Posted in Fiksi Fantasi, Film

Tintin: Cita Rasa Teknologi, Minor Drama (1)

Apa jadinya jika Peter Jackson dan Steven Spielberg berkolaborasi menghasilkan satu karya? Ketika pertama kali mendengar The Adventures of Tintin (2011) dikerjakan bareng di tangan Peter Jackson dan Spielberg derajat ekspektasi saya terhadap film ini begitu membubung tinggi. Wajar saja mengingat rekam jejak mereka yang begitu mentereng. Kemampuan dalam mengkombinasikan high technology, jalan cerita yang menarik, sisi humanis yang kuat, menjadi daya ledak bagi Peter Jackson dan Spielberg. Namun balon harapan saya mulai menyusut ketika kakak saya memverdict bahwa The Adventures of Tintin mendapatkan nilai lumayan. Sebagai informasi biasanya rating penilaian saya dan kakak saya tidak beda-beda jauh.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk menonton The Adventures of Tintin. Tentu sejak semula The Adventures of Tintin masuk dalam list film wajib tonton bagi saya. Dan dalam artikel ini berikut uraian tentang film The Adventures of Tintin. Saya minta maaf terlebih dahulu karena tidak dapat memulai ulasan ini dari awal cerita film. Dikarenakan saya datang ketika film telah diputar. Sebabnya ialah Jakarta yang dilanda hujan lebat, dan terjebaklah saya dalam kemacetan di peak hour plus hujan yang menderas. Jadilah saya menonton terlambat sekitar 20 menit dengan pakaian kuyup. Scene pertama yang saya lihat ialah ketika Tintin bertemu dengan Thompson & Thomson. Thompson & Thomson sedang menyelidiki tentang kasus pencurian dompet yang sedang marak terjadi.

Taktik untuk menangkapnya ialah dengan memasangkan tali pada dompet sehingga si pencuri akan terjebak. Si pencuri yang ternyata seorang tua melancarkan aksinya dan jebakan tali pun bekerja dengan baik. Thompson & Thomson pun mengejar si pencuri yang bertubrukan dengan Tintin. Si pencuri dompet pun kabur sembari menilep dompet Tintin, tanpa bisa dikejar oleh Tintin dan dua detektif tersebut. Scene tersebut bagi saya begitu menawan secara mata dan teknologi. Bagaimana begitu rapi teknologi dan gambar yang digunakan dapat menggambarkan secara akurat sehingga benar-benar mirip dengan manusia. Baik itu raut wajah, postur fisik dan gesturenya

Cerita pun berlanjut dengan Tintin yang disekap dengan alkohol lalu dimasukkan dalam partisi menuju kapal besar yang akan berlayar jauh. Daya aksi terjadi ketika Snowy (anjing Tintin) berusaha untuk menolong majikannya. Mulai dari bergelantungan di atap mobil, melewati kawanan sapi, bagaimana dengan story board yang prima dan memperhitungkan aksi dan humor. Kapal pun berlayar dengan Snowy sebagai penyusup. Tintin terbangun dari pingsannya, langsung berada di bawah ancaman Sakharine yang meminta potongan kalimat dari bahasa Inggris kuno yang menjadi bagian dari puzzle dalam misteri kapal unicorn. Tintin telah kehilangan potongan kalimat itu, sebab potongan kalimat teka-teki itu berada di dompetnya yang dicuri.

Berada dalam tawanan, kecerdikan Tintin diuji kali ini. Bagaimana dapat meloloskan diri dari sekapan. Tintin pun menjalankan upaya pelolosan dengan menutup kaca pintu dan menahan putaran pintunya. Tintin memutuskan untuk melemparkan kayu dan naik ke jendela atas yang terbuka dan memancarkan sinar cahaya. Sementara itu, dua orang armada dari Sakharine diperintahkan untuk menghajar, menginterogasi Tintin hingga mengaku dimana potongan kalimat tersebut. Ketika kedua anak buah Sakharine tiba di tempat penyekapan Tintin, mereka mendapati pintu tak bisa dibuka. Mereka pun menggunakan peledak untuk membuka pintu. Ketika pintu terbuka, taktik plus kecerdikan Tintin pun bekerja dengan menggunakan “tembakan gabus penutup sampanye”. Sehingga seolah-olah mereka diserbu dengan senjata api.

Tintin yang cerdik dengan Snowy telah berhasil melarikan diri ke jendela yang terbuka. Ternyata itu adalah tempat Haddock, si kapten kapal yang dibajak kapalnya. Bicara tentang bajak membajak ini, mengingatkan saya pada Jack Sparrow dalam Pirates of the Carribean. Haddock merupakan seorang pemabuk berat yang terjebak dalam “penjara alkohol” sehingga dirinya benar-benar tak berdaya untuk melakukan sesuatu. Tintin berhasil menyadarkan Haddock untuk bangkit melawan. Perlawanan pun dimulai dengan upaya mengendap-endap dan mengambil sekoci kapal.

