Posted in Essai, Sosial Budaya

Jeda

Di penghujung tahun, aroma vakansi telah mengglobal dimana-mana. Seperti nuansa yang menjadi koor semesta. Bagi pemakai kalender Masehi, maka inilah saat-saat penghabisan dari tahun 2011 dan bersiap menuju tahun 2012. Segala rupa persiapan telah disiapkan untuk menyambut akhir tahun dan resolusi di awal tahun 2012. Akhir tahun dan awal tahun juga beririsan dengan hari libur anak sekolah, sehingga kata liburan benar-benar semarak. Pusat-pusat magnet hiburan ramai dikunjungi oleh orang dari berbagai penjuru. Benar terasa kiranya bumi ini penuh dengan manusia ketika melihat kepadatan di sentral tempat-tempat liburan.

Liburan nyatanya memang dibutuhkan oleh manusia. Liburan merupakan mekanisme alami dari manusia. Liburan merupakan periode untuk mengambil jeda. Fase untuk mengistirahatkan sistem yang selama ini bekerja. Bahkan Allah Swt setiap harinya telah memperuntukkan tubuh kita untuk libur melalui tidur. Tidur boleh dibilang merupakan liburan bagi setiap orangnya. Setelah beraktivitas dan melakukan berbagai macam kegiatan, maka tidur merupakan mekanisme untuk memulihkan kembali kekuatan. Apa kiranya jika manusia dalam kesehariannya terus bablas bekerja dan menafikan tidur?

Komparasi manusia yang bablas bekerja dan menafikan tidur dapat dikomparasikan menjadi parameter bagi orang yang dalam seminggu bekerja terus-terusan. Tidur dan liburan sesungguhnya bukan pertanda kelemahan atau parameter kurang gigih bekerja. Tidur dan liburan merupakan saat yang dibutuhkan oleh manusia. Dalam contoh kasus yang saya alami, saya pernah mengalami persinggungan dengan para “pembenci tidur” dan “pembenci liburan”.

“Pembenci tidur” dulu pernah saya alami ketika diforsir tenaganya untuk mengerjakan serangkaian tugas organisasi. Walhasil mekanisme tubuh saya menjadi kacau dan kekacauan dalam mekanisme tubuh itu memiliki implikasi yang meluas. Saya benar-benar lelah dan muak ketika itu. Pembelajaran yang dapat diambil ialah sehebat apapun organisasi yang ingin anda gerakkan, anda perlu beristirahat dan menjaga mekanisme tubuh. Sesekali memforsir tenaga dengan mengurangi jatah tidur masih oke, tapi jika terus-terusan secara spartan melakukan kerja dengan tidur yang kurang, merupakan pola hidup yang keliru.

Sedangkan pada “pembenci liburan”, saya temui kasusnya ketika menyangkut salah satu fragmen pekerjaan. Berkorelasi dengan rekanan yang lain terkadang dapat begitu menyebalkan. Dan pada rekanan yang satu ini, menurut hemat saya agak sinting terkait dengan waktu. Segala sesuatunya ada waktu dan peruntukannya. Nyatanya hari Sabtu dan Minggu saya sempat tersita untuk menyelesaikan pekerjaan. Rupa-rupa-lah alasan yang diujarkan rekanan yang ini, mulai dari lebih cepat pekerjaan diselesaikan lebih baik, momentum, logika pertumbuhan, dan sebagainya.

Kalau ada pembelajaran yang dapat diambil dari kasus dengan “pembenci liburan” ialah uang tidak dapat membeli kebahagiaan. Terus terang saya melihat rekanan ini terlampau gaduh dan nyatanya dari uang yang didapatkannya gagal terkonversi menjadi kebahagiaan. Logikanya mungkin dapat dihubungkan dengan kegundahan orang-orang yang bekerja dengannya yang pada intinya sebal ketika waktu liburnya malah dilahap untuk menuntaskan pekerjaan. Dan jangan anda pikir kekuatan dari doa dan kekesalan itu lemah. Pada beberapa hal si “pembenci liburan” merupakan orang yang menzalimi orang lain. Dan para penzalim akan menemui ganjarannya.

Selamat menikmati liburan, semoga anda mendapatkan kesegaran dan sesuatu yang baru serta bermakna dari vakansi yang dijalani. Perjalanan hidup tak hanya harus bekerja dan bekerja. Hidup juga memerlukan jeda. Jeda itulah yang menjadi distingsi antara manusia dan robot. Bahkan mesin pun akan rusak dan membesar akumulasi penyusutannya jika terus diforsir dalam kerja tanpa jeda. Begitu juga dengan manusia. Bekerja dengan bermakna dan menimba liburan untuk mengisi celah-celah energi. Selamat ber-vakansi.

