Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Morgana (1)

Ponselku berbunyi. Pertanda satu pesan masuk. Begini bunyi pesannya:”Jangan lupa ya, besok di taman Suropati.” Ada begitu banyak pesan yang pernah masuk dalam ponselku. Beberapa kusimpan, beberapa kuhapus. Namun, hanya satu nama yang tetap berada dalam rekam jejak inbox handphone-ku. Nama itu adalah Kirana. Kirana adalah rangkaian keindahan yang bertumbukan dalam satu simetri. Haruskah Aku menggambarkannya kepada kalian mengenai Kirana ini?

Baiklah kuberikan rinciannya beberapa inchi. Kirana adalah kecerdasan dalam kata. Dia adalah sosok yang piawai dalam mengartikulasikan kata. Beri dia satu topik, maka dia akan dapat memberikanmu kuliah monolog setengah jam tanpa jeda. Setelah setengah jam, dia akan mengambil rehat sekitar 3 menit, untuk kemudian melanjutkan kuliah monolognya selama setengah jam bagian kedua. Kirana adalah keberanian yang otentik. Jika dia berkeinginan sesuatu, maka dia akan menunaikan apa yang diinginkannya. Trofi keberaniannya berjejeran mulai dari travel sendirian ke daerah Timur Indonesia, mencoba varian olahraga ekstrem, dan banyak lagi “kegilaan” lainnya.

Kenapa Kirana menarik bagiku? Mungkin karena dia adalah opposite attract bagiku. Dia adalah antitesis bagi berbagai hal dalam diriku. Dan Aku menyukai segala macam konfrontasi dalam kata yang kami ciptakan. Aku menyukai pertikaian konsep antara kami. Karena itulah menarik, semacam chemistry dari 2 kutub unsur yang berbeda.

Hanya ada satu permasalahannya. Aku belum pernah mengungkap rasa kepadanya. Setiap kali momentum agak kondusif bagiku untuk mengartikulasikan rasa, tiba-tiba lidahku seperti kecut, terikat, terkunci. Dengan segala pesona dan keatraktifannya, Aku merasa tinggal tunggu waktu saja sampai seorang dari kaum Adam menyatakan rasa kepadanya. Beberapa skema rencana telah kubuat untuk mengutarakan rasa, tapi seketika ketika kami bertemu muka, skema rencana tersebut bubar jalan.

Keesokan Harinya di Taman Suropati

Aku tiba lebih dulu setengah jam dari temu janji dengan Kirana. Aku duduk di bangku taman. Sembari menunggu, Aku mengeluarkan buku sketsaku dan Aku pun mulai menggambar apa yang terlintas di benakku.

“Introvert akut,” ujar seorang muda dengan rambut yang bergelombang.
Aku mengangkat mataku dari buku sketsaku. Dan menatap sosok muda yang duduk di sebelahku sembari memperhatikan pola gambarku. Sosok muda ini selain memiliki rambut seperti gelombang juga memiliki warna mata abu-abu.

“Kau bicara padaku?” tanyaku.
“Tentu saja padamu tuan introvert akut.” Sosok muda itu menjawab sembari mengulum senyum. “Introvert akut, pemalu, memendam berbagai pikiran dan perasaan.” Sosok muda itu mempreteliku tanpa ampun.

“Darimana kau…,” lidahku kelu kali ini. Seingat deret memoriku aku belum pernah bertemu dengan orang muda ini. Lalu darimana dia bisa mengkalkulasi aneka ragam karakterku.
“Dari gambarmu Aku dapat membacamu,” tutur sosok muda itu seolah dapat membaca tanya dalam benakku.

“Bagaimana kalau Aku memberimu keistimewaan dan pada akhirnya kau akan boleh memilih untuk menggunakan atau membuang keistimewaan itu?” sosok muda itu bertanya sembari menatap mataku erat.
“Keistimewaan yang dapat menjadi bifurkasi bagi seluruh hidupmu. Mulai hari ini dan selamanya,” tambah sosok muda dengan warna mata abu-abu itu.
“Siapa kau?” ujarku mengutarakan skeptisme.
Sosok muda itu hanya tersenyum tipis.

“Aku adalah Aku. Meski banyak kesempatan untuk merubah Aku, Aku tetaplah Aku.”.
Hmm…kalian memahami apa yang dimaksudkan sosok muda ini?
“Aku hanya ingin berkata ketika keistimewaan ini telah kuberikan kepadamu, kau akan berada pada labirin probabilita, dilema, dan pilihan. Aku harap akhirnya kau dapat memilih dengan bijak. Keistimewaan ini dapat melahapmu tanpa sisa.”
“Hmm..keistimewaan apa?” tanyaku masih tak mengerti dengan segala ini.
“Kau akan tahu,” tutup sosok muda itu.

