihat saja bagaimana citra Partai Demokrat yang semakin babak belur. Skala badai juga bahkan telah terlampau liar dan merembet pada pemerintahan. Partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilu 2009, menghadapi skeptisme untuk menatap pemilu 2014. Magnet SBY akan kehilangan masa edarnya pada pemilu 2014 mendatang (batas masa kekuasaan Presiden hanya 2 periode), dan lagi sejumlah tudingan hukum yang hingga kini masih mengganjal.

Jika Partai Demokrat gagal untuk menjinakkan badai, alih-alih berternak badai. Bisa jadi ke depan, kita akan mendapati Partai Demokrat sebagai artefak sejarah masa lalu. Mengalami penyusutan suara, ditinggal konstituen, ditinggal elite partainya yang berpetualang ke partai lain. Kesemua skenario itu dapat terjadi seiring waktu, seiring bayangan badai yang tak kunjung reda. Badai tak pasti berlalu, tergantung pada juru mudi dan awaknya. Mampukah mengarungi badai?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s