Posted in Edukasi, Fiksi Fantasi

Pelajaran Menggambar (1)

Apakah Anda suka pelajaran menggambar? Terus terang artikel ini dituliskan dari pengalaman pribadi, sedikit baca-baca bahan dan segenggam harapan untuk lebih baik lagi di hari depan. Baiklah mari mengawali dari pengalaman pribadi Saya. Pelajaran menggambar bagi Saya ialah torture. Dua jam dalam tiap minggunya sepanjang Saya menginjak 9 tahun masa pembelajaran (SD-SMP) ialah durasi yang benar-benar penuh candradimuka. Saya merasa beruntung ketika akhirnya menginjak bangku SMA tidak ada mata pelajaran menggambar. Pelajaran menggambar bagi Saya ialah torture, bukan karena Saya tidak suka menggambar. Saya suka menggambar (menggambar abstrak tepatnya).

Pelajaran menggambar tidak mendapat tempat istimewa dalam arsip sejarah Saya, dikarenakan satu kata:Stabilitas. Yap sepanjang 9 tahun masa SD-SMP pelajaran menggambar Saya selalu stabil di angka 6. Memang ada beberapa anomali istimewa dimana Saya pernah mendapat nilai 9- dan 8. 9- Saya dapatkan karena sedikit banyak kakak perempuan Saya turut membantu dalam merapikan dan memilih warna. Ketika itu dengan memberikan warna dari pola seperti batik di atas kayu. Kakak perempuan Saya yang menyarankan warna yang bagus dan memberi batas pada pewarnaan yang berluberan. Sedangkan nilai 8 Saya dapatkan karena “kesalahan”. Seharusnya pewarnaan di buku gambar menggunakan cat air, tapi karena di rumah Saya, ada cat minyak jadilah Saya pakai cat minyak. Hasilnya warna dalam buku gambar itu begitu kuat, hidup. Adapun sisi lainnya yang baru Saya ketahui ialah ternyata cat minyak tersebut menembus halaman per halaman. Berarti berakhirlah daya guna dari buku gambar Saya.

Pelajaran menggambar bagi Saya ialah stabilitas, kekokohan. Tentu saja bukan berarti Saya tidak berupaya untuk mendapatkan nilai di atas 6. Pelajaran menggambar sendiri yang Saya dapati di bangku sekolah formal terdapati pada menggambar mengikuti contoh dan menggambar bebas. Menggambar mengikuti contoh seperti menduplikasi gambar yang telah ada di buku wajib menggambar. Dalam menduplikasi Saya selalu gagal mentransfer gambar yang ada di buku wajib dengan apa yang saya gambar. Otak Saya memerintahkan untuk mengikuti apa yang ada buku wajib, tetapi tangan Saya seperti punya logika tersendiri. Alhasil duplikasi seperti contoh mengalami kesemrawutan secara estetika.

Menggambar menduplikasi dari contoh ini mendapatkan tambahan beban ketika misalnya teman-teman Saya dengan baik dapat mencontoh. Dengan baik dan waktu yang lebih cepat. Hal tersebut seperti memprovokasi Saya dalam dialog internal diri,”Kok bisa sih?” Sedangkan Saya masih bergulat dengan gambar yang masih jauh dan tidak mirip dengan apa yang dicontohkan.

Sedangkan dalam menggambar bebas, biasanya siswa dibebaskan untuk menggambar “bebas”. Kenapa saya beri tanda kutip pada kata bebas? Karena bebas yang dimaksud tidak benar-benar bebas secara total. Murid-murid akan menafsirkan istilah menggambar bebas dengan menggambar pemandangan yang lazim dipakai. Terminologi menggambar bebas tidak didefinisikan dengan bebas menggambar apa saja, sebagai bentuk curahan dari jiwa seni. Menggambar bebas tidak diartikan sebagai menggambar kubisme, menggambar abstrak, maupun aliran seni lainnya yang keluar dari mainstream utama. Menggambar bebas tidak diartikan sebagai bebas menggambar tokoh karakter fiksi fantasi favorit misalnya, ataupun melakukan modifikasi terhadap segala hal yang lazim (misalnya menambahkan sayap pada manusia, menggambar pemandangan dengan warna dan pendekatan yang berbeda).

