Posted in Essai, Fiksi Fantasi

Purbasangka

Apa yang bisa dilakukan oleh pikiran? Pikiran ternyata dapat membentuk konsep fatamorgana. Pikiran dapat membuat kita pada konklusi bertitel delusi. Pikiran dapat menyisihkan kenyataan dan fakta yang sebenarnya. Pikiran dapat membawa kita pada sangka. Ada purbasangka, ada baik sangka. Berikut ini akan saya kutipkan sebuah essai dari Goenawan Mohammad yang berjudul Ming. “Ming, maharaja planet Mongo, merupakan tipe sempurna seorang tiran yang sering kita dengar dalam sejarah bumi. Ia memerintah mutlak, sewenang-wenang, dan licik. Rakyat diinjak dan dibungkam. Agaknya, imajinasi, dalam hal ini, tak berangkat dari ruang hampa.”

Pada bagian selanjutnya Goenawan Mohammad melanjutkan essainya sebagai berikut: “Flash Gordon diciptakan Raymon dan muncul pada tahun 1934. Di tahun 1980, seorang komentator dari Prancis- tempat cerita komik pun dibahas secara serius- mengulas soal “organisasi politik dan masyarakat Mongo”. Setelah menguraikan kehidupan di bawah tirani planet itu, sang komentator Edouard Francois, menyimpulkan: “…pasti bukan tanpa alasan Alex Raymon menamakan planet itu Mongo, penguasa tertingginya Ming, dan melukiskan penghuninya sedikit berwarna kuning dan wajahnya bercorak Asia.” Sebab, Mongo adalah “sebuah tirani oriental”, dan Ming – dengan kebuasan dan kecurangannya – telah menunjukkan adat “keraton Mongol” (Goenawan Mohammad, Catatan Pinggir: Hal 134)

Pada kenyataannya purbasangka macam begini bukanlah sebuah anomali. Purbasangka tipe ini diproduksi secara massal ketika para pahlawan Amerika menghajar para musuhnya. Contohnya Rambo yang memberondong dengan “patriotik” bangsa Vietnam ataupun sejumlah film yang menempatkan tokoh Amerika sebagai protagonis dengan tokoh antagonis berasal dari Uni Soviet ataupun dunia Arab. Purbasangka tersebut tidak berhenti pada bangsa Amerika dan barat sana, melainkan juga terdapat misalnya pada kisah kepahlawanan China dengan kutub penjahat ada pada bangsa Jepang dan Inggris.

Sebuah cerita memang selalu menyuguhkan konsep konflik. Ada pertentangan antar si baik dan si jahat. Ada clash antara pahlawan dan penjahat. Dalam cerita, dunia terkadang begitu hitam dan putih, begitu jelas pengkutubannya. Yang kemudian menjadi bibit turunan dari konflik antar sang protagonis dan sang antagonis yakni membawa konsep tentang purbasangka. Purbasangka ialah melihat suatu entitas dengan label yang buruk, busuk dan jelek. Purbasangka tersebut untuk kemudian tidak hanya berhenti pada domain film, novel, ataupun segala fantasi lainnya. Kenyataannya pemikiran dalam bentuk film, novel, ataupun segala fantasi lainnya merupakan fungsi turunan dari ide besar bernama purbasangka.

Purbasangka nyatanya dapat muncul dalam bentul literatur yang sifatnya ilmiah. Hal tersebut misalnya terkonfirmasi dalam buku Sumatera Tempo Doeloe yang disusun oleh Anthony Reid. Buku tersebut disusun dari kesaksian sejumlah penjelajah dan ilmuwan asing seperti Marco Polo, John Davis, Friedrich Schnitger. Nyatanya ketika membaca berbagai kesaksian dalam buku ini, tak jarang ditemukan gambaran penuh syakwasangka terhadap penduduk Sumatera. Itu lumrah saja, mengingat kebanyakan penulis yang merupakan penjelajah asing tidak memahami adat setempat. Namun, ada pula sejumlah tulisan yang bersimpati kepada penduduk lokal (Anthony Reid, Sumatera Tempo Doeloe: Hal XIV).

Akar dari purbasangka memang bisa beragam. Akar purbasangka bisa berasal dari arogansi dari orang yang berada di peradaban lebih maju, pengetahuan yang belum lengkap mengenai suatu entitas, perbedaan kultur, dan sebagainya. Celakanya purbasangka dapat menjadi stereotype. Ketika bertemu dengan suatu entitas, maka beban pikiran, pelabelan, segala definisi buruk tersemat. Padahal ketika berjumpa dengan manusia sesungguhnya kita bertemu dengan kerelatifan. Ada rupa-rupa sifat, karakter, tak peduli berakar darimana orang tersebut.

Bagaimana kiranya mengikis purbasangka? Penilaian awal dari suatu entitas menurut hemat saya tak akan bisa diseragamkan sampai kapanpun. Disparitas informasi, disparitas pengetahuan, akan tetap terjadi. Dan segala disparitas tersebut akan bermuara pada syakwasangka. Sebagai seorang muslim saya percaya bahwasanya perbedaan itu ada dan nyata. Al Hujuraat ayat 13 menyatakan:”…kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Allah Swt menciptakan keragaman dalam kehidupan ini. Bahasa, kulit, postur, budaya, merupakan variabel yang dapat menjelaskan perbedaan. Namun segala perbedaan tersebut hendaknya tidak menjadi purbasangka berlebihan. Memandang suatu entitas sebagai komunitas busuk dan bermasalah misalnya (biasanya hal ini dialami oleh mereka yang lebih maju secara peradaban). Ataupun di sisi yang berbeda, memandang suatu entitas sebagai komunitas yang selalu lebih unggul, layak diagung-agungkan, dan di-copy paste segalanya (biasanya hal ini dialami oleh mereka yang mengidap inferior dan berada sebagai bagian dari komunitas yang kurang maju).

Segala purbasangka tersebut menurut hemat saya dapat dikikis ketika terjadi perkenalan, berpositif thinking serta saling memahami. Kemajuan teknologi serta literasi sudah selayaknya dapat menjadi jembatan untuk meruntuhkan kartu-kartu purbasangka. Dan saya percaya karya fiksi fantasi pun dapat menjadi jembatan, media untuk menjadi pelebur segala purbasangka. Seperti ditunjukkan oleh komik Satu Atap karangan Azisa Noor. Berikut saya kutipkan sedikit isi komiknya:”…Segala rasa ganjil dan takut dan nggak nyaman itu bisa ada karena kita nggak tahu. Orang itu beda-beda…Dunia ini macem-macem isinya…Dan itu semua bukan alasan buat jadi terasing…Kadang kita hanya perlu mencoba kenalan…” (Azisa Noor, Satu Atap- Buku Dua).

Menutup artikel ini, saya percaya perbedaan itu ada. Perbedaan itu justru memperkaya dan memberikan dinamika. Alangkah membosankannya hidup jika semuanya sama, semuanya serupa. Perbedaan itu hadir bagi kita untuk saling berbagi dan memahami. Karena sesungguhnya di balik segala perbedaan itu, kita percaya pada nilai-nilai kebajikan yang sifatnya universal. Kita begitu berbeda, tapi kita begitu sama. Selamat saling mengenal, wahai penduduk bumi.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s