Posted in Sosial Budaya

Menunggu

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata “menunggu”? Jemu, bosan, waktu yang tersia-siakan? Menunggu ternyata memiliki definisi lainnya. Menunggu adalah sebuah proses. Terkait dengan komputer, menunggu dapat dikaitkan dengan konsep loading. Saya percaya menunggu adalah fase yang perlu dalam kehidupan kita. Menunggu adalah sebuah proses waktu, dan kita harus melaluinya. Menunggu melatih diri untuk bersabar, tidak terburu-buru. Bersabar bahwa segalanya membutuhkan waktu. Buah yang matang di pohonnya pun membutuhkan proses, nasi yang anda makan pun membutuhkan proses panjang. Hidup ini memang memiliki proses pertumbuhannya.

Allah Swt yang maha berkuasa dapat menitahkan melalui kun fayakun. Namun, Allah Swt mendidik manusia untuk melalui proses dan sejumlah kata tunggu. Lihatlah bagaimana risalah para nabi menuturkan tentang proses dan perkembangan. Bagaimana proses menunggu, merupakan sebuah kerja keras dan upaya mematangkan. Nabi Muhammad melalui sejumlah siklus sebelum akhirnya turun Surat Al Maidah ayat 3, yang menyatakan “Pada hari ini telah kusempurnakan agamaku”. Proses dan kata menunggu dibutuhkan untuk mematangkan sebagai mekanisme pengujian. Banyak kiranya yang gagal dan tidak sabar untuk melalui proses menunggu ini, maka yang terjadi ialah karbitan dan menuai sebelum cemerlang.

Ketidaksabaran berproses inilah yang menjadikan segalanya serba instan dan kehilangan makna filosofisnya. Makanan fast food merupakan fungsi turunan dari potret besar ketergesaan kontemporer. Ada banyak sisi yang ternyata kurang baik dari makanan cepat saji pada realitanya. Dan saya percaya kehidupan kontemporer kini menyajikan begitu banyak short cut, jalan pintas, instan dimana-mana. Kita pun tanpa disadari menjadi manusia “cepat”. Segalanya ingin cepat dan instan. Membaca cepat, maka yang dibaca hanya review dari tulisan, kata pembuka dan kesimpulan. Menulis cepat, maka yang dilakukan ialah menjahit sana-sini dari tulisan yang sudah ada. Fakta tersebut sekedar contoh, bagaimana substansi, kedalaman filosofi menjadi hilang dari diri. Membaca, tanpa dapat menelusuri setiap jejak makna dalam kalimat. Menulis, tanpa dapat menelusuri peluhnya membidani setiap jiwa kata.

Jika segalanya terus berjalan dengan mekanisme percepatan, instanisme, mengesampingkan proses dan kata menunggu, saya percaya peradaban ini akan kelelahan dan berada pada siklus menurunnya. Sejenak berhentilah dan nikmati proses menunggu. Sejenak berhentilah dari segala instanisme. Sejenak berhentilah dan menjiwai segala proses dari setiap yang ada. Hayati betapa segala sesuatu memiliki waktunya untuk menjadi sesuatu. Dengan demikian kata menunggu dan proses dapat mengalami redefinisi. Menunggu bukan sekedar jemu, bosan, kesia-siaan, tetapi sebagai bagian dari proses kehidupan. Proses menuju kematangan. Selamat menunggu dan selamat berproses.

Advertisements
Posted in Fiksi Fantasi, Film

Tintin: Cita Rasa Teknologi, Minor Drama (1)

Apa jadinya jika Peter Jackson dan Steven Spielberg berkolaborasi menghasilkan satu karya? Ketika pertama kali mendengar The Adventures of Tintin (2011) dikerjakan bareng di tangan Peter Jackson dan Spielberg derajat ekspektasi saya terhadap film ini begitu membubung tinggi. Wajar saja mengingat rekam jejak mereka yang begitu mentereng. Kemampuan dalam mengkombinasikan high technology, jalan cerita yang menarik, sisi humanis yang kuat, menjadi daya ledak bagi Peter Jackson dan Spielberg. Namun balon harapan saya mulai menyusut ketika kakak saya memverdict bahwa The Adventures of Tintin mendapatkan nilai lumayan. Sebagai informasi biasanya rating penilaian saya dan kakak saya tidak beda-beda jauh.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk menonton The Adventures of Tintin. Tentu sejak semula The Adventures of Tintin masuk dalam list film wajib tonton bagi saya. Dan dalam artikel ini berikut uraian tentang film The Adventures of Tintin. Saya minta maaf terlebih dahulu karena tidak dapat memulai ulasan ini dari awal cerita film. Dikarenakan saya datang ketika film telah diputar. Sebabnya ialah Jakarta yang dilanda hujan lebat, dan terjebaklah saya dalam kemacetan di peak hour plus hujan yang menderas. Jadilah saya menonton terlambat sekitar 20 menit dengan pakaian kuyup. Scene pertama yang saya lihat ialah ketika Tintin bertemu dengan Thompson & Thomson. Thompson & Thomson sedang menyelidiki tentang kasus pencurian dompet yang sedang marak terjadi.

