Posted in Edukasi, Filsafat, Sosial Budaya

Jalan Bercabang

Waktu dan pilihan. Kali ini aku dihadapkan pada hentakan kesadaran itu. Semuanya berawal dari rapat di kantorku. Dan lagi-lagi aku terinspirasi dari pimpinan di kantorku. Setelah di edisi rapat sebelumnya aku mendapatkan definisi baru berupa waktu mekanik yang lalu kuterjemahkan menjadi periodisasi menulis dan membaca. Meski kuakui belum stabil dan disiplin dalam mengerjakannya. Namun waktu mekanik benar-benar membawaku pada dimensi permaknaan yang berbeda. Waktu mekanik sendiri memiliki definisi sebagai waktu yang rutin. Dimana perputaran waktu seperti mesin di pabrik. Jadi, komparasinya seperti anda memasukkan input, maka outputnya akan terdata. Dalam waktu mekanik, maka ada waktu yang stabil setiap harinya, serta ada hasil yang terlihat. Contoh sederhananya ialah misalnya dalam waktu kantor dari jam 9-5, maka bisa menghasilkan 5 halaman.

Kali ini permaknaan yang kudapatkan dari rapat kantor ialah pilihan hidup. Untuk mencapai sesuatu memang diperlukan fokus, doa, keteguhan tekad. Dan aku akui, segala simpul kata itu belum dapat bersatu dalam diriku. Ketika berada di kantor, belum mampu untuk fokus mengerjakan sekian halaman. Terkadang aku tersesat di lembah dunia maya, terkadang mood menulisku hilang entah kemana, terkadang aku berapologi akan menulis sepulang kerja nanti di saat malam (namun kebanyakan gagal konsep ini). Sedangkan dalam doa, aku akui belum memiliki doa yang sifatnya spesifik seperti dicontohkan oleh pimpinan di kantorku. Beliau mencontohkan doa itu spesifik yakni mendapatkan pemasukan 10 juta setiap bulannya.

Aku akan menambahkan opsi spesifik dalam doaku mulai saat ini. Tentu saja aku ingin menjadi orang kaya. Karena dengan kekayaanku aku dapat lebih bermanfaat dan berdayaguna. Kuasa dan uang pun merupakan satu paket yang lengkap. Sedangkan dalam kesungguhan tekad, meski aku telah membuat item mingguan apa-apa saja yang harus kukerjakan. Namun aku belum mendapatkan kesungguhan tekad untuk mengerjakan segalanya secara kaffah. Kesungguhan tekad menurutku terutama tertuju pada beberapa konklusi utama. Dan konklusi itulah yang harus kusempitkan dan kukejar dengan rating preferensi.

Jalan bercabang, itulah mungkin yang selama ini kualami. Termasuk dalam pekerjaanku. Aku belum betul-betul utuh dalam memilih. Menjadi penulis merupakan salah satu opsi dari impianku. Dan nyatanya pekerjaan formalku kini adalah penulis. Soal bidang tulisan pun koheren dengan kegemaran dan bidang studiku berkisar pada sosial politik. Dalam beberapa segi, ini adalah pekerjaan yang kuimpikan. Meski aku masih mengelus mimpiku yang lain di divisi penulisan, yakni menjadi penulis fiksi fantasi. Menjadi penulis yang total bergerak di bidang sastra. Baik itu puisi, cerpen, novel, essai.

Mungkin divisi penulisan itulah yang masih menjadi jalan bercabang dari waktuku. Ketika aku dihadapkan pada pilihan waktu, aku masih bimbang antara mengusaikan pekerjaan kantor atau menyelesaikan essai, puisi, atau novel. Dan satu hal yang kuyakini bahwa aku mampu dan kompeten untuk menyelesaikan segala macam jenis tulisan tersebut. Aku hanya harus percaya bahwa aku mampu untuk meringkus segala divisi tulisan itu, meski tidak harus kesemuanya kulakukan dalam satu hari sekaligus.

Mimpi menjadi penulis di divisi sastra masih mengetuk-ngetuk waktuku dan seperti menjadi obsesi yang terus hidup. Permasalahannya terkadang bertemu di satu titik, antara menulis sastra dan menulis pekerjaan. Kali ini rapat di kantorku membawa pada satu kesadaran untuk lebih bergiat lagi dalam menulis pekerjaan. Ada beberapa panel pekerjaan yang menungguku dan kuakui rasanya seperti tak ada habisnya setiap kali. Dan mungkin karena sifatku yang kerap bermanja-manja dengan waktu, jadilah tercecer sekian lama dan menumpuk lapisan kertas pekerjaan yang harus kuselesaikan.

Dan rapat kantor hari ini kembali menjadi pengingatku bahwasanya tumpukan kertas yang dapat kuselesaikan merupakan pendapatan bagiku. Dan dapat menjadikanku lebih berdaya secara finansial. Selama ini hitungan per halaman seperti menjadi angka di atas kertas. Yang ternyata ketika dibedah angka di atas kertas itu, maka aku akan sangat kohesif bagi pemasukan kantungku. Jalan bercabang itu teramat mungkin masih kuhadapi dalam waktu-waktuku ke depan. Hanya saja sekarang bedanya, selepas dari rapat kantor hari ini, aku lebih tersadar untuk fokus, prioritas pada penulisanku. Janji? Ya aku berjanji dan akan mentargetkan setiap harinya tulisan pekerjaan.

Semuanya bisa karena biasa. Semuanya bisa karena dipaksakan. Semuanya bisa karena telah menjadi kumpulan titik-titik kebiasaan. Untuk kemudian menjadi new habbit. Menjadi ritme baru. Percaya? Mungkin pada awalnya akan ada resistensi, perlawanan, namun akhirnya akan menemukan feelnya. Lalu segenap internal diri akan memiliki arloji tersendiri untuk melakukan kegiatan positif tersebut. Seperti apa yang saya lakukan dalam ritme yang saya istilahkan dengan koran personal. Koran personal tersebut merupakan tulisan baru yang saya publikasikan setiap harinya dari Senin-Jum’at. Mula-mula muncul resistensi, lalu setelah beradaptasi sekarang alarm internal saya telah bekerja untuk mengerjakan koran personal di hari kerja tersebut.

Begitupun di jalan bercabang ini, saya akan berfokus, berdoa, membulatkan tekad. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk keberhasilan. Dan saya harap saya menemukan keteguhan hati.

Author:

Suka menulis dan membaca

4 thoughts on “Jalan Bercabang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s