Dengan demikian ada kebebasan yang terbatas. Kebebasan dengan multiple choice. Tentu saja pilihan favorit dari menggambar bebas ialah dengan menggambar gunung dan teman-temannya. Teman-temannya ialah awan, matahari, rumah, lahan pertanian, burung terbang, pohon, tiang listrik.

Menurut hemat Saya pelajaran menggambar dengan sistem menduplikasi dan “bebas” tersebut akan tidak holistik dan konstruktif bagi tumbuh semainya jiwa-jiwa seni gambar. Imajinasi yang terkotakkan, pilihan yang terkodifikasi. Mengekang sifat kreativitas serta keberanian untuk melawan arus utama. Membabat keragaman sekaligus keunikan. Padahal bukankah setiap kita memiliki karakter? Bukankah setiap maestro memiliki kekhasan, keunikan, cita rasa yang berbeda. Hei…Semua Tak Sama (seperti lagu Padi album Sesuatu Yang Tertunda-dalam simbol di samping lirik lagu terdapat gambar sidik jari. Yang menunjukkan masing-masing berbeda dan memiliki uniqueness).

Tak dapat dipungkiri ketika Saya mengecap SD-SMP, kurikulum pendidikan yang Saya reguk merupakan buah dari sistem Orde Baru. Sistem Orde Baru dengan penyeragaman, meminimalisasi perbedaan atas nama pertumbuhan ekonomi dan stabilisasi politik. Tak terkecuali dengan sistem pendidikan yang nantinya akan menentukan Sumber Daya Manusia.

Sedari dini telah terjadi penyeragaman dan pengekangan kreativitas. Ketika kata menggambar maka citra yang muncul ialah gunung dan teman-temannya. Padahal masih banyak obyek kreativitas lain yang dapat tertumpahkan dalam medium gambar. Alangkah pedihnya jiwa muda yang masih membentuk, mencari warna, telah diberikan belenggu terkait dengan kreativitas dan jiwa seni. Bisa jadi bibit semai para seniman lukis telah tersabit sejak dini dikarenakan pola pendidikan yang keliru tersebut.

Dalam hal menduplikasi gambar misalnya dapat melucuti kreativitas, serta menjadikan kaum muda sungkan dengan generasi pendahulunya. Tentu saja ada nilai positif juga dari teknik duplikasi, seperti belajar dari yang telah mahir, ataupun memang bagi yang masih belajar umumnya belajar dari yang telah sukses. Namun, perlu juga diingat dalam dosis berlebih pola duplikasi dapat mendatangkan bencana bagi kreativitas dan sumber daya manusia. Duplikasi dapat menjadikan kreativitas tidak bebas terbang, terkotak-kotak sempit. Bahkan dalam skala luas dapat menjadikan gerontokrasi. Kaum muda bisa jadi hanya sekedar menjadi pengekor dari para senior.

Titik tekan amanat lagu kebangsaan Indonesia Raya pada “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” menjadi terlumpuhkan dengan pola dan sistem pendidikan yang ada. Kita boleh miris dengan akibat turunan dari sistem pendidikan yang ada. Dengan akibat turunannya Human Development Index yang berada pada peringkat 112 dari negara-negara di dunia. Memang terdapat sejumlah anomali dan keistimewaan dengan para perebut medali di berbagai kejuaraan bertaraf internasional ataupun sumber daya manusia Indonesia yang bekerja di luar negeri dengan insentif tinggi dan penghargaan. Tapi jangan lupakan ceruk besar yang dihasilkan dari hulu sistem kebijakan yang keliru.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s