Taktik untuk menangkapnya ialah dengan memasangkan tali pada dompet sehingga si pencuri akan terjebak. Si pencuri yang ternyata seorang tua melancarkan aksinya dan jebakan tali pun bekerja dengan baik. Thompson & Thomson pun mengejar si pencuri yang bertubrukan dengan Tintin. Si pencuri dompet pun kabur sembari menilep dompet Tintin, tanpa bisa dikejar oleh Tintin dan dua detektif tersebut. Scene tersebut bagi saya begitu menawan secara mata dan teknologi. Bagaimana begitu rapi teknologi dan gambar yang digunakan dapat menggambarkan secara akurat sehingga benar-benar mirip dengan manusia. Baik itu raut wajah, postur fisik dan gesturenya

Cerita pun berlanjut dengan Tintin yang disekap dengan alkohol lalu dimasukkan dalam partisi menuju kapal besar yang akan berlayar jauh. Daya aksi terjadi ketika Snowy (anjing Tintin) berusaha untuk menolong majikannya. Mulai dari bergelantungan di atap mobil, melewati kawanan sapi, bagaimana dengan story board yang prima dan memperhitungkan aksi dan humor. Kapal pun berlayar dengan Snowy sebagai penyusup. Tintin terbangun dari pingsannya, langsung berada di bawah ancaman Sakharine yang meminta potongan kalimat dari bahasa Inggris kuno yang menjadi bagian dari puzzle dalam misteri kapal unicorn. Tintin telah kehilangan potongan kalimat itu, sebab potongan kalimat teka-teki itu berada di dompetnya yang dicuri.

Berada dalam tawanan, kecerdikan Tintin diuji kali ini. Bagaimana dapat meloloskan diri dari sekapan. Tintin pun menjalankan upaya pelolosan dengan menutup kaca pintu dan menahan putaran pintunya. Tintin memutuskan untuk melemparkan kayu dan naik ke jendela atas yang terbuka dan memancarkan sinar cahaya. Sementara itu, dua orang armada dari Sakharine diperintahkan untuk menghajar, menginterogasi Tintin hingga mengaku dimana potongan kalimat tersebut. Ketika kedua anak buah Sakharine tiba di tempat penyekapan Tintin, mereka mendapati pintu tak bisa dibuka. Mereka pun menggunakan peledak untuk membuka pintu. Ketika pintu terbuka, taktik plus kecerdikan Tintin pun bekerja dengan menggunakan “tembakan gabus penutup sampanye”. Sehingga seolah-olah mereka diserbu dengan senjata api.

Tintin yang cerdik dengan Snowy telah berhasil melarikan diri ke jendela yang terbuka. Ternyata itu adalah tempat Haddock, si kapten kapal yang dibajak kapalnya. Bicara tentang bajak membajak ini, mengingatkan saya pada Jack Sparrow dalam Pirates of the Carribean. Haddock merupakan seorang pemabuk berat yang terjebak dalam “penjara alkohol” sehingga dirinya benar-benar tak berdaya untuk melakukan sesuatu. Tintin berhasil menyadarkan Haddock untuk bangkit melawan. Perlawanan pun dimulai dengan upaya mengendap-endap dan mengambil sekoci kapal.

Sedangkan armada kapal telah dikerahkan untuk mencari Tintin yang kabur dari sekapan bersama dengan Haddock. Sembari mengendap-endap, terungkaplah fakta bahwa sesungguhnya Haddock merupakan bagian krusial bagi teka-teki kapal unicorn. Haddock merupakan keturunan terakhir dari klan Haddock, sehingga harusnya kapten Haddock mengetahui kunci teka-teki kapal unicorn tersebut. Haddock pun bercerita bahwa di hari-hari terakhir kakeknya, dirinya pernah diceritakan tentang cerita turun temurun yang menjadi kunci puzzle dari kapal unicorn. Namun, Haddock si pemabuk keesokan harinya telah lupa dengan cerita tersebut. Arti penting kapten Haddock juga terungkap ketika Sakharine menginginkan si kapten kapal pemabuk tersebut ditangkap hidup-hidup.

Tintin, Snowy dan Haddock berupaya untuk keluar dari kapal, namun keduanya menemui pintu yang terkunci. Haddock pun memberikan opsi dengan mengambil segepok kunci dari kawanan armada kapalnya yang tertidur lelap. Haddock sempat memperingatkan tentang betapa berbahaya dan ahlinya para armada kapalnya yang sedang dalam tidurnya tersebut jika sampai terbangun. Tintin dan Snowy sembari berakrobat berupaya untuk mengambil segepok kunci. Awalnya saya sempat mengira kawanan yang tertidur tersebut dengan sejumlah keahliannya akan terbangun dan mengejar Tintin. Nyatanya tidak. Upaya pengambilan kunci yang dramatik sembari memperlihatkan bagaimana kawanan yang tertidur terlelap tersebut terayun-ayun seperti pendulum, lagi-lagi memperlihatkan primanya teknologi yang dipakai. Akhirnya Tintin mendapatkan kunci pintu tersebut.

