Posted in Fiksi Fantasi, sastra, Sosial Budaya

Tanda Jiwa Dari Indonesian Comic Fair II (1)

Indonesian Comic Fair II yang berlangsung dari hari Kamis-Ahad (17-20 November 2011) di Citywalk Sudirman membawa sejumlah pesan dan permaknaan. Saya sendiri secara pribadi hadir di dua hari yakni hari Jum’at dan hari Sabtu. Dalam artikel berikut ini dan artikel yang akan terbit kemudian merupakan sebuah apresiasi sekaligus ingatan akan segala hal yang menarik dalam perhelatan Indonesian Comic Fair II. Dalam artikel pembuka ini akan saya coba uraikan resume dari talk show dengan Djair Warni (komikus yang membidani Jaka Sembung).

Ketika datang di tempat talk show yang berada di area lalu lalang pengunjung Citywalk, terus terang saya tidak mengetahui siapa kiranya yang menjadi pembicara di panggung dan akan membicarakan apa. Inabsentia pengetahuan ini menurut hemat saya merupakan indikasi dari perlunya sosialisasi mengenai para komikus dengan sejumlah karyanya. Profesi komikus di Indonesia memang belum seheboh artis yang jika jalan di tempat umum akan dikenal luas. Berbeda kiranya dengan Stan Lee yang ketika bertemu dengan seorang pesumo di Jepang, pesumo itu mengenali Stan Lee sebagai kreator bertangan dingin, lalu pesumo itu menyanyikan lagu Spider-Man. Anda tahu kan lagu Spider-Man? Di Edisi Spider-Man 2, lagu itu dinyanyikan ketika Spider-Man “menghilang” dan gantung kostum.

Kembali ke event Indonesian Comic Fair II, Djair Warni merupakan komikus yang kreatif dan produktif dalam menghasilkan karya. Sejumlah karya lahir dari tangan dingin Djair Warni seperti Serial Jaka Sembung, Serial Si Tolol, Serial Malaikat Bayangan, Serial Jaka Geledek, dan lainnya. Djair Warni merupakan tokoh hidup yang telah mengarungi bilangan waktu dan mengalami langsung fluktuasi masa dari komik Indonesia. Hingga kini Djair Warni tetap menekuni dunia komik dikarenakan hobi, meski tuturnya tak ada yang membayar sekalipun. Hal yang menunjukkan bagaimana sudah begitu lekatnya beliau dengan dunia gambar menggambar ini.

Djair Warni menuturkan bahwa karya komiknya memuat banyak tokoh dengan segala karakter. Dalam serial Jaka Sembung misalnya menghasilkan variasi cerita berikutnya yakni berupa penceritaan dari murid-murid Jaka Sembung. Penceritaan dari murid-murid Jaka Sembung selain merupakan diversifikasi cerita juga memuat secara lebih komplet tentang sosok murid dari Jaka Sembung. Hal ini selain memberikan pengayaan terhadap cerita induknya (Jaka Sembung) juga memberikan persepektif bahwa setiap tokoh antagonis memerlukan pendekatan perlawanan yang berbeda.

Berbicara tentang murid, Djair Warni sendiri memiliki sejumlah murid. Menurut beliau murid-murid beliau ini merupakan orang-orang yang dekat dengannya dan ingin belajar langsung darinya. Proses pembelajarannya sendiri berlangsung secara alami dan tidak melibatkan kurikulum yang baku dan kaku. Ketika Djair Warni menggambar dan membuat cerita, maka para muridnya memperhatikan sembari menyerap pembelajaran. Diskusi-diskusi ringan antar Djair Warni dan murid-muridnya juga menjadi medium pembelajaran dan transfer ilmu. Hal ini tentu saja positif kiranya sebagai transfer pengetahuan, pengalaman dan keberlanjutan estafet lini komik Indonesia.

Djair Warni membagi kisahnya tentang era keemasan komik Indonesia. Menurut beliau, masa keemasan komik Indonesia terjadi pada tahun 1968-1973. Era keemasan tersebut ditandai dengan apresiasi dari penggemar serta menggelembungnya finansial para komikus. Dari sisi penggemar, Djair Warni mendapati begitu banyak surat penggemar, sehingga dirinya mengalami kewalahan dalam menjawab surat penggemar. Apresiasi positif dari penggemar begitu kuat dengan menanyakan edisi berikutnya serta sanjungan terhadap karya dari Djair Warni. Kalaupun ada pertanyaan iseng berkisar pada penggambaran misalnya kenapa pohonnya kok tidak ada buahnya, ataupun baju dari para tokoh.

Era keemasan komik Indonesia tersebut diistilahkan oleh Djair bahwa para komikus seperti artis di era sekarang. Selain termasyhur, sisi finansial para komikus juga dapat menjadi sandaran hidup. Sebagai ilustrasi Djair Warni untuk menikah plus bulan madu dan segala macamnya hanya membutuhkan menghasilkan 1 jilid Si Tolol (64 halaman).

Dunia komik dan finansial menemui relevansinya dalam kisah hidup Djair Warni. Djair merupakan sosok yang sedari kecil memiliki hobi menggambar. Namun, orang tuanya menanggap profesi menjadi pelukis merupakan profesi madesu (masa depan suram). Maka orang tua beliau melarangnya menggambar dan jika kedapatan Djair menggambar maka gambarnya akan disobek. Orang tuanya lebih berharap Djair untuk sukses secara pendidikan serta tidak memilih jalan hidup di dunia gambar.

Saya percaya snap shot fase korelasi antara Djair Warni dengan orang tuanya masih eksis hingga sekarang. Sebuah pemikiran yang menempatkan sejumlah profesi tidak memiliki prospek cerah secara finansial. Dalam dunia kekinian hal tersebut misalnya dipotret dalam novel Perahu Kertas pada sosok Keenan yang memiliki talenta luar biasa dalam melukis. Bagaimana dengan anda saat ini? Apakah anda cinta dengan pekerjaan yang saat ini anda geluti? Apakah anda percaya bahwa dari hobi anda dapat paralel dengan pemasukan finansial yang mencukupi? Saya tidak akan menjawab pertanyaan tersebut, saya serahkan kepada anda masing-masing untuk menjawabnya secara personal. Saya hanya ingin menginformasikan bahwa talk show dengan Djair Warni masih ada lanjutan kisahnya. Semoga di lain waktu saya dapat mengusaikannya.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s