Posted in Fiksi Fantasi, Politik, Sejarah

Menjadi Indonesia

17 Agustus 1945 atau 9 Ramadhan 1364 Hijriah merupakan momentum bersejarah bagi negeri Indonesia. Proklamasi kemerdekaan dilaksanakan di kediaman Soekarno yakni Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta. Apa kiranya arti kemerdekaan? Apakah fiksi fantasi di Indonesia telah merdeka? Merdeka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesua berarti bebas (dari perhambaan, penjajahan dsb); berdiri sendiri (tidak terikat, tidak bergantung pada sesuatu yang lain); (W.J.S.Poerwadarminta:Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal 646). Merdeka tentu saja memiliki multi tafsir jika ditanya pada orang per orang. Maka izinkan Saya untuk memberikan tafsir kemerdekaan dalam fiksi fantasi Indonesia.

Salah satu poin yang disorot dalam kemerdekaan ialah tentang intervensi dan pengaruh asing. Ada pertanyaan besar tentang warna, karakter, dari karya fiksi fantasi Indonesia. Diantaranya medium komik yang berkiblat pada gaya Jepang. Secara penggambaran, cerita, ada role model lazim yakni gaya Jepang. Salahkah itu? Apakah hal tersebut sebentuk ketidakmerdekaan dari karya fiksi fantasi? Soekarno dalam pidatonya Pancasila tanggal 1 Juni 1945 memuat konsep kekeluargaan bangsa-bangsa. Dalam konsep tersebut, terdapat filosofi prinsip yakni internasionalisme. Menurut Soekarno, Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme (Herbert Feith dan Lance Castles: Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, hal 20). Dengan demikian ada sinergi, bukan perbenturan. Nasionalisme dan internasionalisme bukanlah oksimoron.

Aroma internasionalisme bukan milik Soekarno en sich. Sejumlah tokoh Indonesia tidak alergi pada dunia luar seperti Hatta dengan politik luar negeri bebas aktif. Hatta sendiri menuntut ilmu 11 tahun di negeri Belanda, sembari melakukan muhibah ke sejumlah Negara Eropa (Lihat Otobiografi Mohammad Hatta, Untuk Negeriku). Syahrir yang juga mengenyam ilmu di Belanda serta pemikiran Sosial Demokratnya merupakan bentuk petualangan literatur yang dilakukannya (Lihat Rosihan Anwar:Sutan Sjahrir, Negarawan Humanis, Demokrat Sejati Yang Mendahului Zamannya). Natsir yang menguasai lima bahasa asing (Belanda, Arab, Inggris, Perancis, Latin), dimana penguasaan atas bahasa-bahasa itu sangat memungkinkan Natsir melakukan ‘penjelajahan intelektual’ yang nyaris tanpa batas dan membentuknya menjadi manusia kosmopolitan (Ahmad Suhelmi:Soekarno Versus Natsir). Dengan demikian, para Founding Fathers Indonesia memiliki basis pemikiran dan wawasan global. Mereka tidak canggung untuk bicara kepada dunia dengan cita rasa Indonesia.

Basis internasionalisme terkuatkan dengan sejumlah fakta berikut: para ulama asal Indonesia yang menuntut ilmu di Makkah, juga menjadikan mereka memiliki wawasan global. Indonesia yang terletak pada persilangan benua Asia dan benua Australia, serta pada Samudera Hindia dan Pasifik (teringat dengan pelajaran “wajib” ini??) memungkinkannya untuk berinteraksi sebagai warga dunia. Terlebih di daerah pesisir, sebagai jalur perdagangan dunia. Dengan demikian terjadi transmisi ide, budaya, dari berbagai belahan dunia.

Wayang yang begitu Indonesia misalnya, mendapat pengaruh deras dari India. Wayang kulit sendiri mendapat pengakuan dari UNESCO pada tanggal 7 November 2003 sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Wayang dalam cerita utamanya menceritakan tentang kisah Ramayana. Bagaimana pertempuran antara kelompok Pandawa dengan kelompok Kurawa. Tokoh lokal untuk kemudian mengisi lakon wayang seperti Semar, Gareng, Petruk.

Sekian penjelasan “Menjadi Indonesia”, yang menurut hemat Saya mematahkan opini untuk menjadikan karya fiksi fantasi Indonesia menutup diri dari pengaruh “Negara kuat fiksi fantasi”, ataupun membenturkan antara “Nasionalisme Fiksi Fantasi” dengan pengaruh asing. Beranjak dari pengalaman sejarah yang diungkap di atas, nyatanya nasionalisme Indonesia berjalan beriringan dengan internasionalisme.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s