Posted in Fiksi Fantasi, Film, Teknologi

Apakah Anda Monster?

Thomas Hobbes pemikir yang lahir dan mengalami proses intelektualisasi dalam situasi sosial politik anarkis abad XVII menuturkan sebuah tesis bahwa manusia akan menjadi serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus). Tesis dari Hobbes dilandasi bahwa persaingan akan melahirkan rangsangan-rangsangan alamiah untuk menggunakan kekuasaan dalam diri manusia. Dalam menghadapi persaingan, manusia terdorong untuk menggunakan kekuasaan yang ada padanya. Kecendrungan itu semakin kuat mengingat manusia pada dasarnya adalah makhluk pemburu kekuasaan. Berdasarkan asumsi itu, Hobbes berpendapat bahwa kehidupan manusia akan selalu diwarnai oleh persaingan dan konflik kekuasaan.

Kekerasan menjadi alat paling ampuh yang sering digunakan dalam persaingan dan konflik itu. Tak mengherankan menurut Hobbes bila kemudian secara alamiah manusia akan saling memerangi manusia lainnya. Semua manusia akan berperang melawan semua (bellum omnium contra omnes) (Ahmad Suhelmi:Pemikiran Politik Barat, hal 171-172).

Pada hari Sabtu malam kemarin (8 Oktober 2011), Saya menonton film di Trans 7 yang berjudul How to Make a Monster (2001). Terus terang yang menyebabkan Saya memutuskan untuk menonton film tersebut dikarenakan adanya irisan dengan tema fiksi fantasi. Secara sederhana, dikisahkan ada 5 orang yang dikarantina untuk membuat sebuah game. Imbalan uang sebesar 1 Juta Dollar bagi pembuat game terbaik akan menjadi ganjarannya. Dari deretan pemeran utama, ada dua orang yang Saya kenali mukanya. Yang pertama ialah pemeran Hardcore (Tyler Mane). Tyler Mane merupakan pemeran Sabertooth dalam film X-Men (tahun 2000) (yang bagi Saya benar-benar mengecewakan kualitas dari X-Men). Sosok kedua yang Saya kenali ialah si pegawai magang bernama Laura (Clea DuVall). Clea DuVall pernah bermain dalam film The Faculty (1998) dengan peran sebagai seorang gothic. The Faculty sendiri menurut Saya seru dan menghibur (Anda dapat melihat akting dari Elijah “Frodo Baggins” Wood. Ajaibnya Elijah Wood tetap berwajah muda sejak dulu, apakah dia hobbit?)

Film How to Make a Monster sendiri secara tampilan visual tidak begitu menarik. Latar tempat kebanyakan berada di tempat karantina (kantor). Sehingga penonton hanya akan berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Game Evilution yang dirancang oleh para kreator games secara grafis begitu oldies. Mungkin secara tampilan menarik bagi para arkeolog, ataupun mereka yang menyukai sesuatu yang beraroma vintage.

Film How to Make a Monster mengurai tentang relasi persaingan dan persahabatan antara kelima tokoh utama dalam film. Ada Hardcore, Sol, Bug, Drummond, Laura. Hanya Laura satu-satunya dara di tokoh utama. Laura sebagai pegawai magang tampil dengan karakter protagonis. Keluguan, kebaikan, pengabdian dalam pekerjaan ditunjukkannya. Laura-lah yang menyiapkan segala pernak-pernik kebutuhan para kreator game. Mulai dari obat jerawat, anggur antik, memberi makan ikan. Laura ibarat si cantik yang terdampar diantara orang-orang aneh dan freak.

Pada beberapa kasus keanehan para gamers dan pembuat games memang dapat akut. Keakutan tersebut bisa jadi seperti berada di orbit dan dunia yang berbeda dari bumi. Hujaman dari fiksi fantasi telah begitu kuat, sehingga mengaburkan batas antara dunia fiksi dan dunia nyata. Di Jepang misalnya dikenal dengan istilah hikikomori. Hikikomori sendiri menurut bapak blogger Indonesia (Enda Nasution) sebagai Masuk kamar dan tidak keluar lagi. Meninggalkan dan menutup diri dari dunia luar. Kebanyakan menghabiskan waktu dengan bermain game atau musik, atau menghabiskan waktu di depan komputer dan entah apa lagi yang mereka kerjakan di dalam kamarnya (http://enda.goblogmedia.com/hikikomori.html).

Kembali ke film, keberadaan Laura yang terdampar diantara orang-orang aneh dan freak sempat diulas melalui dialog antara Drummond (si pemimpin proyek) dan Laura. Drummond bertanya mengapa Laura bersedia menghabiskan waktu dengan sekumpulan orang aneh dan tidak pergi saja berpacaran dengan pria seperti kebanyakan wanita lainnya. Dan Laura pun menjawabnya bahwa itulah pilihan dia untuk berada diantara orang-orang aneh tersebut serta dirinya ingin belajar lebih banyak.

