Posted in Edukasi, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Komik Multi Medium

Kita hidup dalam dunia stigma. Persepsi akan segala hal yang terjadi. Tak jarang kita mengurunkan langkah karena stigma dan persepsi yang ada. Stigma terjadi pula pada dunia fiksi fantasi. Games, komik, novel fiksi fantasi, merupakan deretan yang terimbas dari stigma yang berkembang dan seharusnya terkonfirmasikan secara ilmiah. Dulu mungkin Anda pernah mengalami larangan untuk bermain games dikarenakan mengganggu belajar. Games dianggap sebagai kongsi evil, axis of evil mungkin bagi prestasi akademik pelajar.

Novel fiksi fantasi juga mendapat stigma. Rasional sajalah, jangan berimajinasi yang aneh-aneh, begitu kiranya untaian persepsi yang melingkupi bagi para pembaca fiksi fantasi. Sedangkan komik dipersepsikan sebagai dunia khayalan, cocok untuk anak-anak, dan sudah kehilangan daya manfaatnya ketika telah beranjak dan menjadi dewasa. Benarkah kiranya segala persepsi dan stigma yang menyelimuti itu? Saya justru menantang para penganut paham persepsi minor terhadap dunia fiksi fantasi untuk berduel logika dan ilmiah.

Jangan-jangan para penganut paham stigma minor terhadap dunia fiksi fantasi-lah yang berada pada ranah mitologi. Stigma-stigma minor tersebut tidak dikonfirmasi ulang, tidak diteliti derajat kebenarannya. Dan berada pada kekeliruan berpikir seperti contohnya masyarakat dan ilmuwan di abad-abad berlalu yang percaya bahwa bumi itu datar, yang percaya bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Dalam kesempatan artikel ini, Saya akan mencoba untuk menepis segala persepsi minor tentang jagat perkomikan. Semoga dapat menggerakkan pikir dan menepis kabut mitologi bagi beberapa.

Koran Kompas hari ini (Selasa, 8 November 2011), semakin mengukuhkan pondasi berpikir Saya tentang dunia komik. Isi dari koran Kompas hari ini di halaman 32 berintikan novel Negeri 5 Menara akan dibuat edisi komiknya. Novel Negeri 5 Menara sendiri merupakan novel best seller yang menceritakan tentang kehidupan para santri di pondok pesantren Gontor. Ada nilai persahabatan, kekuatan mimpi, nilai-nilai agama yang termaktub dalam novel Negeri 5 Menara. Novel Negeri 5 Menara sendiri akan dibuatkan versi filmnya dan telah dialihbahasakan ke bahasa Inggris.

Pembuatan edisi komik novel Negeri 5 Menara memiliki basis alasan yakni agar anak-anak lebih mudah mencerna novel tersebut, merangkul segmen pasar baru. Ahmad Fuadi (pengarang novel Negeri 5 Menara) menuturkan, “Tapi harapannya bukan hanya untuk anak-anak. Harapan kami, komik ini juga bisa diterima segmen yang lebih luas, tentunya bagi para penggemar komik.”

Kehadiran edisi komik dari buku nasional memang bukan sinyalemen baru. Novel Kambing Jantan, serta 5 cm telah hadir dalam bentuk komik pula. Kehadiran dari edisi komik ini menurut hemat Saya merupakan bentuk simbiosis mutualisme. Sama-sama menguntungkan. Bagi novelis dan penerbit, edisi komik akan dapat menjadi ekstensifikasi medium penyebaran ide, sekaligus memperbesar arus uang masuk. Bagi dunia komik, hal ini positif karena semakin menempatkan komik eksis di benak masyarakat Indonesia. Komik Indonesia tidak lagi periferi dan sekedar pengekor dari komik luar.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s