Dan kembali penonton dibuat tertawa ketika pintu yang terkunci tersebut ternyata berisi persediaan minuman keras Haddock, bukan jalan keluar. Tintin, Snowy dan Haddock melanjutkan upaya pelarian sembari mengendap. Tintin yang mencuri dengar rencana dari armada Sakharine, lalu mengirimkan pesan dengan menggunakan pesan radio. Sakharine ternyata memiliki senjata rahasia yang akan digunakannya di hari-H pencurian replika kapal Unicorn. Replika kapal unicorn tersebut ternyata dimiliki oleh Sultan Maroko, sehingga jelaslah destinasi dari kawanan Sakharine. Sultan Maroko memang memiliki hobi untuk mengumpulkan segala macam barang berharga.

Potongan sifat kolektor dari Sultan Maroko ini mengingatkan saya akan salah satu sebab dari Arab Spring. Yap, ada disparitas yang teramat besar antara para penguasa yang bergelimang kekayaan dengan rakyatnya yang kesulitan hidup dan terjerat kemiskinan. Sedangkan pesan dari Tintin kepada kedua detektif Thompson & Thomson dengan menggunakan sandi morse mengingatkan saya pada berbagai macam bahasa sandi ketika dulu di bangku SD mengikuti pramuka. Ada sandi morse, sandi rumput, semaphore. Apakah anda masih ingat dengan bahasa sandi-sandi tersebut?

Kembali ke cerita Tintin, Haddock berupaya untuk menurunkan kapal sekoci. Ternyata di kapal sekoci yang akan diturunkan terdapat satu armada kapal yang sedang asyik mabuk dengan botol-botol miras berderetan di sekoci tersebut. Haddock menjatuhkan sekoci tersebut ke lautdan memilih untuk menurunkan sekoci yang lainnya. Tintin sementara itu, terungkap pengendapannya oleh armada kapal. Dan kembali scene aksi terjadi lagi. Mulai dari tembak-tembakan dan baku hantam pun terjadi. Akhirnya Tintin, Haddock, Snowy berhasil melarikan diri dengan sekoci. Lampu tembak kapal diarahkan untuk mencari mereka dan tersorotlah sekoci yang berisi botol minuman keras. Tanpa ampun sekoci tersebut dihantam dengan dilindas oleh kapal besar tersebut.

Arti penting dari Haddock kembali terkonfirmasi ketika Sakharine marah besar terhadap pelindasan sekoci tersebut. Meski kemudian salah satu armada kapal menyadari bahwa ada satu lagi sekoci yang hilang. Pagi pun menjelang, Tintin, Snowy, Haddock berupaya untuk pergi ke Maroko dengan perahu kecil tersebut. Tintin dan Snowy yang terhantam dengan dayung oleh Haddock hingga pingsan, tiba-tiba terbangun dengan kekagetan. Haddock malah membuat api unggun dengan bahan kayu-kayu perahu kecil tersebut, termasuk dayungnya. Hal ini dilakukan Haddock dengan basis pemikiran, mereka kedinginan di tengah laut. Namun, tindakan Haddock ini tentu saja fatal bagi petualangan mereka. Tantangan untuk kemudian menguat, ketika sebuah pesawat udara kecil berbangku dua penumpang terbang sembari menembaki mereka.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Bersambung dulu ya…

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Sosial Budaya, Teknologi

Hari Libur Internet

Pernahkah anda merasa internet seperti black hole? Sekuat anda melawan, berbagai upaya untuk menghindar, namun kembali tertarik pada “magnet” internet. Seperti bertekuk lutut, menyerah kalah pada teknologi yang satu ini. Kemutakhiran era tidak selalu serta merta menghadirkan segala yang positif. Setiap era selalu memiliki derajat permasalahan dan ragam dilema. Kali ini saya mengajukan satu usulan yakni hari libur internet. Hari libur internet ialah satu hari dalam seminggu benar-benar 100% tidak membuka internet. Sebelum saya mewacanakan usul hari libur internet, saya sendiri telah menerapkan hari libur internet. Biasanya saya meliburkan diri dari internet pada hari Sabtu dan Ahad.

Apa pentingnya hari libur internet? Ada beberapa mozaik manfaat yang dapat direguk dengan meliburkan diri dari internet. Berikut beberapa manfaatnya: anda bisa hidup tanpa internet, dapatkan waktu nyata, menghapus kecanduan internet, masih banyak keindahan dan kewajiban hidup.

# Anda bisa hidup tanpa internet

Asumsi modernitas dan setiap harinya anda harus terkoneksi dengan internet merupakan ide yang salah menurut hemat saya. Anda masih tetap bisa hidup kok, walau sehari saja tanpa berinternet. Kehidupan akan tetap berjalan dengan lajunya. Mungkin anda pernah mengalaminya, pergi ke daerah yang tidak mendapatkan layanan penuh internet. Alhasil terpisahlah anda seharian dari internet. Toh dalam hari itu anda bisa tetap survive. Sekali waktu meliburkan twitter, facebook, email. Memberikan jarak antara dunia maya dan dunia nyata.

