Posted in Filsafat

Lari Dari Bumi

Sekali waktu kita harus berlalu. Tinggalkan bumi yang menua ini. Pergi dari kesumpekan yang membekuk. Belenggu yang membebani pandangan mata. Atau beranjak dari dimensi dunia yang satu lagi. Dimana kecepatan, singkat menjadi maha. Dimana topeng, alter ego menjadi biasa. Sekali waktu kita harus lari dari bumi. Berjarak dengan segala “magnet” yang membuat hidup kita berputar tiap kalinya.

Tidak pernahkan anda bosan? Pergi ke tempat kerja sejak pagi buta, bertemu dengan tumpukan kendaraan, pekerjaan yang menggunung, pulang ketika malam melangsungkan tirainya dan uang pun tidak seberapa. Seperti mekanik yang bergerak dalam putaran roda besar bernama kapitalisme. Dan waktu pun terpecut. Seolah tak ada waktu untuk ini itu.

Kapan terakhir kali anda berkaca? Benar-benar berkaca. Benar-benar bicara pada jiwa. Bicara kepada diri sendiri. Menyisakan secuil waktu untuk satu kata: kontemplasi. Bertanya pada diri pribadi diam-diam tentang segala hal. Berpikir tentang semua langkah. Berpikir tentang semua alasan. Menata ulang diri. Membersihkan debu-debu selama perjalanan hidup. Mempertanyakan esensi, bukan aksesoris. Mempertanyakan inti, bukan gincu atau kemasan.

Lari dari bumi adalah pemberontakan. Pemberontakan akan segala hal yang termapankan. Pemberontakan terhadap apa yang seharusnya. Sebuah suara yang keluar dari partitur orkestra. Kepingan puzzle yang tersisa di penghabisan. Lari dari bumi adalah jalan keluar. Dari segala stagnasi. Dari segala kebosanan. Dari segala kejemuan. Dari segala kejumudan.

Lari dari bumi adalah epik. Bukan epigon. Para perintis yang memberontak dari sirkulasi karatan. Lepaskan segala ikatan yang mengkorosi jiwa. Pergilah dan bernyanyi ketika hujan menderas. Biarkan tumpahan airnya menenangkan jiwa yang selalu gelisah. Lakukan segala hal yang di luar orbit keseharian. Jenguk kembali panel-panel mimpi yang mulai terlupa dan berdebu. Buka jendela lebar-lebar. Tatap langit tinggi-tinggi. Bebaskan suaramu dan berteriaklah. Mari lari dari bumi sejenak.

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Lari Dari Bumi

  1. Tulisan menarik! Lari dari bumi meninggalkan semua yang telah tua dan berkarat…Apa yang membuat bumi, semua isi dan aktivitasnya menua? Pikiran? Apakah kita juga perlu meninggalkan pikiran?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s