Posted in Sejarah, Sosial Budaya

Modern (1)

Dunia kita adalah medan penafsiran. Segala fenomena ditakar dalam taksiran pendapat dan pemikiran. Sang pemenang dan penentu sejarah menjadi pihak yang seolah memiliki wewenang ilmiah untuk menafsirkan segala sesuatu. Contoh nyatanya ialah ketika era Orde Baru sedang berada dalam peak performance-nya. Orde Baru bahkan melakukan hegemoni terhadap makna dan wacana. Orde Baru diantaranya merupakan pewaris sah dari definisi pembangunan, modernisasi, kemajuan. Sedangkan pihak pengganggu, yang berteriak di luar lingkar kuasa merupakan para oposisi genit yang tertinggalkan, kuno, old style dan tidak memiliki resep mujarab untuk mengarungi zaman.

Generasi kontemporer merupakan para pelaku dan penafsir sejarah. Maka tafsiran itu dapat mengarungi lintasan waktu dan mendefinikan segala sesuatu. Simak saja tafsiran mengenai modern, maju, pembangunan, demokrasi, ataupun banyak istilah sophisticated yang terkesan wah. Sebagai penanda bahwa generasi kontemporer merupakan para pemenang sejarah dan layak melabeli dirinya sebagai modern. Terlebih lagi dengan kemajuan dunia teknologi dan internet yang memungkinkan terjadinya transmisi ide, penyebaran kejadian. Teknologi yang maju semakin menjadi variabel pengukuh bahwa inilah generasi modern yang siap melewati cabaran hidup.

Apa gerangan kiranya arti modern? Untuk menjawab ini, ingatan saya terdampar pada sekian tahun lalu ketika saya masih duduk di bangku SMA. Berikut akan saya kutipkan jawabannya dari buku Sosiologi 2. Arti kata modernisasi dengan kata modern berasal dari bahasa Latin modernus yang dibentuk dari kata modo dan ernus. Modo berarti cara dan ernus menunjuk pada adanya periode waktu masa kini. Pada dasarnya pengertian modernisasi mencakup hal-hal berikut: Proses perubahan sosial dari masyarakat yang bersifat tradisional menjadi masyarakat maju yang ditandai dengan adanya perubahan di segala bidang kehidupan; perubahan peralatan dari yang sederhana ke teknologi yang lebih canggih; perubahan ke arah kemajuan dengan tidak meninggalkan nilai-nilai kepribadian bangsa yang masih relevan dengan kehidupan sekarang.

Bingkisan memori dari masa SMA saya belum lengkap kiranya, bila belum menyertakan ciri manusia modern menurut Alex Inkeles. Menurut Alex Inkeles, terdapat 9 ciri manusia modern yakni: memiliki sikap hidup untuk menerima hal-hal yang baru dan terbuka untuk perubahan; menyatakan pendapat mengenai lingkungannya sendiri atau kejadian yang terjadi jauh di luar lingkungannya serta dapat bersikap demokratis; menghargai waktu dan lebih banyak berorientasi ke masa depan daripada masa lalu; memiliki perencanaan dan pengorganisasian; percaya diri; perhitungan; menghargai harkat hidup manusia lain; lebih percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Lalu bagaimana kiranya menurut Anda tentang definisi modern, modernisasi, ciri manusia modern. Bisa jadi Anda menyanggah pendapat sejumlah ilmuwan yang diungkap di atas. Bisa jadi Anda memiliki definisi dan tafsiran sendiri. Jika merunut ciri manusia modern yang diungkapkan oleh Alex Inkeles, timbul pertanyaan sudah compatible-kah kita dengan ciri-ciri tersebut? Benarkah kiranya kita adalah manusia modern?

Mungkin contoh yang saya utarakan ini dapat menjadi permenungan bagi kita. Perihal bahasa yang dikuasai. Era kontemporer, bahasa inggris begitu meluas merasuk dalam sumsum kehidupan kita. Aneka varian istilah asing bertebaran di sudut-sudut kota, terutama kota-kota besar Indonesia. Dari SD-SMA, pelajaran bahasa Inggris kita terima. Ketika menginjak bangku kuliah bahan bacaan bahasa Inggris juga menjadi menu dari kuliah kita. Kicauan bahasa Inggris juga kerap berseliweran di media sosial ataupun terujar dari lidah kita.

Namun benarkah kita lebih modern dari generasi pendahulu kita? Dari sekian panjang durasi pembelajaran terhadap bahasa Inggris, saya percaya penguasaan terhadap bahasa Inggris belum paripurna didapati pada rakyat. Coba saja buat artikel dalam bahasa Inggris, maka keterpelesan kata, kalimat akan tertemui. Nyatanya bahasa Inggris setelah sekian durasi waktu dipelajari dan hidup bersama belum benar-benar terkuasai.

Menarik kiranya jika kita menelusuri generasi founding fathers yang memiliki kemampuan berbahasa asing yang lengkap. Agus Salim yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri sedikitnya mampu menguasai 9 bahasa asing; Natsir menguasai 5 bahasa asing (Arab, Inggris, Perancis, Latin, Belanda); Soekarno juga mengusai berbagai bahasa asing (seperti dapat dilihat dalam tulisan dan pidatonya); serta banyak contoh otentik lainnya. Kemampuan menguasai bahasa asing itu memungkinkan mereka melakukan penjelajahan intelektual serta melakukan penetrasi ide yang sifatnya global.

Dikarenakan pendidikan era kolonial yang baik, ada juga kok orang-orang era sekarang yang mampu menguasai banyak bahasa asing, mungkin saja itu alasan yang dapat dikemukakan untuk menyanggah pendapat saya tentang kemampuan menguasai bahasa. Namun saya hanya ingin memberikan pandangan bahwasanya modern tidak selalu sinergis dengan masa kini. Modern tidak selalu sinergis dengan kontemporer. Bisa jadi kita berada dalam gelembung kekeliruan berpikir yang menempatkan kita pada gerbong manusia modern. Namun, sesungguhnya kita jauh dari sifat asasi modern.

Hanya karena kita berada di arus kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita melabeli diri dengan modern. Padahal bisa jadi sesungguhnya kita hanya konsumen. Yang menjadi pasar bagi produk-produk baru yang muncul. Bisa jadi kita hanyalah korban dari modernisasi, namun kita bangga dan merasa begitu modern.

(Bersambung)

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s