Posted in Sosial Budaya

Lari

Hari ini kembali aku berlari. Seperti deja vu peristiwa. Beberapa orang bertanya padaku tentang sesuatu dan firasat serta pertahanan internal diriku bekerja. Mereka bukan orang baik-baik, mereka berniat jahat. Dan aku pun menjawab tidak tahu, lalu lari kencang-kencang. Meninggalkan mereka dengan suara, “Hei..orang cuma ingin bertanya.” Apakah salah aku berlari? Kenapa aku tidak menghadapi mereka? Meladeni pertanyaan mereka, dan mungkin bertempur satu versus mereka.

Ada bagian dari diriku yang ingin untuk melawan mereka. Menghadapi seberapa banyak pun mereka. Menghajar mereka, seperti layaknya kisah pahlawan fiksi fantasi. Tapi ini hidup. Tapi ini kenyataan. Nyawa dan tubuh ini hanya satu. Secara matematis pun, bisa jadi aku terkalahkan dan terbelurkan. Aneka scene battle yang pernah kusaksikan di film, sedikit teknik beladiri yang pernah kupelajari, belum tentu paralel dengan victory dalam pertarungan di dunia nyata.

Aku selalu suka berlari. Berlari adalah bagian dari diriku. Termasuk lari dari masalah (setiap orang pasti pernah mengalaminya dengan berbagai cara penyelesaian). Berlari seakan menyatukan berbagai energi dalam diriku. Angin yang mengibaskan rambut, otot yang bergerak, visi pandangan yang seketika mencepat. Aku selalu suka berlari, semenjak dulu. Jika kuputar memoriku ke masa lampau, aku pernah menang ketika pengambilan nilai lari maraton mengelilingi pemukiman sekitar sekolah. Sejak dulu hingga kini, lari adalah kata favoritku. Selalu seperti itu.

Lari seperti mengenyahkan segala duka luka. Membuatmu terbang sesaat, melepaskan beban dari benak. Ketika bermain sepakbola, larimu adalah lari bermisi. Ada kalanya hanya jalan-jalan saja, ada kalanya harus berlari sprint untuk bertarung menjadi pencetak gol handal. Ketika berlari maraton, berlari adalah pengaturan stamina dan kesungghan tekad. Maraton adalah pertarungan, bertarung dengan diri sendiri.

Kembali ke paragraf awal, aku hanya ingin mengkonfirmasi bahwa berlari pun tiada salah. Berlari dapat menyelesaikan masalah dan menyelamatkan jiwa. Hartaku aman, jiwaku masih utuh. Aku selamat. Terkadang kau harus membiarkan fantasi pertempuran berada di ranah imajinasi dalam otakmu. Seperti menurutku ketika keadaan rawan kejahatan yang kualami seperti dijelaskan di paragraf awal.

Aku percaya berlari bukan sekedar salah satu dari sekian banyak kata kerja. Berlari adalah jiwa. Sudahkah kau memiliki jiwa yang satu itu?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s