Posted in Essai, Sosial Budaya

Chaos

Hidup ini tak harus selalu berada pada order (tatanan). Sekali waktu cobalah berada dalam ketidakteraturan. Ketidakteraturan tidak selalu buruk. Dan saya percaya persepsi ketidakteraturan itu buruk merupakan persepsi yang diinjeksikan global dan harus diuji validasinya. Sejarah keteraturan nyaris menyita kehidupan dari setiap manusia. Ketika bersekolah, keteraturan dikedepankan. Jam masuk sekolah, jam keluar sekolah menjadi peraturan yang menjelaskan lautan manusia muda berseragam untuk keluar dari rumahnya. Lalu hukuman pun diberikan kepada mereka yang bergerak di luar keteraturan.

Hukuman bagi ketidakteraturan tersebut bisa disetrap di lapangan, tidak boleh masuk di jam pelajaran pertama, hukuman membersihkan wc, dan sebagainya. Mereka yang tidak datang tepat waktu sesuai keteraturan jam masuk dilabeli sebagai para pesakitan yang layak dihukum. Para pesakitan itu untuk kemudian mendapatkan wejangan tentang disiplin dan segala teori keberhasilan. Teratur diasumsikan dengan sifat disiplin.

Lembar itu terus berlanjut ketika misalnya anda bekerja di kantor. Ada jam kantor dari jam 9-5. Yang datang terlambat, dapat terkena sanksi dengan pemotongan gaji. Yang pulang terlebih dahulu dari jam 5, juga dapat dikenakan hukuman. Dan dunia pun disusun dalam keteraturan. Keteraturan tersebut juga terjadi bahkan dalam mencicipi vakansi. Weekend pun menjadi waktu puncak bagi mereka yang mendamba hiburan. Tak mengherankan sesakan dan jejalan manusia memenuhi pusat-pusat hiburan dimana-mana.

Saya percaya untuk memperoleh keberhasilan diperlukan keteraturan, disiplin, dan fokus. Namun mendewa-dewakan keteraturan, mengagung-agungkan keteraturan merupakan pandangan yang keliru bin salah menurut hemat saya. Allah Swt telah mengkreasi manusia untuk teratur dan disiplin, misalnya dalam shalat lima waktu dan puasa di bulan Ramadhan. Perhatikan benar bagaimana ada durasi waktu dalam setiap shalat, ataupun ketepatan waktu ketika berbuka puasa dan sahur. Allah Swt juga nyatanya memberikan ruang pada ketidakteraturan. Maka muncul larangan untuk berlebihan dalam melakukan aktivitas ibadah. Allah Swt pun mengetahui betul bagaimana manusia dapat jenuh, bosan, dan letih dengan aktivitas yang berulang. Maka dibukalah pintu lebar-lebar untuk melakukan ragam kegiatan yang nilainya ibadah.

Keteraturan nyatanya tidak dapat terus terjadi, karena satu alasan dasar. Karena kita manusia. Karena kita manusia, maka ada emosi dan segala derivasi turunan sifatnya. Kita bukan robot yang dapat diprogram setiap kalinya. Melakukan pekerjaan dari jam A sampai jam B, menghasilkan output sekian; merupakan contoh dari pengejawantahan kerja robot. Kita manusia merasakan sensasi rasa jemu. Kita manusia membutuhkan variasi dalam melakoni hidup. Maka melakukan aktivitas yang keluar dari orbit keteraturan justru bermanfaat bagi fokus dalam mengerjakan hal yang sifatnya teratur. Ketidakteraturan memberi jeda dan jarak dari segala keteraturan. Memberikan perspektif, pendekatan, dan kreativitas bagi pengerjaan segala hal yang sifatnya teratur.

Ketidakteraturan memungkinkan bagi kita untuk lebih kaya dan berwarna. Lihat saja dari ritme hidup teratur yang jika stabil anda laksanakan. Saya percaya 100% anda akan bosan. Berangkat dengan waktu dan jalur yang sama, beraktivitas dengan durasi yang sama, pulang dengan waktu dan jalur yang sama. Layaknya robot yang melakukan kegiatan. Namun dengan ketidakteraturan, anda dapat menemukan sesuatu yang berbeda dan memperkayakan. Cobalah jalan di waktu dan melewati jalan yang berbeda, cobalah rubah pola aktivitas di tempat keseharian, pulanglah dengan variatif.

Keteraturan dapat mengungkung kreativitas. Seolah-olah segalanya seperti partisi, terkotakkan. Keluarlah sekali waktu dari kotak keteraturan. Biarkan chaos mengambil kendali. Suatu waktu saya melihat tayangan televisi bertemakan motivasi. Terdapat satu ide yang terlihat simple, namun ketika dilaksanakan ternyata menemui sejumlah resistensi. Si motivator menyarankan pemirsa untuk melakukan misi 21. Misi 21 ialah melakukan satu aktivitas baru setiap harinya selama 21 hari berurutan. Ingat, anda harus melakukannya selama 21 hari berurutan tanpa terputus dan mesti ada satu kegiatan baru yang terlaksana.

Terlihat mudah misi 21? Saya pernah mencobanya, pernah berhasil dan pernah gagal pula dalam menjalankan misi 21. Melaksanakan sesuatu yang baru secara berurutan ternyata tidak semudah diujarkan. Ketika dilaksanakan ada tarikan ordinary dan logika ritme hidup yang biasa dilakukan. Ketika berhasil melaksanakan misi 21, saya sendiri mengalami kepuasan dan lebih bergairah dalam hidup. Seperti ada tantangan setiap harinya untuk melakukan sesuatu yang baru, sesuatu yang selama ini hanya diendapkan di pikiran. Misi 21 sendiri dapat dirancang ataupun spontan.

Dirancang, misalnya anda ingin melakukan kegiatan, namun belum juga terwujud. Maka anda memasukkan kegiatan tersebut dalam misi 21, dan anda melaksanakan kegiatan tersebut. Adapun yang sifatnya spontan, misalnya ketika pergi ke suatu tempat, kelihatannya menarik untuk mencicipi makanannya. Datang saja dan nikmati, tanpa perlu mengkalkulasi panjang. Satu benang merah yang saya dapati dari misi 21 ialah perlunya chaos dalam kehidupan. Misi 21 merupakan instrumen pemecah keteraturan. Yang tanpa disadari keteraturan dapat menjadi belenggu, tembok.

Hidup ini dapat lebih indah ketika sejumlah ketidakteraturan menjadi bagian dari hidup. Hidup bukan sekedar bilangan tahun yang telah anda jalani. Hidup adalah ketika anda benar-benar hidup ketika menjalani waktu. Dan anda bisa benar-benar hidup ketika memasukkan ornamen chaos dalam ritme kehidupan anda. Chaos adalah baik.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s