Posted in Fiksi Fantasi, novel, Resensi Buku, sastra

Pengalamanku Membaca The Bartimaeus Trilogy

Di bilangan waktu, saya berada di Kinokuniya Plaza Senayan. Berada di tempat yang benar-benar memanjakan bagi pelahap buku. Suasana yang nyaman, buku-buku yang keren (harganya juga banyak yang lumayan “keren”..hehe..). Di seksi novel, lagi-lagi mata saya tertuju pada buku itu. Covernya sesosok makhluk memegang benda berbentuk lingkaran seperti jam klasik bertali. Sudah beberapa waktu, saya maju mundur untuk membeli buku ini. Membeli buku bagi saya merupakan investasi. Uang pastinya keluar, dan dari sejumlah uang yang tertukarkan tentunya (wajar) jika berharap akan mendapatkan kompensasi yang oke.

Saya baca kembali uraian singkat di belakang bukunya. Kisah kelam yang memikat..kisah paling inventif dalam beberapa tahun terakhir..Saya lihat lagi cover depannya. Saya timbang lagi buku ini adalah serial best seller dari New York Times. Beli ngak..beli ngak.., begitulah pendulum yang ada di mahkamah pertimbangan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku pertama dari The Bartimaeus Trilogy yang berjudul Amulet Samarkand. Saya baca hari itu juga buku Amulet Samarkand. Kali ini saya berpindah tempat dengan memilih Senayan City, di bangku yang tersedia untuk umum.

Saya selalu percaya salah satu parameter apakah karya itu bagus atau tidak dengan membaca awal cerita. Meski parameter membaca awal ini beberapa kali meleset, tapi jika dikonversikan lebih besar probabilitas benarnya. Dan saya pun membaca dengan harapan novel ini keren. Dan wow…saya benar-benar mendapatkan kesegaran dari cerita ini. Benar-benar hook awal yang menohok dan membesarkan ekspektasi terhadap buku ini. Kisah dimulai dengan pemanggilan Jin oleh Nathaniel. Bagaimana deskripsi detil yang diungkap pengarang serta tempo cerita yang segar dan tidak berlama-lama, membuat saya include dalam dunia buku ini. Jadilah saya memutuskan meneruskan membaca, dari niat awal sekedar ingin menjajaki membaca awal, menjadi tahap keranjingan.

Halaman demi halaman tersantap dengan riang dan penuh dengan nuansa petualangan. Saya mencukupkan membaca, untuk kemudian melanjutkan membaca di rumah hari itu. Itulah pengalaman awal saya dengan serial The Bartimaeus Trilogy yang masih terpeta jelas hingga sekarang. Entah sudah berapa kali, saya membaca buku ini dikarenakan saya benar-benar terpikat dan akan merekomendasikan pada para pecinta fiksi fantasi. Kisah Bartimaeus merupakan cerita yang komplet.

Ada beberapa hal yang menarik dari kisah The Bartimaeus Trilogy. Pertama, sudut pandang. Sebelumnya saya pernah membaca karya Orhan Parmuk yakni My Name is Red; lalu belakangan pernah pula membaca Penyihir dari Portobello karya Paolo Coelho, yang memotret cerita dengan menggunakan banyak lensa. Berbeda dengan karya Parmuk dan Coelho, yang menurut hemat saya meski mencoba menggunakan banyak lensa untuk membedah suatu cerita, namun sukar untuk memilah perbedaan antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Tone, warna, dari tokoh yang mestinya beragam, nyatanya dihidangkan dengan karakter dasar dan fundamental yang sama pada kedua kisah dari Coelho dan Parmuk.

Dalam serial The Bartimaeus Trilogy, teramat terasa tone, warna, dari tokoh utama dalam memperlihatkan perspektifnya terhadap suatu peristiwa. Apa perihal yang menyebabkannya? Pilihan kata (diksi), pemikiran dari tokoh. Dari diksi dan pemikiran tersebut, pembaca benar-benar dibawa pada kenikmatan dan dihadapkan pada benturan konsep. Suatu waktu bisa jadi pembaca prefer pada ide dari Nathaniel (penyihir pria), suatu waktu bisa menjadi prefer pada Bartimaeus (jin) yang mengutarakan konsepnya dengan lugas serta berbekal referensi historis, suatu waktu bisa prefer pada Kitty (anggota Resistance dan commoner) yang memiliki keberanian, ketajaman lidah.

Pengombang-ambingan konsep dalam memandang terasa memikat dikarenakan terasa betul akar yang menyebabkan tokoh ini memilih pemikiran ini dan tokoh yang lain memilih pendekatan yang berbeda. Wow..bagi saya ini benar-benar merupakan pendekatan unik untuk menguraikan cerita yang begitu segar, cerdas, dan apik. Sudut pandang yang berbeda menjadikan cerita novel ini kaya dan pembaca akan tidak mengalami monoton pembacaan. Vitalitas, energi, daya gerak dari novel ini terjaga dari awal sampai akhir.