# Waktu nyata

Ada istilah “Yang dekat menjadi jauh, yang jauh menjadi dekat”. Mari robohkan delusi teknologi. Robohkan tembok destruktifnya. Berikan waktu yang nyata pada orang-orang terdekat, bukan sekedar berada dalam satu ruang tapi berkelana ke dunia maya. Hadapi kenyataan kekinian. Jangan autis dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di real time. Ilustrasi dari video klip Begitu Indah oleh Band Padi menurut saya begitu mengena dengan poin ini. Dikisahkan bagaimana begitu majunya teknologi sehingga sentuhan terhadap daun yang berguguran, bunga yang bermekaran dimungkinkan dengan teknologi. Namun, akhirnya personel Padi, memilih keluar dari segala tawaran teknologi tersebut, mereka keluar dan merasakan langsung bagaimana indahnya daun yang berguguran, bunga yang bermekaran.

Bagaimana kiranya dengan kita? Sedikit banyak internet telah menawarkan delusi keindahan dan persahabatan. Mari jenguk langsung keindahan dan persahabatan. Temui orang-orang terdekat anda dengan bertatap muka, tidak sekedar bersua via dunia maya. Lihat mata mereka, amati gesture mereka, tertawa dengan lepas. Hiduplah benar-benar dengan waktu nyata, berikan atensi pada kehidupan nyata dan orang yang ada di hadapan anda.

# Menghapus kecanduan internet

Dalam 24 jam, bisa jadi pola hidup manusia sekarang begitu terkait dengan internet. Rhenald Kasali memotretnya dengan menyatakan ketika bangun pagi yang pertama dicek ialah notisfikasi di facebook. Kehidupan manusia kontemporer bisa jadi dari bangun pagi hingga menjelang tidur selalu terkait dan terikat dengan internet. Bagaimana dengan anda? Internet bukan saja ketika pagi membuka mata dan malam menjelang tidur, melainkan menyita waktu-waktu di saat jam produktif kerja. Lama kelamaan kecanduan internet terjadi. Internet dan diri merupakan unsur yang tak dapat dipisahkan.

Hari libur internet bagi yang telah dalam fase kecanduan internet merupakan solusi untuk terbebas dari patologi tersebut. Bagi para pecandu internet akan timbul resistensi untuk menerapkan hari libur internet. Saran saya ialah tekadkan diri, kuatkan diri untuk melakukan hari libur internet. Ingat manfaat jika terlepas dari kecanduan internet, ingat tentang bagaimana internet telah membelenggu waktu dan membuat sejumlah pekerjaan terbengkalai. Melakukan hari libur internet berarti menginjeksikan habbit baru. Sebuah pola tradisi terjadi melalui serangkaian kegiatan berulang. Maka untuk menangkal racun kecanduan internet, harus melawannya dengan melakukan pembiasaan berlepas dari internet.

# Masih banyak keindahan dan kewajiban yang harus dipenuhi

Berselancar di internet dapat menyedot waktu dan atensi terhadap segala sesuatu. Nyatanya masih banyak keindahan yang ada di bumi ini. Dibanding mensearching data dan mengangankan suatu tempat, datang ke tempat tersebut lebih indah kiranya. Ada keindahan yang tak dapat didefinisikan dalam perjalanan. Dan kali ini anda punya privilege untuk menikmatinya personal, tanpa harus repot membaginya kepada khalayak. Satu potongan fragmen dalam film The Smurfs (2011) menggambarkan bagaimana ada keindahan yang terlewat. Sementara orang-orang sibuk dengan gadget, sibuk berselancar di dunia maya, Patrick (si tokoh utama) mendapatkan keindahan dari melihat bayi yang bermain dengan orang tuanya.

Seberapa banyak sebenarnya momen keindahan yang terlepas dari mata, padahal keindahan itu nyata adanya. Kita hanya perlu melihat dan sejenak menyisihkan internet. Hari libur internet juga memberi waktu bagi berbagai kewajiban yang belum terlaksana. Saya percaya kewajiban yang kita miliki lebih banyak dari waktu yang ada. Kewajiban dengan pekerjaan yang sekian lama tertunda, kewajiban untuk senantiasa belajar, kewajiban sebagai makhluk sosial, dan sebagainya. Mari putuskan koneksi internet sejenak dari diri kita dan penuhi segala kewajiban yang kita miliki.

Teknologi tidak selalu membantu. Teknologi dapat menjadi entitas yang menjerumuskan dalam kesia-siaan. Mari maknai waktu dan memberi arti pada waktu. Setujukah anda dengan satu hari dalam seminggu tidak berinternet?