Advertisements
Posted in puisi, sastra

Ketika Kau Tersenyum

Ketika kau tersenyum
Mendesakkan mimpimu ke bumi tersungkur ini
Menjejalkan kata-kata sunyi ke dunia berasap ini
Ketika kau tersenyum
Aku merasa asing kini…

Ketika kau tersenyum
Keindahanmu menghancurkan kini
Membisikkan racun dalam takaran tenang
Mengalir di nadi
Mendekam lalu mengkudeta kesadaran
Nafas pun terbelenggu

Apakah ini kamu?
Seseorang yang kunanti di pertukaran masa
Seseorang yang menginspirasi
Menarik kelam dari langit jiwa
Meniupkan kata-kata pembebasan

Apakah ini kamu?
Kuasa rasa di keterasingan putus asa
Kekuatan di keterpasungan daya
Cahaya terakhir di sumbu jiwa
Cahaya pemecah sepi

Ketika kau tersenyum
Ragu mengait dalam kata
Bimbang terujar dalam jarak
Retakan di kubah perlindungan
Serpihan terbakar abu hitam putih
Ketika kau tersenyum
Dalam sesat luka

Apakah ini kamu?
Alasan jika karena
Jembatan penghubung dua kata
Penjelasan atas segala duka
Anugerah di sisa waktu bumi
Senyum penyempurna bahagia
Yang terakhir dari sebuah perjalanan rasa

Ketika kau tersenyum
Apakah ini kamu?
Atau hanya proyeksi dari cinta utopisku

Posted in Essai, Fiksi Fantasi

Dunia Baru yang Berani

Apa yang terjadi secara fisik di lapangan, sesungguhnya beranjak dari domain pemikiran. Contoh nyatanya dapat kita lihat dalam kehidupan kontemporer kini. Bukti-bukti artefak yang ada berawal dari sebuah ide pemikiran. Soekarno di era 1960-an dengan konsep Demokrasi Terpimpinnya melakukan sejumlah pembangunan fisik dimana-mana. Kompleks olahraga di Senayan, Masjid Istiqlal, Monas, Patung selamat datang di Bundaran HI, merupakan fragmen otentik dari pemikiran Soekarno untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar. Soekarno di era demokrasi terpimpin sedang membangun dunianya.

Di belahan dunia lain ada Woodrow Wilson yang memiliki harapan tentang dunia lebih baik dan lebih damai. Goenawan Mohammad sang essais merekamnya dalam kalimat berikut: Ia memang aneh, seorang presiden Amerika yang aneh, di abad ke-20. ia bicara tentang perlunya “perdamaian, tanpa kemenangan”. Ia menolak untuk menggunakan kekuatan fisik Amerika terhadap negeri-negeri yang lebih lemah. Bahkan ketika kapal Inggris Lusitania tenggelam ditorpedo Jerman, dan ada 128 penumpang Amerika tenggelam, Wilson tetap belum meneriakkan pekik pertempuran. “Memang ada dalam hidup ini sebuah bangsa yang teramat sadar akan harga dirinya untuk mau berkelahi,” katanya (Goenawan Mohammad, Catatan Pinggir: hal 316).

Soekarno dan Woodrow Wilson bukanlah anomali dalam upaya membangun dunia baru. Ide membangun dunia dan menjalani sistematika dunia mendominasi banyak orang di dunia. Membangun dunia adalah ide universal yang bebas didefinisikan oleh siapa saja. Penulis novel, seniman komik, politisi, ilmuwan, pelajar, aktivis lingkungan, pengangguran, memiliki definisi dan tafsiran mengenai bagaimana dunia seharusnya bekerja.

JRR Tolkien contohnya melalui serial The Lord of the Rings yang fenomenal telah membawa imajinasinya begitu kuat, berdasar dan benar-benar hidup serta nyata. Para pembaca kisahnya teryakinkan dengan detil, budaya dari dunia yang diciptakan. Sukar untuk menganggap hobbit, elf, kurcaci, orc, sekedar fantasi en sich, menilik dari detail presisi penggambaran yang disajikan oleh Tolkien. Tolkien telah berhasil membuat para pembaca percaya bahwa dunianya nyata dan eksis. Untuk kemudian di tangan Peter Jackson, melalui dukungan prima visual effect, fantasi dari Tolkien mengalami visualisasi yang sangat mengagumkan. Sebuah dunia yang mampu ditampilkan mencekam dan di satu sisi begitu damai.

Dalam kisah komik, kisah Satu Atap layak menjadi referensi tentang dunia baru. Idenya sendiri ialah menggabungkan hal yang kontemporer dengan fantasi. Kota Bandung menjadi setting cerita, dimana dalam kreasi Azisa Noor, Bandung merupakan kota yang juga dihuni oleh keturunan setan, elf, putra duyung, peri hutan, manusia harimau, dan makhluk ajaib lainnya. Tema yang sederhana dan pesan dalam cerita menjadikan dunia kreasi Azisa Noor mampu dekat dengan keseharian kita, sekaligus melambungkan imajinasi kita tinggi-tinggi.

Saya percaya segala lapis strata memiliki obsesi akan dunia baru. Tentunya dari masing-masing orang akan memiliki diferensiasi tentang bagaimana seharusnya dunia baru. Mungkin akan ditemui titik persamaan dalam konsep membangun dunia baru, juga akan ditemui titik perpecahan mengenai konsep dunia baru. Bagaimana dengan anda? Pernahkah anda memiliki imajinasi untuk mengkreasi dunia baru?

Mengkreasi dunia baru menurut hemat saya bergerak diantara kutub harapan dan kecemasan. Harapan agar masa depan lebih baik dari hari kemarin dan hari ini. Kecemasan dikarenakan rangkaian dekadensi telah menumpuk dan mengancam eksistensi kehidupan. Pada kutub harapan, itulah yang menjelaskan kerinduan kita pada sosok pahlawan. Kita mencintai pahlawan karena kerelaannya untuk berbuat sesuatu yang lebih besar dan menyalakan harapan dalam diri kita.

