Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Aku ?

Ruang-ruang ini kini sepi. Kehilangan warna pelanginya yang ceria. Sekarang hanya ada tiga warna yang menjadi warna jiwa. Hitam, Putih, dan paduan dari hitam-putih. Ada yang salah, ataukah memang seperti ini dunia sebenarnya. Di depan laptop, diantara tumpukan pekerjaan yang menanti penyelesaian. Diantara waktu-waktu yang berkejaran, pernahkah tanya itu bersenyawa dalam pikiran: Dimanakah Fiksi Fantasi?

Konon hujan, dapat membangkitkan nuansa positif. Namun, tidak hujan pada titik waktu ini. Hujan tak lebih dari sekedar limpahan yang akan mengundang kebecekan, serta kemacetan di Jakarta. Jakarta, tempatku bergulat dengan seonggok senyum palsu dan kemunafikan. Sejak kapankah persepsi terhadap hujan, menjadi begitu satir? Sejak sentuhan jiwa fiksi fantasi hilang dari hikayat orbit diri?

Interupsi di benakku tiba-tiba memutar pada mozaik waktu masa kecil dahulu. Masa kecil ialah masa permainan. Berlarilah secepat mampu kau berlari. Tenggelam dalam dunia games yang serialnya tidak kunjung usai. Sekilas ada tawa yang terbit, ketika mengingat masa fase awal hidup tersebut. Segalanya begitu ringan, penuh pelangi, ada tawa yang begitu lepas, ada letupan pertanyaan dan cita-cita yang menanti setiap kalinya. Lalu, konon katanya kita semakin dewasa, semakin tua, semakin matang.

Tawa lepas berkurang, mainan disimpan dalam almari sejarah. Berbeda kini dunianya. Ini evolusi hidup. Lalu, lemparan topi toga dilemparkan dan selamat bertarung mencari kerja di negeri yang berlimpahan para sarjana pengangguran. Setelah melewati serangkaian pencarian kerja, interview, psikotest, lapis demi lapis seleksi, terterimalah kerja. Lalu, hidup berjalan dalam equilibrium yang berbeda.

“Kamu kini berbeda,” tuturku suatu waktu di depan cermin. “Kamu telah membawaku ke negeri amnesia kini. Kamu menggali kubur, dengan tanganmu sendiri. Kamu bahkan tidak mengucapkan kata-kata penguat jiwa di saat-saat pembaringan ini.”

Aku bertanya padaku. “Siapa kamu?” tanyaku di depan cermin.

Dengan senyum mengejek Aku yang terefleksi di cermin berkata, “Aku adalah Fiksi Fantasimu. Aku adalah duniamu. Tidakkah kau kenali Aku?”

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s