Posted in Sosial Budaya

Kepemilikan

Tiba-tiba sang penguasa lalim itu berseru,”Seluruh darat dan lautan adalah milikku. Seluruh rakyat adalah kawula. Setiap kekayaan harus berada dalam pengamatanku. Setiap kekuasaan harus tunduk kepadaku. Kata-kataku adalah hukum.” Penguasa lalim dan rangkaian kata yang terujar tersebut merupakan fantasi dari kontemplasi saya. Semuanya bermuara pada satu kata:kepemilikan. Serta merta kepemilikan seakan menjadi hak istimewa bagi personal dan sekelompok orang. Tiba-tiba dunia yang luas ini seakan tercipta untuk prosperity segelintir teras manusia. Sisanya adalah mereka yang kalah dan menjadi abdi dari kejayaan mereka.

Kepemilikan adalah paranoid. Maka lihatlah betapa berlapisnya pertahanan dari si kaya. Gembok, tembok tinggi, para penjaga manusia, merupakan mekanisme yang dilakukan untuk melakukan proteksi terhadap kepemilikan. Kepemilikan adalah paranoid bagi penguasa. Maka radar-radar pertahanan diaktifkan di setiap tembok perbatasan. Setiap tembok adalah perpanjangan pengawasan. Oposisi dan suara arus berbeda merupakan upaya untuk merongrong kepemilikan di kacamata penguasa. Maka setiap segi harus diupayakan untuk menjaga kepemilikan tetap berada dalam radius miliknya.

Sang penguasa melakukan hegemoni makna dan wacana. Penguasa tidak sekedar mengancam dengan terali besi dan penghabisan nyawa. Ada kuasa di pikiran. Berpikirlah dalam radar pengawasan penguasa. Mematut-matut di depan cermin, untuk sekedar berpikir saja. Maka kata-kata yang keluar, tulisan yang tertorehkan ialah pengakuan, takzim terhadap kepemilikan penguasa.

Kepemilikan ternyata bukan sekedar konsep yang tidak terjangkau bagi kita. Ia bukan konsep yang berada di sana dan kita di sini. Ia dapat menyatu dalam diri siapapun juga. Maka itu menjadi terminologi penjelas tentang kekayaan yang tak terbagi. Ada keengganan untuk mengalokasikan 2,5 %, ada keengganan untuk lebih dari 2,5 % berbagi. Ini kepemilikan kami, yang direbut dari peluh dan pening di kepala. Seperti layaknya para pemegang cincin utama dalam kisah The Lord of the Rings yang begitu takut dalam dosis tinggi terhadap siapapun yang mengusik cincinnya. Milikku yang berharga, kurang lebih seperti itu.

Kepemilikan itu yang menjelaskan tumpukan kekayaan dimana-mana. Kepemilikan itu yang menjelaskan kerakusan. Lalu dengan semena-mena mengambil titel logika pertumbuhan. Kerakusan (logika pertumbuhan, istilah gincunya) itulah yang membuat cemeti dimana-mana. Lewat kata, lewat tekanan, lewat ancaman. Seperti gunung emas yang telah dimiliki, maka jika ada sekantong emas di sana, maka dengan bengisnya kuasa nafsu berusaha untuk mengangkangi sekantong emas tersebut.

Kepemilikan seperti banyak konsep, merupakan delusi bagi manusia. Ia dapat menyesatkan dan menjatuhkan manusia ke level terendah dari harkatnya. Ketika kepemilikan itu hilang, maka jatuh sakitlah, maka post power syndrome terjadi. Sesungguhnya kepemilikan adalah titipan, amanat. Yang harus ditransformasikan menjadi kebermanfaatan, menjadi daya guna. Apa yang dimiliki kini dapat hilang sewaktu-waktu, maka gunakan dengan amanat dan tanggung jawab. Jangan menjadi si otoriter kepemilikan. Kita adalah pelancong di bumi ini. Yang sekedar singgah, memberi arti di bumi. Untuk kemudian menemui ajal dan menemui pembalasan yang sifatnya abadi.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s