Snap shot sosok pahlawan mampu menyalakan harapan dapat kita temui pada kisah Spiderman 2. Peter Parker yang sempat “gantung kostum” mendapatkan pencerahan dari bibinya tentang betapa pentingnya sosok Spiderman. Spiderman yang menyelamatkan seisi kota, menangkap para penjahat, sesungguhnya telah memberikan permaknaan yang mendalam. Bahwa kebaikan itu masih ada, jiwa ksatria itu masih nyata, harapan tentang dunia baru yang lebih baik masih tetap eksis. Spiderman telah menghasilkan reaksi berantai dari sebuah perbuatan mulia. Dan kita merindu dengan sosok pahlawan macam begini ataupun menginginkan memiliki sifat kepahlawanannya.

Pada kutub harapan, kita sebenarnya juga dapat melakukan kontemplasi. Apakah diri ini sudah paralel dengan upaya membangun dunia baru yang lebih baik? Jangan-jangan selama ini diri ini menjadi parasit, sosok yang memadamkan harapan tentang kebaikan di dunia baru. Pada kutub harapan, akan lebih produktif jika kita berhenti merutuk gelap dan menyerampahi dunia dengan segala kebobrokannya. Lebih baik kiranya menyalakan cahaya, menjadi harapan yang nyata bagi bumi ini dalam kongsi perkataan dan perbuatan.

Sedangkan pada kutub kecemasan, upaya membangun dunia baru ialah jawaban atas permasalahan kontemporer yang memberat. Kecemasan itu memiliki anak cabang yang begitu banyak. Dunia seperti tengah membuat janji cepat atau lambat dengan ledakannya. Mulai dari permasalahan lingkungan, frustasi sosial, disparitas, serakahisme, kecemasan itu hidup di benak manusia di bumi. Kecemasan terkait lingkungan, misalnya menjadi basis dari sejumlah film seperti 2012, The Day After Tomorrow. Bagaimana inti pesan dari film tersebut diperlukan sebuah bencana mengglobal untuk mengkreasi dunia baru. Bencana global ini menyebabkan perubahan pada fisik bumi dan terutama menguji nilai kemanusiaan.

Fakta sejarah juga mewartakan bagaimana kecemasan telah membawa jalan suram bagi dunia baru di kemudian hari. Goenawan Mohammad menarasikannya sebagai berikut: “Seandainya saya tahu, demikian kata Einstein sebagaimana dikutip dalam The Little Black Book of Atomic War karya Marc Ian Barach yang menarik itu, “seandainya saya tahu bahwa Jerman tidak akan berhasil membuat bom atom, saya tak akan berbuat apa-apa sedikit pun.” Einstein, Yahudi yang rasnya diburu Hitler itu, memang didorong rasa cemas. Perasaan yang sama terbit pada diri bapak bom atom yang lain, Leo Slizard, yang lari dikejar Nazi dari Hungaria (Goenawan Mohammad, Catatan Pinggir: hal 306).

Dunia pun mencatat bagaimana dari rahim kecemasan tersebut muncul eksponensial kecemasan yang hingga kini masih berpendulum di benak kekhawatiran kita. Kenyataan sejarahnya bom atom di Hiroshima telah membuat sekitar 200 sampai 300 ribu orang mati. Kota luluh lantak. Panas yang terlontar dari bom istimewa itu begitu hebatnya hingga bayang-bayang orang pun sampai tercetak di aspal jalan.

Yang menariknya upaya untuk mengkreasi dunia baru dapat menghasilkan senyawa baru yakni eskapisme. Eskapisme ialah sifat melarikan diri dari kenyataan. Dalam beberapa hal, dapat dikomparasikan dengan utopis. Upaya membangun dunia baru tak lebih dari upaya untuk lari dari bumi. Sebuah fantasi sinting yang tidak akan terwujud dalam mangkuk kenyataan. Jebakan dari eskapisme tak kalah menggodanya dengan nyanyian Siren. Begitu indah menarik, memikat jiwa, namun konsekuensinya fatal.

Eskapisme dan utopis ini dapat membawa pada kegiatan turunan yang tidak produktif. Mereka yang terjebak dalam gelembung eskapisme dan utopis ialah mereka yang hidup di bumi, tapi jiwanya menjejak di ranah tidak nyata. Eskapisme dan utopis dalam hal ini lebih seperti ingauan tanpa kerja nyata yang dicicil etape demi etape. Sekedar berhasrat merindukan dunia baru namun hanya berpangku tangan, enggan berpeluh, enggan melakukan kreativitas.

Dunia baru yang terjadi apapun itu memerlukan keberanian. Keberanian untuk bermimpi, keberanian untuk mengalami validasi, keberanian untuk mengalami resistensi dalam perjalanan mewujudkannya. Setiap dari kita saya percaya memiliki imajinasi tentang dunia baru dalam lembar pemikirannya. Dan saya percaya setiap dari kita dapat berperan dalam mengkreasi dunia baru itu. Jika anda ingin dunia baru yang ada ialah bumi yang ramah terhadap lingkungan, mulailah melakukan pola hidup yang bersahabat bagi bumi. Mulai dari pengurangan pemakaian plastik, menghemat energi, menanam pohon, dan sebagainya. Ingat komunitas dan entitas jika dicacah merupakan individu-individu. Dan setiap dari kita dapat menjadi individu yang dapat membawa suluh perbaikan.

