Posted in Fiksi Fantasi, Film

Fiksi Fantasi Yang Susut Di Bioskop Indonesia

Ucapkan wassalam, sayonara pada sejumlah film bergenre fiksi fantasi dari layar bioskop Indonesia. Kisruh soal pajak, bermuara pada tidak lalu lalangnya film-film menyegarkan dari ranah fiksi fantasi. Tak ada humor Poo yang menggelitik, awal mula pertikaian professor Xavier dengan Magnetto, Thor dengan palunya, aksi Jack Sparrow nan tengil, yang akan singgah di sinema bioskop Indonesia. Membeli bajakan atau menunggu vcd/dvd asli turun merupakan upaya untuk menambal lubang hasrat menonton film-film tersebut. Bahkan, untuk kalangan yang lumayan berduit, pergi ke negeri tetangga menjadi pilihan guna menyaksikan baik film Kungfu Panda 2, Jack Sparrow 4 yang didukung oleh Penelope Cruz kini.

Yang muncul di bioskop Indonesia ialah film-film fiksi fantasi dalam negeri yang berkutat pada kuntilanak, pocong, dan rekan-rekannya. Penonton Indonesia dihadapkan pada fiksi fantasi yang…(silahkan anda isi titik-titik tersebut). Cintailah produk-produk dalam negeri, tapi haruskah kita mencintai film-film horor seks yang mendapatkan teritori di layar bioskop Indonesia? Pocong, hantu, dan aneka varian makhluk dari dunia lain, kini menjejali bioskop Indonesia. Bukan itu saja, bumbu sensualitas juga menjadi racikan dalam hidangan film-film dalam negeri tersebut.

Lupakan soal, makhluk unik seperti Elf, Gollum, monster-monster gahar dalam serial Lord of The Ring, karena makhluk-makhluk yang hadir dalam film-film Indonesia tidak seideologis, tidak memiliki kedalaman karakter. Makhluk-makhluk dalam film horor Indonesia tak lebih dari mistikisasi, pembodohanisasi, dari payung besar selera pasar yang menjijikan. Berlindunglah di balik kata selera pasar, ini masalah uang dan industri film. Masalah film di Indonesia memang merupakan problem yang kompleks. Pernahkah di benak para pembuat film Indonesia terpikir akan jadi apa negeri ini apabila “makanan dan minuman ideologi” dalam bentuk film yang diberikan ialah berkisar horor berpadu sensualitas??

Mengharapkan hadirnya film fiksi fantasi buatan Indonesia mungkin merupakan sebuah mimpi dan harapan. Suatu saat yang hadir di negeri ini ialah buah kreativitas dari anak negeri. Ada imajinasi, kearfian lokal, yang berpadu dalam kisah fiksi fantasi anak negeri tersebut. Tentu dibutuhkan dorongan, kerja, dan pastinya mimpi-harapan untuk mewujudkan itu semua terjadi. Fiksi-fantasi yang susut di bioskop Indonesia jika meminjam hukum Newton III ialah sebuah aksi, lalu apakah reaksi yang akan terjadi? Menggerutu, menyumpahi pemerintah, membuat cerita fiksi-fantasi, membuat film bergenre fiksi fantasi, atau banyak varian lainnya. Semuanya berpulang pada diri.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s