Posted in Essai

Desember

Baru-baru ini pemberitaan tentang planet Kepler 22-b menyeruak. Planet Kepler 22-b sendiri merupakan sebuah planet yang berada di luar Galaksi Milky Way (Bima Sakti) dan diperkirakan dapat menjadi tempat tinggal bagi manusia. Satu hal yang menarik ialah dalam perputaran waktu di planet Kepler hanya membutuhkan waktu 290 hari dalam satu tahun. Dengan demikian, maka perhitungan waktu di Planet Kepler 22-b akan berbeda dengan yang ada di bumi.

Waktu memang merupakan misteri. Setiap orang memiliki jatah 24 jam setiap harinya, namun ada yang dengan 24 jam tersebut mampu mendayagunakannya dengan begitu optimal dan melakukan hal-hal yang bermanfaat, di sisi lain ada yang mencecerkan 24 jam dalam lembah kesia-siaan. Setiap bulan Desember juga menjadi momentum yang bersifat kolektif untuk mengukur tentang manfaat dan kesia-siaan dalam pemanfaatan waktu. Pasalnya tentu saja sederhana, Desember ialah bulan terakhir dalam satu tahun yang dijalani. Desember dengan demikian menjadi jembatan masa lalu, kekinian langkah, dan harapan di masa mendatang.

Setiap Desember maka terjadi permenungan sekilas tentang Januari-November. Setiap Desember, maka ada estimasi pada bulan-bulan di tahun mendatang. Dan ini tidak hanya berlaku pada skala individu. APBN dari Indonesia, roda waktu perusahaan juga berkontemplasi di bulan Desember ini. Ada perhitungan, evaluasi, targetan ke depannya yang semuanya berkumpul di satu konklusi bulan bernama Desember.

Desember juga nama bagi persiapan kerayaan besar untuk menyambut tahun yang akan datang. Traffic wisata akan meningkat di akhir tahun. Menguras kantong yang selama ini isinya dikumpulkan dengan susah payah plus peluh. Maka sesungguhnya Desember adalah bulan yang penuh dengan rupa-rupa perwajahan. Ia bukan bulan yang eksebisionis dengan satu wajah. Desember dapat mentas dengan berbagai definisi di suatu entitas, di suatu skala individual.

Mengecek peta perjalanan hidup menurut hemat saya tidak harus pada bulan Desember. Setiap kalinya kita dapat menyediakan cermin kontemplasi kehidupan. Setiap kalinya kita dapat mengukur dan menghitung apa yang ada dan telah berlalu. Menjadikan Desember sebagai komponen waktu evaluasi bisa jadi memerosokkan kita pada gincu kontemplasi. Kita tidak sungguh-sungguh mengevaluasi. Kita hanya berada dalam ritme semesta yang melakukan kontemplasi sejenak, lalu menyalakkan terompet keras-keras di awal tahun baru. Entah kemana denyut kontemplasi tersebut.

Mempartisi Desember sebagai evaluasi setahun kemarin bisa jadi justru mengkerdilkan konsep evaluasi. Bayangkan betapa menggunung dan menumpuknya peta kontemplasi jika hanya ditengok sekali setahun pada bulan Desember. Lalu kita hanya merenungi, sesal muncul, dan untuk kemudian evaluasi tersebut segera senyap dari ruang-ruang jiwa kita seiring euphoria menyambut babakan lembar waktu kalender terbaru.

Desember tidak hanya layak dilabeli sebagai akhir tahun. Kita dapat memaknainya dengan tidak terikat pada konsep umum tersebut. Desember bisa jadi bukanlah tumpukan dari akumulasi permenungan dan sesal, manakala setiap pergantian malam dan siang kita rutin melakukan permaknaan hidup. Mengukur apa-apa yang telah dilakukan, kesalahan yang telah tercetus, kebaikan apa yang mestinya terjadi. Desember bisa jadi sama menjebaknya seperti bilangan waktu istimewa lainnya. Sebuah jebakan yang menjadi koor semesta dan mendunia. Lalu bagaimana anda melihat Desember saat ini?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s