Posted in Edukasi, Sejarah, Sosial Budaya

1 Tahun Ngeblog

Hujan, panas, pergantian musim, apa yang bisa ditangkap oleh titel berjudul satu tahun? 365 hari adalah cerita. Bukan sekedar limpahan waktu yang kosong tanpa pemaknaan. 1 tahun adalah sebuah perjalanan meniti hari, mengumpulkan repihan mozaik yang berguna kiranya. 1 tahun adalah rangkaian kisah yang termaktub dalam lembar demi lembarnya. Maka kali ini saya ingin menghaturkan syukur karena telah mencapai usia 1 tahun sejak pertama kali mempublikasikan tulisan melalui blog personal saya di alamat https://ardova.wordpress.com. Banyak kiranya asam garam yang telah dilalui dalam upaya untuk mengisi tulisan di blog personal saya tersebut.

Satu hal yang saya dapati ialah belajar. Belajar segala hal, mulai dari membaca, menulis, berteknologi, diseminasi gagasan. Saya belajar untuk membaca berbagai blog-blog lain yang inspiratif dan menarik. Mencoba menarik resume bagaimana kiranya untuk membuat blog yang baik. Pada beberapa hal saya membaca berbagai blog seperti milik Dewi Lestari, Ndoro Kakung, Raditya Dika sebagai studi komparasi untuk membuat blog. Dan dari muhibah di berbagai pembacaan blog tersebut saya mendapatkan satu benang merah yakni kekhasan. Ada karakter yang kuat dari para blogger tersebut. Setelah 1 tahun ngeblog, saya berharap telah memiliki karakter dalam penulisan, pemilihan ide dan pengangkatan tema.

Belajar dalam hal menulis. Melalui media blog, saya menemukan ruang baru untuk berbagi gagasan. Konsepnya antara personal dan publik. Ada kekhasan dan cita rasa yang ingin saya hadirkan untuk kemudian saya lemparkan tulisan ke publik. Bagi saya pembelajaran terbaik dari menulis ialah dengan menulis. Maka sedikit banyak melalui blog ini, saya melatih kepekaan saya menangkap rasa, memilih diksi, menimbulkan letupan enigma, menghasilkan performa tulisan yang stabil dan gurih dibaca. Untuk menulis, baru dalam kisaran minggu ini, saya mendapatkan ide untuk membuat koran personal.

Inti dari koran personal ini ialah saya mempublikasi tulisan setiap hari Senin-Jum’at melalui forum blog ini. Keputusan saya untuk membuat koran personal ialah untuk “memaksa” saya menulis. Saya percaya banyak kebaikan dan keberhasilan harus melalui proses “pemaksaan” pada awalnya untuk kemudian menjadi habbit, ritme dan akan menghasilkan pola hidup yang produktif. Maka koran personal itupun telah terbit mulai dari tiga minggu yang lalu secara stabil setiap kalinya dari hari Senin-Jum’at.

Pada minggu pertamanya, demi mengejar target publikasi tulisan setiap hari kerja tersebut, konsep mixed saya terapkan. Ada tulisan yang baru saya buat dan ada tulisan dari stok lama. Setelah satu minggu sukses, saya pun bersyukur dan bertekad untuk meningkatkan performa menulis saya. Maka saya beranikan dan tekadkan diri untuk setiap hari kerja tersebut mempublikasi tulisan baru di blog ini. Saya percaya ide tulisan, bahan tulisan, bisa datang darimana saja. Maka dalam dua minggu terakhir ini, lahirlah 10 tulisan baru. Dan saya pun bersyukur telah berhasil konstan melempar tulisan. Ajaibnya lagi ritme dalam tubuh saya kini seperti memiliki alarm personal untuk melemparkan tulisan setiap hari Senin-Jum’at.

Melalui blog ini saya belajar berteknologi. Terus terang teknologi dan saya sejauh ini bukanlah dua unsur yang saling lekat dan mendukung. Saya dan teknologi adalah konsep yang saling berseteru. Dalam beberapa hal, saya tidak menyukai segala kegaduhan dan sophisticated dari teknologi. Melalui blog, saya belajar sedikit banyak untuk lebih menangkupkan tangan persahabatan kepada teknologi. Akhirnya saya memahami bagaimana melakukan insert gambar, membagi tautan blog saya ini ke facebook dan rupa-rupa teknologi lainnya. Ternyata teknologi dapat mencerahkan pula.

Melalui blog ini saya melakukan diseminasi gagasan. Dengan menautkan link blog saya ini di facebook melalui profil, membagi tautan ke sejumlah komunitas, ataupun mengandalkan sistem wordpress, ide-ide dalam tulisan saya mengalami pengembaraan. Mengembara tidak sekedar mendekap dalam kepala saya, ataupun sekedar mengisi halaman-halaman sunyi di kertas atau laptop. Saya harap pengembaraan ide saya itu dapat menjadi tambahan amal dan inspirasi untuk hidup yang singkat ini.