Diperlukan keberanian untuk mengkreasi dunia baru. Keberanian untuk melangkah diantara harapan dan kecemasan. Keberanian untuk tidak tergoda dengan konsep eskapisme dan utopis. Dunia baru pertama-tama dapat dikreasi bukan oleh entitas super, kuat, dan besar. Dunia baru dapat dimulai pada diri kita secara personal.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Politik

Kompetisi

Menjadi yang tercepat, terkuat, dan terhebat, begitulah kira-kira filosofi dari kompetisi. Kompetisi menyajikan gesekan, pertarungan, demi mencapai yang terbaik. Bahkan sejatinya semenjak hadir di bumi kita adalah pemenang dalam sebuah kompetisi. Diantara sperma yang terbuncah, muncullah pemenang yang membuahi induk telur. Dan kita adalah monumen nyata dari proses itu. Hidup untuk kemudian menyajikan medan kompetisi bagi diri kita. Mulai dari di keluarga, sekolah, dunia kerja, dan sebagainya, kompetisi terus terjadi.

Kompetisi memang memiliki sisi kelamnya. Lihat saja praktek belakang layar yang menihilkan kompetisi. Bagaimana proses belakang layar menjadikan kompetisi sekedar lelucon panggung yang ada. Kita mengutuk praktek seperti ini. Kompetisi memberi ruang bagi perbedaan dan konsestasi nilai. Inilah yang membuat para penguasa diktator dan tiran melindas substansi kompetisi. Perbedaan dari penguasa dianggap sebagai pesakitan. Kontestasi nilai menjadi sesuatu yang terlarang. Hanya nilai-nilai dari penguasa yang dapat hidup dan menguasai makna dan wacana.

Penguasa diktator dan tiran kalaupun menyajikan kompetisi sekedar aksesori seolah-olah. Fakta sejarahnya dapat dilihat dengan pemilu yang berlangsung di negara penguasa diktator dan tiran. Partai pemerintah sekedar menjadikan pemilu sebagai seremoni tipu-tipu dengan label kompetisi. Kompetisi sesungguhnya tak terjadi dalam negara para diktator dan tiran.

Kompetisi dicaci dan dimaki oleh para penguasa. Oposisi untuk kemudian dibungkam dan diringkus. Perangkat hukum dapat menjadi instrumennya. Memenangkan hati dan opini dari rakyat merupakan instrumen lainnya bagi nihilisme kompetisi. Sejarah politik Indonesia pernah menjadi konsep faktual nihilisme kompetisi. Soekarno pernah bertutur, “Marilah kita kuburkan partai-partai” dan konsep Demokrasi Terpimpin. Sedangkan Soeharto menyebar banyak ranjau nihilisme kompetisi. Mulai dari pembonsaian partai politik, kematian perdata para oposan misalnya pada kasus Petisi 50, pembreidelan insan pers, dan sebagainya.

Kompetisi memang bermuara pada hadirnya sang pemenang. Namun tentu saja sejatinya kita menginginkan pemenang yang orisinil. Pemenang yang tidak melegalkan pembonsaian, nihilisme kompetisi. Pada para pemenang orisinillah kita menaruh hormat dan mengapresiasi. Bukan pada para pemenang yang kokoh di jalur juara namun menggunakan laku teror, intimidasi dan praktek culas dalam berkompetisi.

Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Gambar

Apa yang bisa dilakukan oleh gambar? Seberapa jauh gambar dapat memprovokasi, menginspirasi, menggerakkan, memaknai, dan membuat diri berkontemplasi? Gambar bukan sekedar goresan dari pensil ataupun kuas. Gambar bukan sekedar tentang komposisi, karakter, pewarnaan. Gambar dapat menjadi pesan. Gambar dapat menjadi jiwa. Konon katanya 1 gambar dapat lebih mewakili dibandingkan dengan seribu kata.

Gambar dapat menjadi enigma. Lihat saja master piece dari Leonardo Da Vinci berupa lukisan Monalisa. Lukisan Monalisa adalah enigma yang sempurna. Mulai dari cerita di balik siapa sosok Monalisa sesungguhnya, komposisi dari pembuatan Monalisa, hingga makna senyum dari Monalisa. Dalam jagat sastra, lukisan Monalisa bahkan menjadi fragmen penting dari novel Da Vinci Code. Lukisan Monalisa seakan bicara. Lukisan Monalisa seakan setia mendekap rahasianya yang bertahan mengarungi waktu. Begitulah kiranya kumparan makna dari novel Da Vinci Code perihal lukisan Monalisa.

Gambar dapat menjadi karakter khas dari seseorang ataupun suatu entitas. Maka para seniman di bidang gambar berusaha untuk menemukan “tanda tangannya”. “Tanda tangan” sendiri merupakan bukti dari aktualisasi diri dan karya. Setelah melalui detak waktu, setelah menghasilkan karya demi karya. Dan pengakuan pun terjadi. Maka berbanggalah sang seniman di bidang gambar. “Tanda tangannya” bukan sekedar goresan singkat tentang inisial. Ada proses perjuangan di balik menemukan “tanda tangan”.

