Posted in Edukasi, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Game Perekat Sosial

Game dan bersosial pada kenyataannya merupakan konsep yang dapat paralel. Terdapat anggapan yang berkembang memang bahwa para gamer merupakan orang-orang yang asyik dengan dunianya sendiri. Kedap suara dengan orbit yang berbeda dari dunia game. Menciptakan dunia dalam dunia. Terus terang ide dari artikel ini diturunkan selepas saya sampai ke rumah, sehabis pulang dari kantor. Sehabis pulang dari kantor dengan satu kegiatan yang belakangan selang seling saya ikuti yakni bermain PES 2012. Nyatanya setelah saya kontemplasi sejenak, nyaris seluruh irisan game yang pernah saya mainkan selalu terkait dengan orang lain alias bersosialisasi.

Sepanjang ingatan saya hanya format kompetisi Winning Eleven yang dapat mengkonfirmasi game yang saya mainkan sifatnya personal. Sisanya alias sebagian besar porsi game yang saya mainkan selalu dimainkan bersama. Ketika SD, mulai dari Mario Bross, Contra, Golden Axe, dan sebagainya saya mainkan bersama dengan kelompok bermain saya. Kami biasanya saling berganti-gantian bermain game tersebut. Hmm..masa yang indah dan memorable. Lalu pada SMA, kembali saya bermain dengan kelompok bermain di dunia games. Kali ini game favoritnya ialah Winning Eleven. Kadang kami bermain di rental PS, kadang bermain di rumah teman. One-Two, pemain-pemain ngibrit merupakan bumbu utama dari Winning Eleven ketika itu.

Irisan saya dengan dunia game berlanjut di dunia kuliah. Dan kembali game Winning Eleven menjadi game yang kami pertandingkan. Duel dengan sesama pear group. Beranjak ke lingkar keluarga pun, dunia game yang saya mainkan berkisaran tidak sendirian. Saya, kakak dan keponakan dulu punya turnamen favorit yakni lagi..lagi.. Winning Eleven. Lalu dengan dua keponakan saya biasanya permainannya lebih beragam seperti Bassara Heroes 2, Metal Slug Anthology, Harry Potter, dan sebagainya.

Apa kiranya yang saya dapati dari bermain games dengan orang lain? Kami bisa saling tertawa, merutuk, bersaing, dan sebagainya. Game seperti menjadi jembatan penghubung yang merekatkan saya dengan teman-teman dan keluarga. Game mampu menjalankan fungsi sosialnya. Dan harus saya akui, saya seperti kehilangan selera ketika bermain game hanya sendirian. Hal tersebut sempat terteguhkan ketika keponakan tertua saya harus melanjutkan sekolah di Amerika Serikat sana. Triple kami menjadi patah (saya, kakak dan keponakan). Sebenarnya saya bisa bertanding dengan kakak saya, tetapi karena kami sama-sama ngotot dalam bermain, jadinya Winning Eleven jadi ajang pertikaian emosional kami.

Untuk kemudian kedua keponakan saya selang beberapa tahun kemudian juga menjalani kehidupan tidak satu atap dengan saya. Saya pun langsung mengalami jumping selera untuk bermain games. Biasanya mereka berdua yang selalu bersemangat untuk bermain PS. Dan jadilah kini mesin PS dan serangkaian kasetnya menjadi monumen tentang kebersamaan. Saya pernah mencoba bermain Metal Slug selepas kedua keponakan saya berpindah atap, yakni dengan bermain sendiri. Namun sensasinya jauh berbeda.

Bermain game sejatinya memang memiliki fungsi sosial. Sebut saja misalnya ketika anda stuck dalam sebuah permainan, dengan rangkaian pesatnya dunia maya, memungkinkan anda untuk berinteraksi dengan orang lain demi memperoleh jawabannya. Belum lagi dengan bermunculannya komunitas yang berbasiskan game, maka hal itu akan mengokohkan kecintaan terhadap game sekaligus membuka pintu kesempatan untuk berkenalan dengan orang baru. Dari satu hobi yang sama, anda dapat menemui sahabat-sahabat baru.