Maka izinkan saya mengucapkan syukur atas satu tahun yang telah saya lalui bersama blog ini. 1 tahun dan 71 post yang telah saya gulirkan. Jika dikonversikan dalam rataan berarti setiap 5 hari saya mempublish 1 post. Tentu saja ke depannya saya akan mencoba untuk lebih memperbaiki lagi, baik dalam kuantitas dan kualitas tulisan. Kebetulan hari ini merupakan hari terakhir di kalender hijriah dan sekaligus menandai tahun baru Islam pada 1 Muharram 1433 Hijriah. Waktu dan lebih baik lagi, semoga itu terjadi pada saya dan anda. Tentunya saya ucapkan terima kasih pada anda dan orang-orang yang telah membaca larik-larik ide dari saya melalui blog ini. Terima kasih.

Posted in Filsafat

Lari Dari Bumi

Sekali waktu kita harus berlalu. Tinggalkan bumi yang menua ini. Pergi dari kesumpekan yang membekuk. Belenggu yang membebani pandangan mata. Atau beranjak dari dimensi dunia yang satu lagi. Dimana kecepatan, singkat menjadi maha. Dimana topeng, alter ego menjadi biasa. Sekali waktu kita harus lari dari bumi. Berjarak dengan segala “magnet” yang membuat hidup kita berputar tiap kalinya.

Tidak pernahkan anda bosan? Pergi ke tempat kerja sejak pagi buta, bertemu dengan tumpukan kendaraan, pekerjaan yang menggunung, pulang ketika malam melangsungkan tirainya dan uang pun tidak seberapa. Seperti mekanik yang bergerak dalam putaran roda besar bernama kapitalisme. Dan waktu pun terpecut. Seolah tak ada waktu untuk ini itu.

Kapan terakhir kali anda berkaca? Benar-benar berkaca. Benar-benar bicara pada jiwa. Bicara kepada diri sendiri. Menyisakan secuil waktu untuk satu kata: kontemplasi. Bertanya pada diri pribadi diam-diam tentang segala hal. Berpikir tentang semua langkah. Berpikir tentang semua alasan. Menata ulang diri. Membersihkan debu-debu selama perjalanan hidup. Mempertanyakan esensi, bukan aksesoris. Mempertanyakan inti, bukan gincu atau kemasan.

Lari dari bumi adalah pemberontakan. Pemberontakan akan segala hal yang termapankan. Pemberontakan terhadap apa yang seharusnya. Sebuah suara yang keluar dari partitur orkestra. Kepingan puzzle yang tersisa di penghabisan. Lari dari bumi adalah jalan keluar. Dari segala stagnasi. Dari segala kebosanan. Dari segala kejemuan. Dari segala kejumudan.

Lari dari bumi adalah epik. Bukan epigon. Para perintis yang memberontak dari sirkulasi karatan. Lepaskan segala ikatan yang mengkorosi jiwa. Pergilah dan bernyanyi ketika hujan menderas. Biarkan tumpahan airnya menenangkan jiwa yang selalu gelisah. Lakukan segala hal yang di luar orbit keseharian. Jenguk kembali panel-panel mimpi yang mulai terlupa dan berdebu. Buka jendela lebar-lebar. Tatap langit tinggi-tinggi. Bebaskan suaramu dan berteriaklah. Mari lari dari bumi sejenak.

Posted in Edukasi, Sejarah, Sosial Budaya

Catatan Zaman

Apakah artinya waktu? Detik yang berdetak, kalender yang berganti. Tempat dan kesempatan dapat membuat kita memberikan definisi yang berbeda terhadap waktu. Berada di kota besar, menjadikan waktu seperti entitas yang selalu dicemeti. Ada instan disana-sini. Saling memaki ketika waktu personal terganggu porsinya. Berada di desa pertanian, berbeda kiranya. Musim menjadi definisinya. Kapan harus menanam, kapan harus menuai.

Era dapat menjelaskan semangat zaman yang ada. Coba telusuri tulisan di masa politik etis di Indonesia, di era Orde Lama, di era Orde Baru dan era reformasi. Ada perbedaan kiranya dari musim waktu yang berbeda tersebut. Ada era dan definisinya disana. Ejaan dan pilihan katanya pun berbeda. Kelugasan dalam menyampaikan pesan pun memiliki gaya yang berbeda. Zaman bukan sekedar penanda waktu yang kaku. Zaman telah membentuk manusia dan corak berpikirnya pula. Mereka yang hidup di beda era akan memiliki kesempatan untuk berbeda jalan pikiran. Dalam beberapa hal ini disebut konflik antar generasi.

Maka bersaksilah dan tuliskan catatan zaman. Dalam lingkup politik kita dapat mendapatinya dengan buku Wiranto:Bersaksi di tengah badai; buku Habibie:Detik-detik yang menentukan; Catatan Pinggir Goenawan Mohammad, Otobiografi Mohammad Hatta dan banyak lagi. Masing-masing kesaksian tersebut menyuarakan zamannya. Meski begitu gaungnya tidak hanya bergema pada dimensi kontemporer. Gaungnya dapat meresonansi hingga bilangan waktu kemudian. Sejumlah kesaksian tersebut akan tetap ever green ketika kita memaknai dari substansi cerita. Bukan sekedar mempartisinya dalam desimal waktu dan berkata,”Ah itu kan masa lalu. Beda dulu, beda sekarang.”

