Posted in Sosial Budaya

Bergegas

Waktu adalah nama bagi segala makna. Waktu dapat didefinisikan sesuai para penafsirnya. Rumi pernah bertutur, “Keterpisahan ini adalah tipu daya ruang dan waktu.” Ada sifat relatif dari waktu. Yang membuat pada suatu kala, waktu dapat bergerak begitu mendesak-desak, di lain kala, waktu dapat bermanja-manja dengan detaknya. Kota besar memiliki detak waktunya sendiri. Ada sebutan kota yang tak pernah tidur untuk menjelaskan mengenai penggunaan waktu dari para penduduk di kota tersebut.

Suatu waktu saya pernah berdiskusi dengan teman yang berasal dari Yogyakarta. Ia tumbuh besar disana. Teman saya ini menyatakan keheranannya tentang ritme kota Jakarta dan orang-orangnya. Kesibukan, kebisingan, malam yang bergerak, merupakan distingsi antara Jakarta dan Yogyakarta, begitulah konklusi teman saya ini. Saya pun memiliki ide yang paralel dengannya. Saya pernah ke Yogyakarta, menginap disana, dan merasakan dimensi cita rasa yang berbeda. Tak ada ketukan selamat pagi dengan klakson kendaraan bermotor yang menyemut menjejali jalanan. Sehabis Maghrib di beberapa tempat warganya melakukan aktivitasnya di rumah. Ada kedamaian dalam waktu.

Mungkin itulah yang menjadi magnet tersembunyi bagi berduyun-duyunnya kaum pendatang pulang kampung ketika Lebaran. Ada cita rasa yang berbeda dengan waktu. Ada kedamaian dengan waktu. Ada kelonggaran dengan waktu yang tidak mencekik dan mendesak dengan segala ketergegasannya. Ada definisi yang berbeda terhadap waktu.

Jakarta adalah kota kemacetan. Segala rupa kebijakan sekedar tambal sulam. Kota dimana “penduduk kendaraan bermotornya” begitu berjibun. Kota dimana ritme hidupnya adalah ketergegasan. Bergegas bangun agar tidak menemui kemacetan di waktu pagi. Bergegas pergi untuk menghindari peak hour kemacetan. Bergegas dan instan. Jenuhkah anda dengan segala waktu yang seakan memburu anda setiap kalinya? Maka weekend adalah orkestra waktu yang disambut dengan riuh bagi penduduk Jakarta. Namun, weekend juga merupakan sinyalemen bagi kebergegasan dalam wajah lain. Bergegas dalam menikmati liburan. Bergegas dalam berangkat ke daerah Puncak untuk menghindari kemacetan, bergegas di mall untuk membeli barang-barang sale, dan sebagai contoh otentik lainnya tentang bergegas di waktu akhir pekan.

Idenya digaungkan begini, bergegas adalah parameter untuk survive. Kalau tidak cepat tidak bertahan. Tumbang, terkalahkan, terlupakan. Membaca pun bergegas. Seberapa banyak dari warga Jakarta kontemporer yang sempat di pagi hari menyeruput kopi sembari membaca koran? Seberapa banyak yang mau mengalokasikan waktu untuk membaca artikel yang panjangnya lebih dari 3 halaman ketika telah berada di domain internet?

Segala bergegas dengan waktu ini, mengingatkan saya dengan novel Momo. Intisari ceritanya kurang lebih seperti akan saya utarakan di kalimat-kalimat berikut. Setiap penduduk dewasanya begitu sibuk dan bergegas dengan waktu. Sehingga kehilangan sentuhan kemanusiaan untuk sekedar bercengkrama dengan kerabat dan sobat. Seperti diburu waktu, dengan serangkaian item yang harus dikerjakan dalam taraf menggunung. Hanya anak-anak kecil yang tidak terimbas efek dari fenomena tersebut. Kisah Momo tentu saja merupakan kisah fantasi. Namun ternyata mengena kiranya bagi ritme bergegas penduduk di kota besar.

Apa yang anda cari dengan segala kebergegasan itu? Uang, kekuasaan, pengaruh, survive? Kesemua kata itu dapat menjadi delusi dan tidak memiliki batas atas. Dan cita rasa kemanusiaan dapat tergerus. Membentak, meneror, kerakusan, dapat menjadi fungsi turunan dari kebergegasan waktu. Eskapisme-nya pun macam-macam. Okelah kalau yang positif, tapi kalau eskapisme yang negatif dapat semakin memperkeruh kualitas manusia.

Lalu pernahkah bertanya untuk apa dengan segala bergegas di bidang waktu ini? Apa yang anda cari? Makna apa yang tertuai? Sejenak berhentilah dan mengevaluasi. Sejenak berhentilah dan berkontemplasi. Sejenak berhentilah serta skeptis dan kritis terhadap diri sendiri. Sejenak berhentilah dan perhatikan keindahan yang selama ini terlewat. Sejenak berhentilah dan hilangkan kosa kata “bergegas” dari arloji waktu anda.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s