Tim pembuat game sebenarnya hanya terdiri dari 3 orang yakni Hardcore, Sol dan Bug. Hardcore bertugas untuk mengcover sisi pertarungan. Tak mengherankan selain secara postur tubuhnya tinggi besar seperti pegulat dalam WWF Wrestling, dirinya juga hobi mengkoleksi berbagai macam senjata abad pertengahan seperti pedang, kapak, perisai. Sol bertugas untuk mengatur hardware dan software dalam game. Pria berkulit hitam ini mengatur sistem agar berjalan baik. Sedangkan Bug bertugas pada pengisian suara. Keanehan Bug terlihat misalnya dengan memilih ruang kerja di toilet. Alasannya sih untuk mendapatkan audio suara yang lebih baik.

Saling curiga, persaingan, paranoid, terlihat nyata dari tokoh Drummond, Hardcore, Sol, dan Bug. Hal tersebut tergambar dari tempat kerja yang terpisah (seakan menjadi kuil masing-masing) dan dari gesture kesemuanya. Aksi sabotase misalnya dilakukan Sol terhadap Hardcore, sehingga keduanya sempat adu mulut dan nyaris bentrok fisik. Uang satu juta dollar telah menjadi magnet yang menumbuh suburkan bibit-bibit monster dalam diri manusia.

Waktu di karantina terus melaju, masing-masing dari ornamen bekerja sesuai dengan segmentasi keahliannya untuk membuat game petualangan monster yang menarik. Prototipe dari Evilution (nama gamenya) pun diujicobakan oleh Sally, Hardcore, Sol dan Bug. Gamenya sederhana hanya berpetualang bertarung melawan sekumpulan monster (dalam berbagai bentuk, ada yang tengkorak, ada yang seperti kelelawar) dan mengalahkan monster-monster tersebut. Tagline dari gamenya ialah Membunuh atau Dibunuh. Sebuah tagline yang sudah tersohor dalam dunia pertarungan dan peperangan.

Menjelang waktu 1 bulan masa karantina berakhir, game telah nyaris usai. Namun, sebuah hujan badai menyebabkan terjadinya efek enigma bagi game Evilution. Terjadi arus balik sehingga artificial intelligence dalam komputer mengambil alih. Kecerdasan buatan dalam game kini menyata dalam kehidupan nyata. Jika normalnya baju telemetri dikendalikan oleh model lalu gerakannya diikuti komputer. Akibat dari hujan badai, komputer dengan kecerdasan buatannya mengendalikan baju telemetri.

Sekilas laju film yang tadinya bermuatan fiksi fantasi menjadi cerita horor macam kisah Jason dengan parang dan topengnya. Baju telemetri lalu memburu kelima orang yang berada di dalam karantina. Ingat tagline membunuh atau dibunuh telah terprogram dalam-dalam. Korban pertama dari baju telemetri yang telah dikendalikan oleh komputer ialah Sol. Sol yang sedang mencoba game monster tersebut, tiba-tiba ditarik dari bawah meja dan dialmarhumkan.

Kematian Sol pertama kali ditemukan oleh Hardcore dan Bug. Bug sempat berkeras untuk menelepon polisi untuk melaporkan kematian Sol. Namun, Hardcore mempersuasi bahwa jika polisi datang tempat ini akan ditutup dan game Evilution akan gagal terselesaikan dan uang 1 juta dollar pun melayang. Hardcore memandang kematian Sol sebagai berkurangnya saingan dan kemungkinan pembagian 1 juta dollar. Akhirnya mereka sepakat dan menyembunyikan mayat Sol di lemari sapu. Bagaimana persaingan dan nafsu akan uang telah merasuk dan mengkudeta rasa kemanusiaan.

Baju telemetri lalu mengambil tubuh Sol sebagai bentuk fisik dirinya, setelah sebelumnya hanya berbentuk rangka. Guliran korban berikutnya ialah Hardcore. Hardcore sempat bertarung habis-habisan dengan baju telemetri yang dikendalikan komputer. Tapi, apa daya Hardcore menemui kekalahannya. Hardcore memilih untuk bertarung dalam ruang kerjanya, sedangkan Bug, Drummond, dan Laura berada di luar. Dari kaca pintu adegan berdarah pertarungan terjadi.

Ketegangan memuncak. Lalu ketiga manusia yang tersisa berembuk untuk menuntaskan masalah ini. CD cadangan dan memodifikasi sistem utama merupakan jalan yang dapat menghentikan kegilaan dan kekacauan yang disebabkan oleh artificial intelligence dari komputer game tersebut. Namun, CD cadangan yang memuat game raib. Sehingga Bug dan Drummond (si pemimpin proyek) memutuskan untuk memodifikasi sistem utama yang terdiri dari sistem komputer besar. Bug mengotak-atik sistem utama, sedangkan Drummond mencari tahu keberadaan si baju telemetri. Di sela kepanikan, Bug lalu menancapkan obeng di saklar utama dengan maksud mematikan sistem utama. Namun yang terjadi ialah terkuncinya masing-masing ruangan. Sehingga baik Laura, Bug, dan Drummond terpisah ruangan.