Pendapat saya tentang game sebagai perekat sosial ini semakin terteguhkan selepas saya membaca gen:i koran Republika edisi Sabtu, 3 Desember 2011. Google, Pixar, Facebook, merupakan perusahaan yang telah menjalankan konsep kantor yang mengusung work hard play hard. Dalam skala Indonesia, suasana kantor yang friendly dengan dunia game dapat dilihat pada kantor Kaskus. Sehingga di kantor Kaskus anda akan dapat menemukan karyawan yang tengah bermain Nintendo Wii atau X-Box di ruang kaca dan yang lainnya bekerja di ruang luas dengan warna dasar alam (Republika, Sabtu, 3 Desember 2011: hal 14).

Konsep kantor yang ramah terhadap game ini menjadikan lumbung kreativitas tetap menyala dan teraktivasi. Hal ini mengingatkan saya akan konsep dari Tony Buzan dimana untuk optimal belajar, maka anda harus memadukan antara otak kanan dan otak kiri. Pada otak kiri sendiri terdapat konsep logika, matematika, linearitas, bahasa, analisis. Sedangkan pada otak kanan terdapat konsep kreativitas, imajinasi, dimensi, warna (Adam Khoo, I Am Gifted So Are You: Page 27). Dan jika mau jujur, game merupakan medium yang dapat memadukan kerja otak kanan dan otak kiri. Anda akan mendapatkan konsep logika, analisis, misalnya dalam game God of War yang memuat anda berpikir memecahkan teka-teki. Di dunia game juga akan menyajikan kreativitas, imajinasi, serta warna seperti ditunjukkan oleh game Final Fantasy.

Dengan demikian game dapat mengoptimalkan kerja otak secara personal yang nantinya akan berefek pada performa yang lebih baik. Game yang mengikutsertakan kelompok juga akan membangun team building. Team building yang terbangun secara alami, tanpa harus menganggarkan uang lebih besar dengan serangkaian kegiatan di luar kantor. Dengan suasana kantor yang nyaman, anda bisa tertawa, bersaing dalam permainan, merekatkan persahabatan dengan rekan sekantor.

Untuk kemudian yang menarik kiranya ialah studi yang dipublikasikan pada awal 2011 tentang durasi pekerjaan, penelitian ini mengungkapkan bahwa orang yang bekerja empat jam sehari cenderung lebih sukses ketimbang mereka yang bekerja delapan bahkan 12 jam per hari. Buku The 4-Hour Work Week karangan Tim Ferris menjadi salah satu dasar dalam studi ini.

Dalam studi tersebut terungkap, orang yang berlatih violin selama empat jam mampu meraih hasil yang lebih memuaskan daripada orang yang berlatih selama tujuh jam lebih. Untuk meraih hasil latihan optimal ternyata hanya dibutuhkan waktu selama empat jam. Lebih dari durasi tersebut, konsentrasi otak sudah menurun (Republika, Sabtu, 3 Desember 2011, Hal 13).

Menariknya dari hasil studi tersebut, menurut hemat saya dapat mengubah paradigma “romusha” yang kerap terjadi. “Romusha” dalam artian saya ini ialah bekerja dalam durasi panjang terus menerus. Bekerja keras itu baik, namun bekerja cerdas juga penting. Bekerja selayaknya diselingi dengan sejumlah intermezzo, sebut saja dengan bermain game, untuk menyegarkan otak dan membuat performa kembali prima.

Persepsi sumir terhadap game di Indonesia tentunya kita harap dapat perlahan terkikis dan mengalami redefinisi. Game nyatanya dapat menjadi perekat sosial, penyambung dari orang demi orang. Game dapat menjadi pintu masuk, jembatan dari persahabatan. Game pun dapat menyokong kreativitas serta mengembangkan kinerja yang baik dari sebuah perusahaan. Mari work hard play hard.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s