Catatan zaman adalah jejak. Bahwa pernah ada tindakan dan pemikiran. Catatan zaman adalah konfirmasi. Bahwa kemudian bisa dilakukan cross check mengenai benar kiranya tindakan yang dilakukan. Catatan zaman adalah monumen ingatan. Yang merekam dan merawat ingatan tentang segala apa yang terjadi. Catatan zaman adalah rekonstruksi sejarah. Dimana dari catatan tersebut kita dapat menemukan arsitektur, pergulatan pemikiran dan konflik yang terjadi.

Perpustakaan dapat menjadi tempat bagi segala rupa catatan zaman. Menyimpan, mendokumentasikan, menjadi tempat untuk memintal benang sejarah yang terus bergerak. Tentu saja kita tidak berharap perpustakaan itu menjadi ruang-ruang kosong melompong yang menjadi periferi dari kehidupan kekinian. Perpustakaan yang kesulitan untuk menyangga hidupnya. Perpustakaan yang dijaga oleh pegawai yang ngantuk dan membaca koran seharian dengan rasa bosan. Perpustakaan semestinya hidup, karena disanalah catatan zaman kemanusiaan bertebaran. Di perpustakaanlah kepingan-kepingan makna pembelajaran terdapati.

Teknologi pun dapat paralel untuk menopang perpustakaan. Baik dalam pencarian catatan zaman sehingga lebih memudahkan dan menghemat waktu. Perpustakaan juga dapat dilengkapi dengan data elektronik dan kebebasan berinternet yang memungkinkan selancar pengetahuan dapat laju derasnya. Dari pengalaman pribadi saya, memang tidak selamanya menyemutnya manusia di perpustakaan akan berkorelasi dengan upaya untuk menelusuri catatan zaman dan pengetahuan. Kemudahan internet di perpustakaan, tempat yang nyaman, merupakan alasan untuk selancar di media sosial seperti facebook dan twitter. Tapi meski begitu, paling tidak tempat kongkownya dekat dengan sumber ilmu dan siapa tahu di tengah kebosanan dengan media social berpaling pada khazanah yang terangkai dalam aksara buku.

Sekali lagi teknologi dapat menyokong kehadiran catatan zaman. Sebut saja dengan semakin aktifnya penggunaan blog oleh rakyat Indonesia. Blog dapat menjadi media untuk menumpahkan segala uneg-uneg, kisah hidup dan pemikiran. Meluasnya penggunaan blog dapat memperkaya variasi dari catatan zaman. Para penulis catatan zaman dapat lebih luas lagi spektrumnya. Tidak sekedar para ahli, wartawan, tokoh politik, orang-orang besar. Sejarah dapat dituliskan oleh ordinary people. Orang-orang yang teramat mungkin menjadi pihak yang tertindas dari kekuatan dominan.

Tentu saja warna tulisan, pilihan kata dari beragam variasi orang akan berbeda. Ada tingkat pengetahuan, gaya menulis, dan sebagainya yang menjadi distingsi. Catatan zaman merupakan entitas yang dapat berguna di dimensi waktu manapun. Catatan zaman dapat membawa kita pada sejarah. Melihat apa yang telah terjadi. Catatan zaman dapat bersifat kontemporer. Merekam segala yang sedang hangat terjadi dalam semangat kekinian. Catatan zaman dapat menjadi mekanisme untuk menyusun format masa depan.

Berapapun usia anda, apapun status sosial anda, anda memiliki hak untuk membuat catatan zaman. Membuat sejarah dengan versi anda sendiri. Ceritanya bisa darimana saja. Toh sejarah tak hanya disusun oleh orang-orang besar. Selamat mencatat dan menjadi pelaku aktif dari catatan zaman.

Posted in Fiksi Fantasi, sastra, Sosial Budaya

Tanda Jiwa Dari Indonesian Comic Fair II (1)

Indonesian Comic Fair II yang berlangsung dari hari Kamis-Ahad (17-20 November 2011) di Citywalk Sudirman membawa sejumlah pesan dan permaknaan. Saya sendiri secara pribadi hadir di dua hari yakni hari Jum’at dan hari Sabtu. Dalam artikel berikut ini dan artikel yang akan terbit kemudian merupakan sebuah apresiasi sekaligus ingatan akan segala hal yang menarik dalam perhelatan Indonesian Comic Fair II. Dalam artikel pembuka ini akan saya coba uraikan resume dari talk show dengan Djair Warni (komikus yang membidani Jaka Sembung).

Ketika datang di tempat talk show yang berada di area lalu lalang pengunjung Citywalk, terus terang saya tidak mengetahui siapa kiranya yang menjadi pembicara di panggung dan akan membicarakan apa. Inabsentia pengetahuan ini menurut hemat saya merupakan indikasi dari perlunya sosialisasi mengenai para komikus dengan sejumlah karyanya. Profesi komikus di Indonesia memang belum seheboh artis yang jika jalan di tempat umum akan dikenal luas. Berbeda kiranya dengan Stan Lee yang ketika bertemu dengan seorang pesumo di Jepang, pesumo itu mengenali Stan Lee sebagai kreator bertangan dingin, lalu pesumo itu menyanyikan lagu Spider-Man. Anda tahu kan lagu Spider-Man? Di Edisi Spider-Man 2, lagu itu dinyanyikan ketika Spider-Man “menghilang” dan gantung kostum.