Melewati saluran udara di atap merupakan jawaban untuk berpindah ruangan. Namun, malang bagi Bug, dirinya terjatuh di ruang kerjanya (toilet). Diiringi dengan aneka ragam teror suara dari efek yang dihasilkan Bug untuk game monster tersebut. Hingga tersadarlah Bug bahwa si monster dengan perlengkapan perang lengkap kini (hasil dari memasang sejumlah perlengkapan dari Hardcore. Hmm..nampaknya si monster telah naik level). Babak belurlah Bug dihantam kesana kemari seperti bola pingpong. Sedangkan Laura dan Drummond berusaha membantu dengan menuju tempat kerja Bug lewat saluran udara di atap.

Bug tahu persis dirinya akan mati, namun setidaknya dia ingin membawa si monster ikut mati bersamanya. Dengan menggunakan gas dari kompor yang terurai di udara, Bug menyalakan api. Sehingga muncullah ledakan dan lautan api. Akhir dari riwayat Bug. Laura dan Drummond kemudian berusaha untuk keluar dari tempat karantina. Laura mengacak-acak tumpukan barang yang telah berantakan. Sampai dia menemukan rekaman kamera CCTV. Faktanya menyakitkan dirinya. Ternyata CD cadangan yang dapat mengakhiri si monster dicuri oleh tak lain, dan tak bukan oleh Drummond (si pemimpin proyek).

Laura pun menodongkan pistol sembari mengkonfirmasi kepada Drummond. Drummond sembari terkekeh mengkonfirmasi tentang keserakahan dan ambisinya. Ia berniat untuk menjual game tersebut kepada perusahaan kompetitor pesaing. Sembari melontarkan kalimat retoris Drummond berkata “Why not?” Laura memutuskan untuk menembak kaki Drummond. Meski kesakitan Drummond berusaha menyerang balik dari belakang dengan menggunakan crossbow. Namun, ia tidak menyadari bahwa si monster telah hadir di belakangnya untuk kemudian melakukan gerakan seperti fatality di mortal combat.

Laura sebagai manusia terakhir memilih untuk bertarung dengan si monster. Ia menggunakan kacamata game yang mengingatkan Saya pada video klip Kla Project berjudul Romansa. Pertarungan adu pedang antara Laura dan si monster terus berlangsung hingga berpindah ruang. Tibalah keduanya di akuarium tempat ikan. Laura memutuskan untuk memecahkan kaca akuarium sehingga airnya membanjiri ruangan dan tersetrumlah si monster. Untuk memastikan akhir, Sally menancapkan pedang di jantung si monster.

Scene pun berpindah. Kini Laura telah berpakaian rapi dengan kesan lebih dark (dari semula dirinya yang lugu dan percaya kepada kebaikan manusia). Laura pun meminta bayaran 1 juta dollar atas CD cadangan yang dipegangnya atas permainan Evilution. Dengan mengancam, Laura memainkan kartu politik dan mendapatkan keinginannya.

Scene pun berpindah lagi. Kini Laura sibuk marah-marah persis seperti Drummond si pemimpin proyek yang licik. Laura kini begitu mirip dengan si pemimpin proyek. Arogannya, gaya sombongnya, obsesi uangnya. Lalu, calon pekerja magang datang untuk diwawancara oleh Laura. Dengan tak acuh Laura menanggapi pertanyaan dari si calon pekerja magang. Sampai akhirnya si calon pekerja magang bertanya, Apa rahasia sukses Anda? Laura langsung bertindak serius dan menjawab sepenuh jiwa. Laura menjawab rahasia suksesnya ialah “Jangan bersikap baik. Karena kita hidup di dunia dimana sifat jahat jadi pemenang. Karena di dalam hati kita adalah monster.”

Laura pun teringat dengan memori sehabis dia mengalahkan si monster, terdapat cekungan air di dunia game. Di cekungan air tersebut ketika Laura berkaca, dan yang dia lihat adalah sesosok monster.

Menurut hemat Saya, film How to Make a Monster merupakan sebuah film yang mempertanyakan kemanusiaan kita. Mempertanyakan tentang kerja dunia. Mempertanyakan tentang kehidupan. Bagaimana ambisi dan keserakahan telah membuat manusia dapat saling memangsa. Persis seperti apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes di dua alinea pertama artikel ini. Memburu kekuasaan, konflik, persaingan, bisa jadi menghadirkan monster dalam diri manusia. Kemanusiaan yang luhur dan mulia menjadi luntur. Manusia seperti para pencabik pemangsa di puncak piramida dengan leleran darah dan tawa yang menyeramkan. From turning into a monster and eating us alive- seperti lirik lagu monster dari band Paramore. Jadi wajarlah jika Saya bertanya pada akhir artikel ini:”Apakah Saya monster?” “Apakah Anda monster?” Saya pikir masing-masing dari diri kitalah dengan menggunakan hati nurani akan mampu menjawabnya.

Referensi Tulisan:Ahmad Suhelmi:Pemikiran Politik Barat; http://www.imdb.com/title/tt0281919/; Lirik Lagu Monster Band Paramore; http://enda.goblogmedia.com/hikikomori.html; Ask the friend

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s