Posted in Edukasi, Filsafat, Sosial Budaya

Waktu

Waktu pada esensinya bukan sekedar detik, menit, jam, ataupun hari. Waktu merupakan entitas yang memuat berbagai macam makna. Ia dapat berwujud menjadi memori, kesungguhan kerja dan harapan. Sebagai memori, waktu dapat menjebak manusia pada romansa masa yang telah berlalu. Ia menjadi pemuja masa lalu dan memuja-muji tentang era yang telah terlewat. Memori di lain kubu dapat menjadi inspirasi bagi penggubah cerita yang memintal kisah dari mozaik kenangannya. Memori juga dapat menjadi referensi akan langkah yang akan diambil di kontemporer serta dalam merancang format masa depan.

Sebagai kesungguhan kerja, waktu dapat diisi dengan kesibukan kontemporer. Berjuang di masa kini dengan peluh dan kesungguhan. Tekad untuk merebut masa depan sesungguhnya beranjak dari kesadaran bahwa masa depan direbut hari ini. Sebagai harapan, waktu dapat menjadi babakan untuk pencapaian berbagai mimpi. Hidup tidak selamanya statis. Dengan melihat horizon jauh ke depan, bermimpi tentang masa depan yang lebih baik, maka gairah, spartan perjuangan akan terjadi.

Waktu juga dapat bertutur tentang efisiensi. Ada yang seharian dapat menyelesaikan berbagai macam panel kegiatan dengan baik dan tepat. Ada yang sekedar berkutat saja menyuir-nyuir waktu dan kehidupan tanpa aktivitas yang berarti. Efisiensi itu dapat berupa kesungguhan untuk setelah rampung menyelesaikan suatu pekerjaan, maka beralih ke urusan lainnya. Waktu dan efisiensi dapat menjadi tonggak parameter suatu bangsa. Sebuah bangsa yang angkutan umumnya hobi untuk membunuh waktu dari para warganya. Sebuah bangsa yang menuakan warganya di jalanan berselimut dengan asap knalpot. Sebuah bangsa yang tidak efisien dengan potensi dasar yang dimilikinya.

Waktu yang 24 jam itu dapat memiliki definisi yang berbeda ketika kita berada di tempat yang berbeda dan menekuni pekerjaan yang berlainan. Bagi pekerja kantoran, hari Senin-Jum’at adalah “penjara waktu” sedangkan weekend adalah “kemerdekaan”. Bagi seorang petani, maka musim tanam, musim semai, pergantian hujan-kemarau merupakan sesuatu yang esensial dan krusial. Dan kita semua berharap agar waktu bagi abdi negara merupakan pekerjaan untuk mensumbangsih sesuatu bagi bangsa. Bukan membaca koran menghabiskan waktu, merokok kuat-kuat, kinerja seperti siput. Kita semua menitipkan harap pada abdi negara yang mampu memaknai waktunya dengan tepat.

Waktu dapat menjadi enigma. Sebuah teka-teki yang mungkin hanya perlu dipertanyakan, tanpa kita menemukan jawabannya.

Waktu dapat menjadi mekanisme berulang. Goenawan Mohammad dalam Catatan Pinggir pernah menyinggungnya dengan kesamaan orang di Jepang dalam menjalani hidup. Tinggal di apartemen yang serupa, membasuh muka di waktu yang sama, berangkat kerja pada waktu yang sama. Mekanisme berulang yang dapat mengaratkan kreativitas, menjadikan manusia seperti mesin dengan skema waktu yang itu-itu. Bukan berarti saya menghujat keteraturan. Namun perlu juga dipertanyakan esensi dari keteraturan serta sejauh mana sentuhan manusia dapat memberi makna pada kestabilan menghabiskan waktu tersebut.

Atau memang waktu tidak memerlukan definisinya. Kita hanya perlu skeptisme dan kritis dengan waktu. Kita hanya perlu menjalani dan memberi makna pada detak detik yang terus melaju.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s