“Tanda tangan” juga dapat menunjukkan karakter dan kekhasan dari seniman gambar. “Tanda tangan” tersebut seperti mengkonfirmasi dari sebuah karya dengan karakter khas yang kuat. Dalam novel Perahu Kertas karangan Dewi Lestari misalnya bagaimana Keenan yang cerdas, artistik dan mampu menghasilkan lukisan-lukisan yang impresif pada kenyataannya harus bertemu dengan realita sosial jagat perlukisan. Keenan yang pendatang baru di blantika perlukisan langsung melesat dengan menempatkan karya lukisnya di Galeri Warsita yang merupakan tempat prestisius bagi pelukis. Namun talenta dan impresifnya gambar dari Keenan belum cukup untuk menarik seorang pembeli pun yang orisinal untuk membeli karyanya.

Keenan untuk kemudian harus melakukan perjalanan personal menemukan takdirnya. Ia pergi ke Bali, ia menggali inspirasi dari sebuah buku cerita yang dikarang oleh orang yang dicintainya. Dan Keenan pun secara perlahan berhasil menyusun balok-balok kesuksesannya. Keenan menemukan “tanda tangannya” dengan sebuah kerja keras, perjalanan, dan takdir. Seperti itu pula perjalanan nyata dari seorang seniman gambar. Tidak sekedar talenta yang dibutuhkan untuk berhasil, masih ada ornamen lain seperti konsistensi, kerja keras, kerja cerdas, dan takdir yang mempengaruhi keberhasilan menempuh jalan sebagai seniman gambar.

Dalam talk show yang berlangsung di Indonesian Comic Fair II, Djair Warni (pengarang Jaka Sembung) mengemukakan pendapatnya bahwa kemampuan menggambar dari komikus era sekarang cukup bagus. Menurutnya titik lemah dari komikus era sekarang ialah pada kekuatan cerita. Benar kiranya gambar merupakan medium dari pesan. Sama halnya dengan tulisan yang menjadi artikulasi dari pesan, gambar pun memiliki efek untuk mempengaruhi. Lalu seberapa besar pengaruh dari gambar dapat mempengaruhi si pembacanya?

Seberapa besar pengaruh dari gambar dapat mempengaruhi si pembaca, menurut hemat saya tidak sekedar dari kemampuan teknis dalam menggambar. Kemampuan teknis dalam menggambar penting dan determinan bagi keberhasilan sebuah karya, namun jangan lupakan kekuatan cerita dan pesan. Berkisah tentang kekuatan cerita dan pesan, baru-baru ini saya menamatkan komik berjudul Nanny. Komik Nanny sendiri merupakan kisah-kisah yang terkumpul dalam kompilasi yang dibuat dalam rangka 24 Hour Comics Day. Terdapat 7 komik pendek dalam komik Nanny tersebut.

Dari 7 komik pendek tersebut, saya secara subyektif akan memilih komik dari Tita Larasati yang berjudul tentang bumi. Secara teknis menggambar, gambar dari Tita mewakili kesan sederhana dan tidak terlalu wah dengan detil beserta segala ornamennya. Namun ada distingsi istimewa dari karya Tita yakni kekuatannya dalam menyampaikan pesan. Tita memaparkan fakta emprik sembari menggedor pintu kesadaran untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Komik tentang bumi telah berhasil memprovokasi, menginspirasi, dan mendiseminasi gagasannya.

Kekuatan pesan dalam gambar juga dapat menemui referensinya melalui karya Indonesian Damn Good Cartoon. Indonesian Damn Good Carton merupakan kompilasi karya dari Jitet Koestana, Didie SW, Tommy Thomdean, dan Arif Sutristanto. Mereka adalah para kartunis Indonesia yang sering menang di berbagai festival dunia seperti World Press Cartoon Portugal, Syria Cartoon Contest, Jiaxing International Cartoon Contest China, dan festival lainnya.

“Membaca” Indonesian Damn Good Cartoon sendiri bagi saya secara personal benar-benar menginspirasi. Bagaimana dari satu gambar komplet begitu indah secara artistik dan begitu baik dalam menyampaikan pesan. Terkadang pembaca dibuat tertawa, terkadang pembaca dibuat termenung dengan kondisi realitas yang dihadirkan dalam gambar. Indonesian Damn Good Cartoon sendiri dibagi dalam sembilan cluster, dimana di awal bab terdapat kalimat bestari dari tokoh dunia. Cluster yang ada sendiri ialah Nature, Power, Animal, Peace, Technology, Public, Press, Death, City. Adapun kalimat bestari dapat saya ujarkan sebagai berikut, “It has become appalingly obvious that our technology has exeeded our humanity.” -Albert Einstein, physicist, Nobel Prize Winner-.