Ponselku berdering.
“Udah dimana?” tanya Kirana ceria.
“Bangku taman, deket orang-orang yang lagi main biola rame-rame.”
“Oke 5 menit lagi ya, gw kesana. Jangan ngelayapan kemana-mana ya. Tetap di tempat,” rentet kata dari Kirana.

Dari ekor mataku, Aku melihat sosok muda dengan rambut bergelombang itu berlalu meninggalkanku ketika diriku sedang menerima telepon dari Kirana. Apa gerangan maksud dari segala yang diutarakan sosok muda itu. Namun tebakan katanya seperti melucutiku pada satu kesadaran. Introvert, pemalu, memendam berbagai pikiran dan perasaan. Lamunanku seketika dibuyarkan oleh Kirana yang datang menghampiriku sembari berlari.

“Nih gw bawain donat kampung kesukaan loe,” ceria kata dari Kirana.
“Ngapa loe bengong aja kesambet ya?” Udah boring ama donat? Mabok sayur asem? Mo gw bawain makanan lain?”

Aku sekelebatan mendapatkan dorongan adrenalin dalam tensi tinggi. Segera Aku membuka tasku dan mengeluarkan buku sketsa gambarku yang satu lagi. Buku sketsa gambar yang selama ini tersimpan erat dalam pikiranku dan lorong-lorong harapan. Aku menyerahkan buku sketsa gambar itu pada Kirana.

“Apaan nih? Gambar loe yang lain? Baru gw liat nih buku sketsa?” rentet tanya Kirana.
“Udah lihat aja gambarnya bawel,” tuturku confidence.
Aku pun melahap donat kampung itu pelan-pelan. Sementara Kirana mulai membuka lembar demi lembar buku sketsaku. Perubahan di muka Kirana kentara terlihat ketika dia perlahan membuka halaman demi halaman lembar sketsaku. Reaksinya seperti lembar buku yang terbaca.

“Ini semua tentang loe,” ungkapku memecah hening yang muncul seketika.
“Bagus banget…loe gambar gw dalam satu buku sketsa ini. Penuh, gw merasa seperti putri dalam dongeng,” ujar Kirana dengan mata kekaguman dan keterharuan.
“Jadi, mau ya?” tanyaku cepat.
“Kau jadi putrinya, Aku jadi ksatrianya.”
“Dan kita hidup bahagia selama-lamanya.”

Tapi apakah kalian percaya pada kisah happy ending?

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Morgana (1)

  1. EYD dll udah bagus sih. Yang masalah cuma pemilihan kata dan beberapa kosakata bahasa Inggris yang enggak di-italic (opposite attract? confidence?).

    Beneran deh, saia kesel banget sama pemilihan kata di cerpen ini. Kesannya apa ya… kesannya tuh intelek banget. Dalam artian negatif loh. Artikulasi kata lah, bifurkasi lah, momentum lah (eh moment dan momentum itu BEDA JAUH loh artinya), inchi (bukannya harusnya inci?), probabilita (probabilitas?). Agak jengah. Hehe. Beneran, ini saia sih jujur aja ya.

    Kisahnya sendiri masih agak blur. Ya ya si Sosok Muda itu semacam pemberi kekuatan. Ya okelah idenya keren. Tapi masih agak gak keliatan, gitu, sebenernya kekuatan macam apa yang diberikan. Kemampuan menggambar? Lah itu bukannya si protagonis udah bisa gambar? Bukannya dari sebelum si Sosok Muda dateng si protagonis udah ngegambar? Jadinya fantasinya terlalu minim. Tapi gapapa sih… wehaha… saia paling suka sama cerita fantasi yang unsur fantasinya sangat minim.

    Oia, “Aku” ini saia rasa gak perlu dikapitalisasi. Cukup “aku” aja. Kecuali jika ada suatu makna tersendiri…😀

    Nilai dari saia–> 7/10

    1. yap italic itu karena sistem wordpress yg gw nga ngerti,di edisi aslinya italic.mengenai diksi,hmm..itu sudah jalan hidup saya (apa coba..).soal cerita blur,mungkin karena belum usai saya buka kartunya.soal istilahnya ja…di kronis akan saya pertimbangkan utk diganti (hehe..sama dg yg di fb juga jawabannya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s