Posted in Edukasi, Sosial Budaya

Melawan Lupa

Tulisan adalah upaya untuk merekam ingatan. Banyak kiranya variasi dari merekam ingatan. Ada yang menggunakan foto, video, tulisan sebagai upaya untuk memetakan ingatan. Tulisan merupakan medium yang telah digunakan berbilang abad untuk merekam ingatan. Dan saya percaya hingga ke depannya tulisan akan menjadi medium untuk merawat ingatan. Kecanggihan dan kemajuan teknologi mungkin akan mereduksi penggunaan tulisan sebagai medium pengingatan. Contoh sederhananya ialah coba saja anda melihat facebook. Link video dan tautan foto mendapat perhatian yang luas dibandingkan dengan membuat notes. Di lain sisi, kecanggihan teknologi akan memberikan ruang baru bagi diseminasi tulisan. Dengan meluasnya penggunaan internet dan penggunaan iPad misalnya akan mendorong tulisan untuk hidup dimana saja, kapan saja.

Meski tulisan mengalami goncangan dengan semakin variasi dan canggihnya teknologi pengingat, saya percaya tulisan tidak akan punah sebagai salah satu sarana untuk mengingat. Ide menulis pun bisa ditelusuri dari apa yang dialami sehari-hari dan tidak berjarak jauh dengan apa yang dialami. Sebut saja diary. Diary merupakan contoh nyata dari upaya untuk menuliskan ingatan. Dari semacam catatan harian (diary) Tita Larasati bahkan membuat komik dengan judul Curhat Tita; Raditya Dika dari blognya yang mirip diary akhirnya menjadi penulis dan komedian. Menurut hemat saya, contoh dari Tita Larasati dan Raditya Dika menunjukkan satu hal, bahwa untuk menuliskan tak perlu sophisticated dengan gagasan yang wah dan ribet. Sesuatu yang sederhana dan dari kehidupan sehari-hari ternyata dapat menjadi amunisi ide dan karya.

Saya pribadi membuat catatan 1 halaman setiap harinya untuk menjadi lembar harapan dan kontemplasi setiap harinya. Biasanya dari rencana dan apa yang saya alami seharian maka terbitlah catatan 1 halaman itu. Bagi saya selain melakukan dokumentasi perjalanan personal saya, hal tersebut penting kiranya untuk melawan lupa. Manusia merupakan makhluk yang memiliki sifat khilaf dan lupa. Bahkan kalau anda melihat stand up commedy Indonesia, Ryan yang menjadi salah satu pesertanya melakukan hiperbola terhadap sifat lupa pria. Ryan dengan nada hiperbola mencontohkan buah yang dilarang Tuhan untuk dimakan, lalu lupalah Adam; Ryan juga mencontohkan melalui replay di siaran sepakbola yang mengindikasikan betapa pelupanya kaum pria.

Menulis memang merupakan sebuah upaya untuk melawan lupa. Saya percaya banyak peristiwa, bacaan yang anda dapati setiap harinya. Peristiwa maupun bacaan yang dituangkan dalam tulisan akan memiliki daya lekat lebih kuat dalam ingatan. Dalam masalah bacaan dari pengalaman pribadi saya, misalnya beberapa konsep yang saya pinjam dalam bentuk tulisan hingga kini masih menguat di pikiran. Ada keawetan dibandingkan sekedar membaca saja, namun tidak menuliskannya. Penulisan juga akan membuat jejak tertulis yang memiliki daya jelajah mengarungi waktu.

Menulis merupakan upaya untuk melawan lupa. Bukan sekedar terhadap segala konsep, fakta dan pemikiran, bahkan dalam skala yang lebih personal. Menulis merupakan upaya untuk melawan lupa terhadap diri kita pribadi. Dengan menuliskan ide pribadi kita akan tahu apa kiranya buah pikiran, harapan, ekspektasi dari diri pribadi. Lalu, hal tersebut dapat dikonfirmasi di bilangan waktu kemudian. Seberapa teguh terhadap ide-ide yang pernah dimiliki, apa saja perubahan yang terjadi dalam pemikiran personal. Jadi menulislah dan cobalah cek tulisan anda berbilang waktu kemudian. Saya harap anda tidak melupakan pesan dalam pemikiran saya ini.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s