Saya teringat dengan pelajaran sejarah pada masa sekolah dulu, bahwasanya peninggalan dari manusia salah satunya ialah dalam bentuk gambar. Sejarah dalam bentuk gambar dapat dilihat pada dinding-dinding di gua, dalam makam-makam para fir’aun, dan sebagainya. Pendek kata sejarah telah menjadi medium bagi jejak manusia. Menggambar memang tak hanya sekedar goresan garis dan lengkung. Gambar adalah cerita beserta makna. Maka setiap gambar merupakan bukti otentik yang bertutur tentang jejak kemanusiaan. Selamat menggambar dan bertutur kepada dunia.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Fiksi Fantasi, Jalan-Jalan

Muhibah ke Indo-Star Trek (1)

Mungkin kita hanya perlu menghadirkan tanya, tanpa perlu menemukan jawab. Saya selalu percaya alasan dari kemajuan, inovasi, dan kreativitas memiliki akar referensi yakni pertanyaan. Dengan pertanyaan itulah kita hidup, maju dan memaknai. Bahkan kita bisa tahu tingkat kecerdasan dari seorang manusia dari pertanyaan yang diajukannya. Essai yang saya buat kali ini merupakan sebuah catatan perjalanan dari muhibah ke acara yang diadakan Indo-Star Trek. Indo-Star Trek sendiri merupakan sebuah komunitas pecinta Star Trek dan memiliki tag line yakni “To Boldly Go Where No Indonesian has Gone Before.”

Apa yang saya tahu tentang Star Trek? Terus terang lebih banyak celah inabsentia pengetahuan saya tentang tema Star Trek. Ketika mendengar Star Trek, maka percabangan ide saya akan menemukan pada pesawat, perjalanan, kapal canggih, Data, Klingon, kapten kapal, film bioskop Star Trek. Basis perkenalan saya dengan Star Trek praktis ketika dulu serial Star Trek sempat mentas di RCTI. Adapun ingatan paling kontemporer tentang Star Trek, terkonfirmasi dalam film Star Trek (2009) yang menurut saya menjadi sinema yang layak direkomendasikan untuk ditonton.

Berbekal basis pengetahuan tersebut plus curiosity, saya pun melakukan muhibah ke pertemuan Indo-Star Trek di @America. Teman saya, sekaligus pendiri Kalfa (Kaldera Fantasi) pula, si Yusuf yang men-suggest saya untuk ikutan acara Indo-Star Trek. Paling tidak akan menambah spektrum pengetahuan dan mempertanyakan beberapa konsep tentang Star Trek, begitulah kiranya yang ada dalam konsep pikir saya. Perjalanan ke @America sendiri tertunda, dikarenakan si Yusuf masih bergulat dengan pekerjaannya, barulah kami dapat tiba ketika waktu telah menunjukkan jam 8 malam. Jadwal acaranya sendiri dari jam 17-21 di @America Pacific Place pada tanggal 17 Desember 2011.

Buat yang belum pernah ke @America bersiaplah untuk jengkel dengan pengamanan berlapis yang dilakukan disana. Ketika anda masuk ruang @America, anda akan menemui pengamanan ring pertama dengan mesin sensor dimana handphone, tas anda masuk dalam “terowongan mesin pengamanan”. Setelah itu segala macam peralatan elektronik, kunci, dan yang dapat mengundang bunyi sensor anda serahkan di baki, untuk kemudian anda melewati pintu sensor di ring kedua. Pada ring ketiga, anda akan dikonfirmasi aman oleh petugas dengan menggunakan tongkat sensor yang biasanya ada ketika anda memasuki pintu masuk mall di Jakarta. Bedanya kalau ini anda benar-benar dipindai dan terpastikan anda tidak mengancam keamanan.

Hmm..potret pengamanan macam begini sesungguhnya mengkonfirmasi paranoid-hegemoni dari Amerika Serikat. Bagaimana paranoidnya Amerika dengan segala teror dan ancaman. Contoh empiriknya dapat dilihat dengan pengamanan macam di @America Pacific Place, tembok tinggi kedubes Amerika di dekat Monas sana (pengamanan di dalamnya lebih ketat lagi dengan ring pengamanan berlapis-matikan ponsel, menyerahkan semua benda logam, detektor, kelengkapan dokumen, silahkan tambahkan lagi bagi yang pernah ke kedubes AS). Paranoid ala Amerika ini dengan satir dan cerdas pernah dinarasikan dalam film Yes Man (2008) dengan bintang utama Jim Carrey (Film Yes Man masuk rekomendasi dari film yang layak ditonton versi saya).

Kembali ke topik, setelah melewati pengamanan tersebut, acara Indo- Star Trek ternyata telah menunjukkan penghujung acaranya. Acaranya sendiri bertempat di ruang presentasi yang penuh dengan kemutakhiran teknologi. Ada layar touch screen, anda pun bisa meminjam i pad ketika masuk ke ruang presentasi (dengan menitipkan KTP). Jika di pos masuk pengamanan awal tadi seperti mendapatkan fase “stick”, maka berada di ruang dalam presentasi merupakan fase “carrot”.

Ketika saya masuk ke ruang presentasi, saya langsung bertatap muka dengan seorang yang menggunakan topeng sehingga menyerupai bangsa Klingon. Sedangkan di panggung sedang berbicara 2 orang dengan mengenakan pakaian yang setipe dengan awak kapal Enterprise. Komunitas Indo-Star Trek rupanya telah memiliki beberapa kegiatan yang terpublikasi dengan luas. Saya sendiri pernah melihat liputan tentang Indo-Star Trek di sebuah stasiun televisi swasta. Inti liputannya menceritakan tentang komunitas Indo-Star Trek secara umum dan menceritakan tentang nonton bareng yang dilakukan oleh komunitas Indo-Star Trek.

