Posted in Edukasi, Fiksi Fantasi

Pelajaran Menggambar (2)

Sistem kebijakan yang keliru tersebut teramat mungkin masih meninggalkan sidik jari dan polanya pada diri kita sendiri. Misalnya saja jika saat ini di tangan Anda ada pensil dan di hadapan Anda ada kertas. Lalu terdapat perintah untuk menggambar pemandangan. Bisa jadi apa yang Anda gambar ialah pemandangan gunung dan teman-temannya lagi. Doktrinasi gambar tersebut bisa jadi telah menelusup begitu dalam dan erat lalu mengubur dalam-dalam jiwa kreatif dan keinginan untuk tampil berbeda.

Padahal menarik kiranya menelusuri tentang kinerja otak. Ada otak kanan dan otak kiri. Otak kanan bekerja pada imajinasi, kreativitas, warna, dimensi, musik. Otak kiri pada logika, matematik, bahasa, analisis. Nyatanya pelajaran menggambar dapat mengasah dan merangsang aktivitas otak kanan. Namun, bisa jadi dengan seragamisasi pelajaran menggambar dan teknik duplikasi menggambar, maka penggunaan otak kanan menjadi tereduksi. Padahal kombinasi antara otak kanan dan otak kiri dapat menghasilkan lesatan dalam hasil pembelajaran.

Contohnya ialah dengan menggunakan mind mapping. Mind mapping yang diperkenalkan oleh Tony Buzan secara massif memiliki konsep untuk mengaktifkan otak kanan dan otak kiri dalam belajar. Penggunaan kedua sisi otak tersebut memungkinkan serapan terhadap materi belajar lebih cepat dan melekat. Konsep mind mapping sendiri seperti peta dan menggunakan pola menggambar. Dalam mind mapping ada visualisasi, asosiasi, absurd dan humor, emosi, sinestesia, warna, arti, musik (Adam Khoo:I Am Gifted So Are You, hal 61-62). Dengan demikian mind mapping memberikan dimensi yang berbeda pada kata menggambar.

Menggambar tidak sekedar merupakan jatah formal dua jam tiap minggunya. Menggambar dapat digunakan dalam skala kebermanfaatan lebih luas lagi. Dengan menjadi bagian dari potret besar pembelajaran. Menggambar merupakan upaya untuk membaca dan menulis. Menggambar merupakan metode untuk belajar. Saya pribadi dalam beberapa segi menggunakan gambar dalam catatan pelajaran sekolah Saya dahulu. Bahkan hingga kini, jika Saya mencatat di samping tulisan selalu ada gambar-gambar yang kebanyakan abstrak. Menyertakan gambar dalam catatan belajar disamping menambah estetik dari catatan juga membantu dalam pembelajaran. Itu berjalan baik menurut Saya yang telah menerapkan pola gambar dalam catatan belajar.

Menggunakan gambar dalam metode pembelajaran akan membantu dalam menyerap dan mengingat lebih lekat. Bukankah 1 gambar bisa lebih bermakna dari 1000 kata? Jangan lupakan gambar yang diberikan warna mampu mengaktifkan imajinasi, disamping itu otak lebih mudah mengingat dibandingkan dengan teks linier. Apakah pola mind mapping dengan gambar ini sudah usang bila digunakan oleh mereka yang telah berumur dan telah tamat sekolah? Nyatanya tidak. Mind mapping masih dapat digunakan tanpa batasan umur, sepanjang kita masih belajar. Dan bukankah hidup merupakan sebuah pelajaran?

Pelajaran menggambar semestinya mengalami redefinisi dan rekonteksisasi. Pelajaran menggambar sudah semestinya menggunakan pendekatan manusiawi, bukan seperti pendekatan pada robot dan mesin pabrik. Hei..sistem pendidikan yang ada itu untuk mengolah sumber daya manusia. Berikan anak didik kebebasan untuk berkarya, biarkan imajinasi dan mimpi itu menembus batas. Mengamputasi pelajaran menggambar menjadi kaku akan mereduksi imajinasi. Padahal dari imajinasi, bunga-bunga kecerdasan akan bermekaran, dunia akan menemukan inovasi dan kegemilangannya.

Pelajaran menggambar seyogyanya memberikan kebebasan pada anak didik untuk menggambar bebas. Ini karya seni yang tak bisa ditafsirkan secara kaku. Biarkan imajinasi dan karya seni bergerak membadai, bermunculan dari anak-anak negeri. Jangan sabit kreativitas mereka atas nama kurikulum dan pendidikan. Biarkan pelajaran menggambar sebagai upaya untuk menguatkan peran otak kanan yang selama ini teralienasi dari sistem pendidikan negeri ini. Percayalah paduan otak kanan dan otak kiri akan melesatkan kualitas sumber daya manusia sehingga mampu bersaing di pentas global.

Menggambar untuk kemudian tidak hanya terbatas pada durasi sempit pada 2 jam pelajaran tiap minggunya. Menggambar dapat inheren dalam membuat catatan, presentasi dari peserta didik seperti melalui mind mapping. Bahkan menggambar dapat menjadi life time learning dengan terus digunakan dalam membuat catatan, presentasi dan memuat ide. Besar harapan ketika kosakata “pelajaran menggambar” terujar, yang hadir dalam persepsi ialah imajinasi, kegembiraan dan semangat pembelajaran.

Demikianlah, kapan terakhir kali Anda menggambar? Jika telah terlampau lama, terakhir kali Anda menggambar (bahkan hingga lupa kapan), sudikah kiranya Anda untuk memenuhi ajakan Saya ini. Mari menggambar, siapkan pensil, penghapus dan pewarna. Dan mulailah menggambar, bebaskan imajinasi Anda. Dan rasakan keajaibannya.

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s