Kedua, Bukan sekedar kisah sihir. Jonathan Stroud (pengarang trilogi ini) mampu untuk menghadirkan dunia sihir yang utuh. Dunia sihir yang ditampilkan bukan sekedar keajaiban-keajaiban yang bergerak di luar orbit normal kita, melainkan diberikan atmosfer rasa kemanusiaan yang kuat. Ada setting yang rigid dan begitu hidup. Dari setting ini bagaimana pembaca dibawa era Inggris kontemporer dengan perspektif yang berbeda dengan saat ini. Pemerintahan di Inggris Raya dipimpin oleh sekelompok penyihir, sedangkan mereka yang tidak memiliki kemampuan sihir (commoner) harus menerima nasibnya sebagai warga negara lapis berikutnya yang rentan dengan praktek eksploitasi, ketidakadilan.

Disadari atau tidak stratifikasi macam begini sebenarnya terjadi di dunia. Okelah tak ada penyihir, commoner ataupun tak terjadi lapis brahmana, ksatria, waisya, sudra, tapi bukankah terdapat distingsi, disparitas yang besar anatara yang kaya dengan miskin? Bukankah ada yang merasa istimewa dan menjadikan kalangan lainnya layak dieksploitasi? Jiwa cerita dari serial Bartimaeus yang koheren dengan kondisi dunia kontemporer inilah yang menjadikan terjadinya koneksi langkah dengan dunia yang kita jalani ini.

Trilogi ini mampu untuk menciptakan “dunianya” dengan berlatar sejarah dunia yang terjadi di dunia kita, serta mengambil semangat perlawanan dari kisah kehidupan dunia kita. Akan anda dapati sejumlah nama, tempat, yang nyata di dunia kita. Kenyataan ini memudahkan pembaca untuk mengikuti cerita. Terus terang terkadang dalam cerita fiksi fantasi, nama orang, tempat, begitu ribet sehingga sukar diucapkan atau diingat memori. Pendekatan yang dilakukan Stroud (pengarang) dengan menggunakan konsep yang telah kita ketahui (seperti Kota London, Praha, Gladstone) menjadikan pembaca tidak dipusingkan dengan urusan nama yang complicated.

Terkait dengan menciptakan “dunia”, Stroud menciptakan “dunia” tersebut dengan landasan basis riset dan dipadukan dengan imajinasinya. Menarik bukan, bagaimana imajinasi tidak liar seliar-liarnya, tapi ada sikap ilmiah dari pengarang yang membuat pembaca tertarik untuk mendalami ilmu sejarah, politik, sosial, dan lainnya dengan membaca kisah trilogi ini. Beberapa sejarah dalam “dunia” Bartimaeus coba untuk direkonstruksi dari pemahaman umum yang telah kita ketahui. Dengan melibatkan para jin dalam sejarah dunia. Perspektif tersebut memantik spirit pencarian ilmu sekaligus menjadikan cerita tetap connect, seolah-olah “dunia” Stroud nyata. Stroud berhasil menyakinkan dengan kuat bahwa “dunia-nya” eksis.

Dari segi cerita, Stroud mampu menghadirkan Inggris yang kelam dengan sifat ketamakan yang kentara pada manusia. Alur cerita berjalan cepat dan tidak terombang-ambingkan dalam sejumlah hal bertele-tele yang tidak perlu. Segenap sudut mampu dibangun oleh Stroud untuk menjadikan cerita ini berbobot, berisi, dan menarik kiranya. Bagaimana cerita mampu memadukan antara flashback dengan alur maju, tanpa kehilangan jiwa ceritanya. Sebuah racikan yang mengagumkan.

Dari segi tokoh, pembaca akan dibawa pada ide dari para tokoh utama. Sukar rasanya untuk tidak terpikat pada Bartimaeus, Nathaniel, Kitty. Bartimaeus yang memiliki karakter suka menghindari masalah, cerdik, memiliki lidah semasam cuka, akan menempel pada ingatan
pembaca. Perkembangan hidup Nathaniel yang teramat terasa dari serial 1-3, akan mendapati nilai-nilai dasar kemanusiaan, serta godaan dunia. Kitty dengan basis sejarah hidupnya yang diceritakan di serial kedua (The Golem’s eye), akan menjadi sosok pemberontak yang humanis.

Saya tidak akan membeberkan ending dari cerita epik ini, tapi cukuplah saya katakan amazing untuk akhiran dari cerita ini. Begitulah laporan dari pengalaman saya membaca Bartimaeus Trilogy. Kisah sihir yang tampil teramat humanis yang meampu untuk melesatkan imajinasi sembari memberikan nilai-nilai kehidupan. Selamat membaca…

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s