Kembali ke event Indonesian Comic Fair II, Djair Warni merupakan komikus yang kreatif dan produktif dalam menghasilkan karya. Sejumlah karya lahir dari tangan dingin Djair Warni seperti Serial Jaka Sembung, Serial Si Tolol, Serial Malaikat Bayangan, Serial Jaka Geledek, dan lainnya. Djair Warni merupakan tokoh hidup yang telah mengarungi bilangan waktu dan mengalami langsung fluktuasi masa dari komik Indonesia. Hingga kini Djair Warni tetap menekuni dunia komik dikarenakan hobi, meski tuturnya tak ada yang membayar sekalipun. Hal yang menunjukkan bagaimana sudah begitu lekatnya beliau dengan dunia gambar menggambar ini.

Djair Warni menuturkan bahwa karya komiknya memuat banyak tokoh dengan segala karakter. Dalam serial Jaka Sembung misalnya menghasilkan variasi cerita berikutnya yakni berupa penceritaan dari murid-murid Jaka Sembung. Penceritaan dari murid-murid Jaka Sembung selain merupakan diversifikasi cerita juga memuat secara lebih komplet tentang sosok murid dari Jaka Sembung. Hal ini selain memberikan pengayaan terhadap cerita induknya (Jaka Sembung) juga memberikan persepektif bahwa setiap tokoh antagonis memerlukan pendekatan perlawanan yang berbeda.

Berbicara tentang murid, Djair Warni sendiri memiliki sejumlah murid. Menurut beliau murid-murid beliau ini merupakan orang-orang yang dekat dengannya dan ingin belajar langsung darinya. Proses pembelajarannya sendiri berlangsung secara alami dan tidak melibatkan kurikulum yang baku dan kaku. Ketika Djair Warni menggambar dan membuat cerita, maka para muridnya memperhatikan sembari menyerap pembelajaran. Diskusi-diskusi ringan antar Djair Warni dan murid-muridnya juga menjadi medium pembelajaran dan transfer ilmu. Hal ini tentu saja positif kiranya sebagai transfer pengetahuan, pengalaman dan keberlanjutan estafet lini komik Indonesia.

Djair Warni membagi kisahnya tentang era keemasan komik Indonesia. Menurut beliau, masa keemasan komik Indonesia terjadi pada tahun 1968-1973. Era keemasan tersebut ditandai dengan apresiasi dari penggemar serta menggelembungnya finansial para komikus. Dari sisi penggemar, Djair Warni mendapati begitu banyak surat penggemar, sehingga dirinya mengalami kewalahan dalam menjawab surat penggemar. Apresiasi positif dari penggemar begitu kuat dengan menanyakan edisi berikutnya serta sanjungan terhadap karya dari Djair Warni. Kalaupun ada pertanyaan iseng berkisar pada penggambaran misalnya kenapa pohonnya kok tidak ada buahnya, ataupun baju dari para tokoh.

Era keemasan komik Indonesia tersebut diistilahkan oleh Djair bahwa para komikus seperti artis di era sekarang. Selain termasyhur, sisi finansial para komikus juga dapat menjadi sandaran hidup. Sebagai ilustrasi Djair Warni untuk menikah plus bulan madu dan segala macamnya hanya membutuhkan menghasilkan 1 jilid Si Tolol (64 halaman).

Dunia komik dan finansial menemui relevansinya dalam kisah hidup Djair Warni. Djair merupakan sosok yang sedari kecil memiliki hobi menggambar. Namun, orang tuanya menanggap profesi menjadi pelukis merupakan profesi madesu (masa depan suram). Maka orang tua beliau melarangnya menggambar dan jika kedapatan Djair menggambar maka gambarnya akan disobek. Orang tuanya lebih berharap Djair untuk sukses secara pendidikan serta tidak memilih jalan hidup di dunia gambar.

Saya percaya snap shot fase korelasi antara Djair Warni dengan orang tuanya masih eksis hingga sekarang. Sebuah pemikiran yang menempatkan sejumlah profesi tidak memiliki prospek cerah secara finansial. Dalam dunia kekinian hal tersebut misalnya dipotret dalam novel Perahu Kertas pada sosok Keenan yang memiliki talenta luar biasa dalam melukis. Bagaimana dengan anda saat ini? Apakah anda cinta dengan pekerjaan yang saat ini anda geluti? Apakah anda percaya bahwa dari hobi anda dapat paralel dengan pemasukan finansial yang mencukupi? Saya tidak akan menjawab pertanyaan tersebut, saya serahkan kepada anda masing-masing untuk menjawabnya secara personal. Saya hanya ingin menginformasikan bahwa talk show dengan Djair Warni masih ada lanjutan kisahnya. Semoga di lain waktu saya dapat mengusaikannya.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}