Posted in Sosial Budaya

Terima Kasih Deadline

Ada satu kata yang mewakili berbagai emosi. Kata itu adalah deadline. Deadline dapat menghadirkan rupa-rupa emosi dalam waktu yang serba terbatas. Apakah anda seorang deadliners? Terus terang Saya merasa terbantu dengan adanya kata deadline. Deadline membuat sejumlah pekerjaan dapat terselesaikan. Deadline dapat memadatkan waktu untuk memfokuskan pada selesainya sekelumit target. Mungkin jika tidak ada kata deadline, sejumlah target akan terlupakan begitu saja, begitu banyak tulisan yang hanya sekedar menjadi ide di kepala, ataupun coretan yang belum selesai.

Berleha-leha dengan waktu, dapat mendelusikan diri dan membuat waktu terbunuh percuma saja. Deadline merupakan mekanisme buffer dari istilah berleha-leha dengan waktu. Biasanya dari pengalaman Saya, penggunaan durasi waktu berada dalam fluktuasi. Ada era berleha-leha dengan waktu (biasanya di hari libur dan weekend, ataupun kalau mood sedang tidak in dengan pekerjaan). Ada era penuh fokus (ketika detik-detik deadline sudah semakin dekat). Deadline ibarat pisau tak kasat mata. Yang terus mengayun di benak pikiran. Tidak dilihat oleh orang kebanyakan, tapi kita merasakannya. Deadline merupakan pisau tak kasat mata personal.

Saya selalu berada pada ragam emosi ketika bertemu dengan kata deadline. Mari saya absen ragam rasa itu:cemas, fokus, penyingkiran segala faktor pengganggu, sewot, tantangan, waktu yang bergerak tidak normal, dan segala kata yang belum terwakili. Deadline ibarat penaklukan, sebuah peperangan. Berada di kata deadline seakan melemparkan diri pada dimensi dunia yang berbeda. Pendulum waktu bergerak tidak biasa, tiap detik waktu menjadi begitu berharga.

Sensasi rasa itulah yang selalu Saya rasakan. Lalu biasanya ketika tugas telah terselesaikan sembari dengan kelelahan pikiran dan fisik, Saya akan berkeinginan untuk tidak lagi merapatkan waktu dengan deadline dalam mengerjakan sesuatu. Tapi seperti jalan berputar, Saya kembali terdampar di kata deadline. Berdansa dengan tekanan deadline. Ataukah memang sebenarnya Saya mencintai deadline. Tekanannya, kemampuan kata deadline untuk mengeluarkan segala potensi, kompetensi. Apapun itu, Saya hanya ingin mengangkat topi, menundukkan punggung dan berkata:”Terima Kasih Deadline.”

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Terima Kasih Deadline

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s