Terpublikasikannya kegiatan Indo-Star Trek melalui corong media semakin terkuatkan ketika saya melihat layar yang ada di ruang presentasi @America yang menampilkan snap shot kegiatan Indo-Star Trek. Komunitas ini pernah diliput oleh Tv One, pernah pula mengadakan semacam unjuk komunitas dengan memperlihatkan atribut Star Trek. Komunitas Indo-Star Trek sendiri di usianya yang ke-8 tahun telah memiliki anggota hingga 800-an yang tersebar di banyak titik daerah. Selain gathering yang sekali-kali diadakan, temu dunia maya melalui akun Facebook rupanya menjadi pilihan pertautan.

Dunia fantasi Indonesia dan media memang perlu kiranya untuk menjalin relasi yang sinergis. Melalui media akan terjadi resonansi konsep, ide, dan pemahaman. Tak dapat dipungkiri peran media amat penting bagi melesat dan tenggelamnya suatu ide. Tak mengherankan media dilabeli sebagai pilar keempat dari demokrasi, selain eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Perkembangan fantasi Indonesia akan lebih massif manakala diresonansikan melalui media, lalu terjadilah diseminasi gagasan. Diseminasi gagasan ini membuat persepsi dan apresiasi terhadap fantasi lebih baik di masa sekarang dan mendatang.

Acara Indo-Star Trek yang saya ikuti tersebut kemudian berlanjut dengan diadakannya sebuah kuis singkat. Pesertanya ialah mereka yang terdata aktif di komunitas Indo-Star Trek via facebook. Salah satu pertanyaan dari kuisnya yang masih saya ingat ialah siapa tokoh dalam serial Star Trek yang selalu memakai topeng? Setelah kuis usai dilaksanakan terdapat penyematan bagi beberapa orang yang telah mencapai level tertentu. Ada level kapten, commodore di komunitas Indo-Star Trek. Level ini sendiri ditentukan berdasarkan umur.

Berbicara tentang umur, ternyata dari yang hadir di acara Indo-Star Trek tersebut kebanyakan mereka yang sudah berumur lumayan tidak muda lagi. Analisa saya sebagai berikut terkait dengan cluster umur yang datang di acara Indo-Star Trek di @America. Serial Star Trek merupakan serial lawas. Sehingga wajar saja penggemarnya ialah mereka yang telah berumur tidak muda lagi. Analisa saya berikutnya ialah ternyata sumbu fantasi dari seseorang dapat terus hidup bahkan ketika usianya sudah tidak muda lagi. Fantasi menurut hemat saya dapat mengalami degradasi peminat sesuai umur. Seperti piramida, pecinta fantasi terbanyak ialah mereka yang masih anak-anak, lalu semakin tua seseorang semakin berkurang dan menyempitlah pecinta fantasi.

Muhibah ke Indo-Star Trek memberikan keyakinan pada saya, bahwa ketika tua menyapa kecintaan fantasi pun dapat terus hidup dan berkobar. Di Indo-Star Trek tersebut, saya menemui orang yang sudah sampai pada tahap bapak-bapak, ibu-ibu, dan bahkan ada yang rasanya sudah layak menjadi kakek. Saya harus mengucapkan apresiasi terhadap mereka yang masih percaya dan mencintai fantasi.

Sesi acara Indo-Star Trek di atas panggung diakhiri dengan foto bersama di atas panggung. Tentu saja bukan dengan seruan smile, tapi dengan simbol tangan Star Trek. Anda tahu kan simbol tangan Star Trek yang khas itu? Merapatkan jempol, telunjuk, jari tengah di satu kutub dan merapatkan jari manis dan kelingking di kutub lainnya. Jarak antar kerapatan dua kutub tersebut membentuk huruf V.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Sosial Budaya

Chaos

Hidup ini tak harus selalu berada pada order (tatanan). Sekali waktu cobalah berada dalam ketidakteraturan. Ketidakteraturan tidak selalu buruk. Dan saya percaya persepsi ketidakteraturan itu buruk merupakan persepsi yang diinjeksikan global dan harus diuji validasinya. Sejarah keteraturan nyaris menyita kehidupan dari setiap manusia. Ketika bersekolah, keteraturan dikedepankan. Jam masuk sekolah, jam keluar sekolah menjadi peraturan yang menjelaskan lautan manusia muda berseragam untuk keluar dari rumahnya. Lalu hukuman pun diberikan kepada mereka yang bergerak di luar keteraturan.

Hukuman bagi ketidakteraturan tersebut bisa disetrap di lapangan, tidak boleh masuk di jam pelajaran pertama, hukuman membersihkan wc, dan sebagainya. Mereka yang tidak datang tepat waktu sesuai keteraturan jam masuk dilabeli sebagai para pesakitan yang layak dihukum. Para pesakitan itu untuk kemudian mendapatkan wejangan tentang disiplin dan segala teori keberhasilan. Teratur diasumsikan dengan sifat disiplin.

