Posted in Sosial Budaya

Menunggu

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata “menunggu”? Jemu, bosan, waktu yang tersia-siakan? Menunggu ternyata memiliki definisi lainnya. Menunggu adalah sebuah proses. Terkait dengan komputer, menunggu dapat dikaitkan dengan konsep loading. Saya percaya menunggu adalah fase yang perlu dalam kehidupan kita. Menunggu adalah sebuah proses waktu, dan kita harus melaluinya. Menunggu melatih diri untuk bersabar, tidak terburu-buru. Bersabar bahwa segalanya membutuhkan waktu. Buah yang matang di pohonnya pun membutuhkan proses, nasi yang anda makan pun membutuhkan proses panjang. Hidup ini memang memiliki proses pertumbuhannya.

Allah Swt yang maha berkuasa dapat menitahkan melalui kun fayakun. Namun, Allah Swt mendidik manusia untuk melalui proses dan sejumlah kata tunggu. Lihatlah bagaimana risalah para nabi menuturkan tentang proses dan perkembangan. Bagaimana proses menunggu, merupakan sebuah kerja keras dan upaya mematangkan. Nabi Muhammad melalui sejumlah siklus sebelum akhirnya turun Surat Al Maidah ayat 3, yang menyatakan “Pada hari ini telah kusempurnakan agamaku”. Proses dan kata menunggu dibutuhkan untuk mematangkan sebagai mekanisme pengujian. Banyak kiranya yang gagal dan tidak sabar untuk melalui proses menunggu ini, maka yang terjadi ialah karbitan dan menuai sebelum cemerlang.

Ketidaksabaran berproses inilah yang menjadikan segalanya serba instan dan kehilangan makna filosofisnya. Makanan fast food merupakan fungsi turunan dari potret besar ketergesaan kontemporer. Ada banyak sisi yang ternyata kurang baik dari makanan cepat saji pada realitanya. Dan saya percaya kehidupan kontemporer kini menyajikan begitu banyak short cut, jalan pintas, instan dimana-mana. Kita pun tanpa disadari menjadi manusia “cepat”. Segalanya ingin cepat dan instan. Membaca cepat, maka yang dibaca hanya review dari tulisan, kata pembuka dan kesimpulan. Menulis cepat, maka yang dilakukan ialah menjahit sana-sini dari tulisan yang sudah ada. Fakta tersebut sekedar contoh, bagaimana substansi, kedalaman filosofi menjadi hilang dari diri. Membaca, tanpa dapat menelusuri setiap jejak makna dalam kalimat. Menulis, tanpa dapat menelusuri peluhnya membidani setiap jiwa kata.

Jika segalanya terus berjalan dengan mekanisme percepatan, instanisme, mengesampingkan proses dan kata menunggu, saya percaya peradaban ini akan kelelahan dan berada pada siklus menurunnya. Sejenak berhentilah dan nikmati proses menunggu. Sejenak berhentilah dari segala instanisme. Sejenak berhentilah dan menjiwai segala proses dari setiap yang ada. Hayati betapa segala sesuatu memiliki waktunya untuk menjadi sesuatu. Dengan demikian kata menunggu dan proses dapat mengalami redefinisi. Menunggu bukan sekedar jemu, bosan, kesia-siaan, tetapi sebagai bagian dari proses kehidupan. Proses menuju kematangan. Selamat menunggu dan selamat berproses.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s