Sedangkan armada kapal telah dikerahkan untuk mencari Tintin yang kabur dari sekapan bersama dengan Haddock. Sembari mengendap-endap, terungkaplah fakta bahwa sesungguhnya Haddock merupakan bagian krusial bagi teka-teki kapal unicorn. Haddock merupakan keturunan terakhir dari klan Haddock, sehingga harusnya kapten Haddock mengetahui kunci teka-teki kapal unicorn tersebut. Haddock pun bercerita bahwa di hari-hari terakhir kakeknya, dirinya pernah diceritakan tentang cerita turun temurun yang menjadi kunci puzzle dari kapal unicorn. Namun, Haddock si pemabuk keesokan harinya telah lupa dengan cerita tersebut. Arti penting kapten Haddock juga terungkap ketika Sakharine menginginkan si kapten kapal pemabuk tersebut ditangkap hidup-hidup.

Tintin, Snowy dan Haddock berupaya untuk keluar dari kapal, namun keduanya menemui pintu yang terkunci. Haddock pun memberikan opsi dengan mengambil segepok kunci dari kawanan armada kapalnya yang tertidur lelap. Haddock sempat memperingatkan tentang betapa berbahaya dan ahlinya para armada kapalnya yang sedang dalam tidurnya tersebut jika sampai terbangun. Tintin dan Snowy sembari berakrobat berupaya untuk mengambil segepok kunci. Awalnya saya sempat mengira kawanan yang tertidur tersebut dengan sejumlah keahliannya akan terbangun dan mengejar Tintin. Nyatanya tidak. Upaya pengambilan kunci yang dramatik sembari memperlihatkan bagaimana kawanan yang tertidur terlelap tersebut terayun-ayun seperti pendulum, lagi-lagi memperlihatkan primanya teknologi yang dipakai. Akhirnya Tintin mendapatkan kunci pintu tersebut.

Dan kembali penonton dibuat tertawa ketika pintu yang terkunci tersebut ternyata berisi persediaan minuman keras Haddock, bukan jalan keluar. Tintin, Snowy dan Haddock melanjutkan upaya pelarian sembari mengendap. Tintin yang mencuri dengar rencana dari armada Sakharine, lalu mengirimkan pesan dengan menggunakan pesan radio. Sakharine ternyata memiliki senjata rahasia yang akan digunakannya di hari-H pencurian replika kapal Unicorn. Replika kapal unicorn tersebut ternyata dimiliki oleh Sultan Maroko, sehingga jelaslah destinasi dari kawanan Sakharine. Sultan Maroko memang memiliki hobi untuk mengumpulkan segala macam barang berharga.

Potongan sifat kolektor dari Sultan Maroko ini mengingatkan saya akan salah satu sebab dari Arab Spring. Yap, ada disparitas yang teramat besar antara para penguasa yang bergelimang kekayaan dengan rakyatnya yang kesulitan hidup dan terjerat kemiskinan. Sedangkan pesan dari Tintin kepada kedua detektif Thompson & Thomson dengan menggunakan sandi morse mengingatkan saya pada berbagai macam bahasa sandi ketika dulu di bangku SD mengikuti pramuka. Ada sandi morse, sandi rumput, semaphore. Apakah anda masih ingat dengan bahasa sandi-sandi tersebut?

Kembali ke cerita Tintin, Haddock berupaya untuk menurunkan kapal sekoci. Ternyata di kapal sekoci yang akan diturunkan terdapat satu armada kapal yang sedang asyik mabuk dengan botol-botol miras berderetan di sekoci tersebut. Haddock menjatuhkan sekoci tersebut ke lautdan memilih untuk menurunkan sekoci yang lainnya. Tintin sementara itu, terungkap pengendapannya oleh armada kapal. Dan kembali scene aksi terjadi lagi. Mulai dari tembak-tembakan dan baku hantam pun terjadi. Akhirnya Tintin, Haddock, Snowy berhasil melarikan diri dengan sekoci. Lampu tembak kapal diarahkan untuk mencari mereka dan tersorotlah sekoci yang berisi botol minuman keras. Tanpa ampun sekoci tersebut dihantam dengan dilindas oleh kapal besar tersebut.

Arti penting dari Haddock kembali terkonfirmasi ketika Sakharine marah besar terhadap pelindasan sekoci tersebut. Meski kemudian salah satu armada kapal menyadari bahwa ada satu lagi sekoci yang hilang. Pagi pun menjelang, Tintin, Snowy, Haddock berupaya untuk pergi ke Maroko dengan perahu kecil tersebut. Tintin dan Snowy yang terhantam dengan dayung oleh Haddock hingga pingsan, tiba-tiba terbangun dengan kekagetan. Haddock malah membuat api unggun dengan bahan kayu-kayu perahu kecil tersebut, termasuk dayungnya. Hal ini dilakukan Haddock dengan basis pemikiran, mereka kedinginan di tengah laut. Namun, tindakan Haddock ini tentu saja fatal bagi petualangan mereka. Tantangan untuk kemudian menguat, ketika sebuah pesawat udara kecil berbangku dua penumpang terbang sembari menembaki mereka.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Bersambung dulu ya…

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Tintin: Cita Rasa Teknologi, Minor Drama (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s