Lembar itu terus berlanjut ketika misalnya anda bekerja di kantor. Ada jam kantor dari jam 9-5. Yang datang terlambat, dapat terkena sanksi dengan pemotongan gaji. Yang pulang terlebih dahulu dari jam 5, juga dapat dikenakan hukuman. Dan dunia pun disusun dalam keteraturan. Keteraturan tersebut juga terjadi bahkan dalam mencicipi vakansi. Weekend pun menjadi waktu puncak bagi mereka yang mendamba hiburan. Tak mengherankan sesakan dan jejalan manusia memenuhi pusat-pusat hiburan dimana-mana.

Saya percaya untuk memperoleh keberhasilan diperlukan keteraturan, disiplin, dan fokus. Namun mendewa-dewakan keteraturan, mengagung-agungkan keteraturan merupakan pandangan yang keliru bin salah menurut hemat saya. Allah Swt telah mengkreasi manusia untuk teratur dan disiplin, misalnya dalam shalat lima waktu dan puasa di bulan Ramadhan. Perhatikan benar bagaimana ada durasi waktu dalam setiap shalat, ataupun ketepatan waktu ketika berbuka puasa dan sahur. Allah Swt juga nyatanya memberikan ruang pada ketidakteraturan. Maka muncul larangan untuk berlebihan dalam melakukan aktivitas ibadah. Allah Swt pun mengetahui betul bagaimana manusia dapat jenuh, bosan, dan letih dengan aktivitas yang berulang. Maka dibukalah pintu lebar-lebar untuk melakukan ragam kegiatan yang nilainya ibadah.

Keteraturan nyatanya tidak dapat terus terjadi, karena satu alasan dasar. Karena kita manusia. Karena kita manusia, maka ada emosi dan segala derivasi turunan sifatnya. Kita bukan robot yang dapat diprogram setiap kalinya. Melakukan pekerjaan dari jam A sampai jam B, menghasilkan output sekian; merupakan contoh dari pengejawantahan kerja robot. Kita manusia merasakan sensasi rasa jemu. Kita manusia membutuhkan variasi dalam melakoni hidup. Maka melakukan aktivitas yang keluar dari orbit keteraturan justru bermanfaat bagi fokus dalam mengerjakan hal yang sifatnya teratur. Ketidakteraturan memberi jeda dan jarak dari segala keteraturan. Memberikan perspektif, pendekatan, dan kreativitas bagi pengerjaan segala hal yang sifatnya teratur.

Ketidakteraturan memungkinkan bagi kita untuk lebih kaya dan berwarna. Lihat saja dari ritme hidup teratur yang jika stabil anda laksanakan. Saya percaya 100% anda akan bosan. Berangkat dengan waktu dan jalur yang sama, beraktivitas dengan durasi yang sama, pulang dengan waktu dan jalur yang sama. Layaknya robot yang melakukan kegiatan. Namun dengan ketidakteraturan, anda dapat menemukan sesuatu yang berbeda dan memperkayakan. Cobalah jalan di waktu dan melewati jalan yang berbeda, cobalah rubah pola aktivitas di tempat keseharian, pulanglah dengan variatif.

Keteraturan dapat mengungkung kreativitas. Seolah-olah segalanya seperti partisi, terkotakkan. Keluarlah sekali waktu dari kotak keteraturan. Biarkan chaos mengambil kendali. Suatu waktu saya melihat tayangan televisi bertemakan motivasi. Terdapat satu ide yang terlihat simple, namun ketika dilaksanakan ternyata menemui sejumlah resistensi. Si motivator menyarankan pemirsa untuk melakukan misi 21. Misi 21 ialah melakukan satu aktivitas baru setiap harinya selama 21 hari berurutan. Ingat, anda harus melakukannya selama 21 hari berurutan tanpa terputus dan mesti ada satu kegiatan baru yang terlaksana.

Terlihat mudah misi 21? Saya pernah mencobanya, pernah berhasil dan pernah gagal pula dalam menjalankan misi 21. Melaksanakan sesuatu yang baru secara berurutan ternyata tidak semudah diujarkan. Ketika dilaksanakan ada tarikan ordinary dan logika ritme hidup yang biasa dilakukan. Ketika berhasil melaksanakan misi 21, saya sendiri mengalami kepuasan dan lebih bergairah dalam hidup. Seperti ada tantangan setiap harinya untuk melakukan sesuatu yang baru, sesuatu yang selama ini hanya diendapkan di pikiran. Misi 21 sendiri dapat dirancang ataupun spontan.

Dirancang, misalnya anda ingin melakukan kegiatan, namun belum juga terwujud. Maka anda memasukkan kegiatan tersebut dalam misi 21, dan anda melaksanakan kegiatan tersebut. Adapun yang sifatnya spontan, misalnya ketika pergi ke suatu tempat, kelihatannya menarik untuk mencicipi makanannya. Datang saja dan nikmati, tanpa perlu mengkalkulasi panjang. Satu benang merah yang saya dapati dari misi 21 ialah perlunya chaos dalam kehidupan. Misi 21 merupakan instrumen pemecah keteraturan. Yang tanpa disadari keteraturan dapat menjadi belenggu, tembok.

Hidup ini dapat lebih indah ketika sejumlah ketidakteraturan menjadi bagian dari hidup. Hidup bukan sekedar bilangan tahun yang telah anda jalani. Hidup adalah ketika anda benar-benar hidup ketika menjalani waktu. Dan anda bisa benar-benar hidup ketika memasukkan ornamen chaos dalam ritme kehidupan anda. Chaos adalah baik.