Posted in Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Arus Minor Televisi:Fiksi Fantasi

Apakah Anda penikmat tayangan di televisi? Televisi dengan segala tayangannya ditenggarai telah membawa sejumlah efek negatif dan sejumlah kemunduran pada kualitas manusia. Taufiq Ismail misalnya mengeluhkan bagaimana televisi telah mengurangi minat baca dari manusia. Dan pengurangan minat baca akibat televisi tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan terjadi di seluruh dunia. Tak mengherankan pada beberapa keluarga, televisi telah dipensiunkan dan tidak menjadi bagian dari siklus hidupnya. Bahkan kalau Anda ingat dengan film Sweet November, Sara Deever (diperankan Charlize Theron) menjadikan televisi menjadi pot tanaman.

Tayangan televisi bukan sekedar hadir tanpa membawa muatan dan efek. Tayangan tersebut akan memiliki implikasi. Seperti makanan bagi pikiran dan jiwa. Maka berhati-hatilah dalam mengkonsumsi makanan pikiran dan jiwa Anda, dalam hal ini tayangan televisi. Diantara keprihatinan yang menyeruak terhadap tayangan televisi, menurut hemat Saya yang patut menjadi perhatian ialah betapa tayangan televisi Indonesia begitu minor dalam menayangkan cerita fiksi fantasi. Cerita fiksi fantasi tidak menempati panggung utama dari lalu lalang tontonan televisi di Indonesia.

Arus minor tayangan televisi bergenre fiksi fantasi mengusik pikiran Saya secara berurutan dalam dua mozaik peristiwa. Pertama, ketika Saya melihat liputan tentang komunitas Star Trek Indonesia. Para Trekkie (penggemar Star Trek) di Indonesia menyuarakan semacam gugatannya terhadap tayangan Star Trek yang tidak utuh serialnya serta tiba-tiba menghilang dari jagat tayangan tv. Apa yang dikeluhkan oleh para Trekkie ini sebenarnya merupakan pola umum yang terkait dengan televisi Indonesia. Tidak utuh serialnya serta tiba-tiba menghilang pernah Saya alami ketika dulu intens mengikuti serial Charmed dan X Files. Tiba-tiba di tengah jalan menghilang serial yang sedang ditunggu-tunggu, atau berubah jam tayang tanpa konfirmasi (biasanya pada jam-jam sepi penonton yakni malam semalam-malamnya atau dinihari).

Mozaik kedua yang Saya dapati ialah ketika dinihari tadi sedang menunggu siaran liga Champions. Iseng mengutak-atik channel televisi Indonesia, tiba-tiba Saya terkagetkan dengan sebuah “penemuan”. Trans 7 menayangkan serial Heroes jam 2 dinihari. Serial Heroes sendiri merupakan serial yang menurut Saya benar-benar the best di genre fiksi fantasi. Berintikan orang-orang dengan kemampuan istimewa, visual effect yang prima, jalan cerita dan drama yang sempurna- satukan itu dalam satu serial. Dan Anda akan mendapatinya dalam serial Heroes.

Serial Heroes yang begitu epik ini nyatanya mendapatkan jam tayang dinihari. Ketika sebagian besar orang telah terlelap dalam buaian. Seperti sekedar memenuhi slot siaran. Jawaban paling mungkin, simple dan seolah-olah harus kita amini terhadap arus minor televisi terkait genre fiksi fantasi ialah rating. Pada prime time, stasiun-stasiun televisi Indonesia lebih memilih menayangkan sinetron, film impor, dangdut, ketimbang menayangkan tontonan bergenre fiksi fantasi. Rating dari tayangan berjenis di atas dipandang lebih seksi dan menguntungkan secara finansial dibanding tayangan fiksi fantasi.

Pendapat yang digaungkan tersebut untuk kemudian pada beberapa bagian kita maklumi dan mafhumi. Wajar toh ini soal bisnis dan keuntungan materi. Menurut hemat Saya, masing-masing dari kita sebagai penonton sebenarnya bisa melakukan perlawanan terhadap arus utama ini. Setiap kita adalah suara, setiap kita adalah kekuatan. Jika rating yang menjadi patokan utama dari stasiun televisi maka kita bisa dengan memboikot tayangan di jam prime time yang tidak berbobot dan tidak memiliki unsur mendidik. Tayangan di jam prime time yang tidak berbobot dan tidak memiliki unsur mendidik ini sebenarnya berdaya kita hadang dengan tidak menontonnya. Jika masing-masing dari kita memiliki kesadaran personal untuk kemudian didiseminasikan menjadi kesadaran kolektif maka rating dari tayangan sampah tersebut akan anjlok.

Jika rating dari tayangan yang tidak mendidik dan memiliki bobot tersebut telah turun kurva ratingnya, maka stasiun televisi bisa jadi akan memilih tayangan bergenre fiksi fantasi di jam prime time. Ini bisa terjadi jika ada itikad baik dari televisi untuk peduli pada perkembangan fiksi fantasi di Indonesia serta munculnya desakan dari masyarakat. Jika Anda tidak bergerak di bidang televisi, maka Anda pun bisa ambil bagian dalam melakukan desakan bagi melajunya tayangan bergenre fiksi fantasi di prime time. Dalam hal mendesakkan gagasan, komunitas Kalfa ini misalnya dapat menjadi contoh nyata. Keberadaan dari komunitas pecinta dan peduli pada fiksi fantasi dapat menjadi entitas yang mendorong, mendesakkan, menggagas ke arah area yang lebih ramah pada fiksi fantasi.

Keberadaan komunitas-komunitas dengan ideologinya dalam masyarakat sipil akan menyokong bagi menyebarnya gagasan, pertukaran ide serta memungkinkan terjadinya tata kelola negeri yang lebih baik. Kesadaran bahwa tayangan televisi membentuk kita sudah semestinya menjadi perhatian. Tayangan televisi akan membentuk pola pikir dan pola tindak. Lalu apa jadinya anak bangsa jika diasup dengan dosis sinetron yang menawarkan sisi materialisme, keindahan fisik dan budaya konflik? Negeri ini butuh imajinasi. Negeri ini butuh para pemimpi. Negeri ini butuh langkah-langkah cerdas, kreatif, breakthrough. Dalam kreatif, inovasi, inilah menurut hemat Saya tayangan bergenre fiksi fantasi dapat positif berperan.

Saya pribadi dari pengalaman hidup yang direguk mendapati bahwa mereka yang intens hobi dengan fiksi fantasi memiliki kreativitas, inovasi dan berani mencoba jalan-jalan baru penyelesaian. Stagnasi negeri ini menurut hemat Saya salah satunya disumbangkan oleh panel tayangan televisi yang tidak ramah pada genre fiksi fantasi. Ketidakramahan ini membuat sumber daya manusia Indonesia secara kuantitatif dan kualitas gagal melalui etape permasalahan yang pelik.

Mari kita ambil contoh dari negara maju, betapa fiksi fantasi mendapat tempat yang terhormat. Jika Anda mengikuti televisi berlangganan maka tayangan stasiun televisi luar negeri lebih beragam dan menunjukkan dukungan pada perkembangan fiksi fantasi. Ada stasiun tv Animax, Cartoon Network, Nickelodeon, Disney Channel sebagai contohnya. Stasiun tv yang membawa keberbermanfaatan. Bukan hanya bagi anak-anak, tapi juga bagi yang telah menginjak usia dewasa. Banyak muatan mendidik dan inspiratif yang bertebaran dari tayangan di stasiun-stasiun tv tersebut. Animax misalnya bagi Saya teramat membantu dalam menghidupkan imajinasi, menghibur dan dalam proses kreatif membuat cerita bagi Saya pribadi.

Tayangan televisi bergenre fiksi fantasi sudah semestinya mendapat porsi lebih istimewa. Tayangan tv bergenre fiksi fantasi harus diluaskan tempatnya, tidak sekedar menempati kapling hari Ahad pagi. Bukankah hari Ahad pagi bisa juga digunakan untuk kepentingan lain semisal olahraga, tamasya keluar kota, dan sebagainya. Maka menempatkan tayangan tv bergenre fiksi fantasi pada kapling Ahad pagi secara gencar bisa jadi akan mereduksi kesempatan anak bangsa dan kita untuk menikmati vakansi dengan menu yang berbeda.

Negeri tanpa imajinasi merupakan negeri yang “mati” dan akan kehilangan daya kreativitasnya. Tayangan tv dalam perkembangannya telah menjadi guru, sobat, bagi rakyat negeri ini. Tentu saja yang kita butuhkan adalah guru, sobat yang kreatif, melesatkan kreativitas dan mendidik. Tayangan fiksi fantasi dalam hal ini dapat menjadi jawabannya. Sekianlah.

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s