Posted in Fiksi Fantasi, Jalan-Jalan

Muhibah ke Indo-Star Trek (1)

Mungkin kita hanya perlu menghadirkan tanya, tanpa perlu menemukan jawab. Saya selalu percaya alasan dari kemajuan, inovasi, dan kreativitas memiliki akar referensi yakni pertanyaan. Dengan pertanyaan itulah kita hidup, maju dan memaknai. Bahkan kita bisa tahu tingkat kecerdasan dari seorang manusia dari pertanyaan yang diajukannya. Essai yang saya buat kali ini merupakan sebuah catatan perjalanan dari muhibah ke acara yang diadakan Indo-Star Trek. Indo-Star Trek sendiri merupakan sebuah komunitas pecinta Star Trek dan memiliki tag line yakni “To Boldly Go Where No Indonesian has Gone Before.”

Apa yang saya tahu tentang Star Trek? Terus terang lebih banyak celah inabsentia pengetahuan saya tentang tema Star Trek. Ketika mendengar Star Trek, maka percabangan ide saya akan menemukan pada pesawat, perjalanan, kapal canggih, Data, Klingon, kapten kapal, film bioskop Star Trek. Basis perkenalan saya dengan Star Trek praktis ketika dulu serial Star Trek sempat mentas di RCTI. Adapun ingatan paling kontemporer tentang Star Trek, terkonfirmasi dalam film Star Trek (2009) yang menurut saya menjadi sinema yang layak direkomendasikan untuk ditonton.

Berbekal basis pengetahuan tersebut plus curiosity, saya pun melakukan muhibah ke pertemuan Indo-Star Trek di @America. Teman saya, sekaligus pendiri Kalfa (Kaldera Fantasi) pula, si Yusuf yang men-suggest saya untuk ikutan acara Indo-Star Trek. Paling tidak akan menambah spektrum pengetahuan dan mempertanyakan beberapa konsep tentang Star Trek, begitulah kiranya yang ada dalam konsep pikir saya. Perjalanan ke @America sendiri tertunda, dikarenakan si Yusuf masih bergulat dengan pekerjaannya, barulah kami dapat tiba ketika waktu telah menunjukkan jam 8 malam. Jadwal acaranya sendiri dari jam 17-21 di @America Pacific Place pada tanggal 17 Desember 2011.

Buat yang belum pernah ke @America bersiaplah untuk jengkel dengan pengamanan berlapis yang dilakukan disana. Ketika anda masuk ruang @America, anda akan menemui pengamanan ring pertama dengan mesin sensor dimana handphone, tas anda masuk dalam “terowongan mesin pengamanan”. Setelah itu segala macam peralatan elektronik, kunci, dan yang dapat mengundang bunyi sensor anda serahkan di baki, untuk kemudian anda melewati pintu sensor di ring kedua. Pada ring ketiga, anda akan dikonfirmasi aman oleh petugas dengan menggunakan tongkat sensor yang biasanya ada ketika anda memasuki pintu masuk mall di Jakarta. Bedanya kalau ini anda benar-benar dipindai dan terpastikan anda tidak mengancam keamanan.

Hmm..potret pengamanan macam begini sesungguhnya mengkonfirmasi paranoid-hegemoni dari Amerika Serikat. Bagaimana paranoidnya Amerika dengan segala teror dan ancaman. Contoh empiriknya dapat dilihat dengan pengamanan macam di @America Pacific Place, tembok tinggi kedubes Amerika di dekat Monas sana (pengamanan di dalamnya lebih ketat lagi dengan ring pengamanan berlapis-matikan ponsel, menyerahkan semua benda logam, detektor, kelengkapan dokumen, silahkan tambahkan lagi bagi yang pernah ke kedubes AS). Paranoid ala Amerika ini dengan satir dan cerdas pernah dinarasikan dalam film Yes Man (2008) dengan bintang utama Jim Carrey (Film Yes Man masuk rekomendasi dari film yang layak ditonton versi saya).

Kembali ke topik, setelah melewati pengamanan tersebut, acara Indo- Star Trek ternyata telah menunjukkan penghujung acaranya. Acaranya sendiri bertempat di ruang presentasi yang penuh dengan kemutakhiran teknologi. Ada layar touch screen, anda pun bisa meminjam i pad ketika masuk ke ruang presentasi (dengan menitipkan KTP). Jika di pos masuk pengamanan awal tadi seperti mendapatkan fase “stick”, maka berada di ruang dalam presentasi merupakan fase “carrot”.

Ketika saya masuk ke ruang presentasi, saya langsung bertatap muka dengan seorang yang menggunakan topeng sehingga menyerupai bangsa Klingon. Sedangkan di panggung sedang berbicara 2 orang dengan mengenakan pakaian yang setipe dengan awak kapal Enterprise. Komunitas Indo-Star Trek rupanya telah memiliki beberapa kegiatan yang terpublikasi dengan luas. Saya sendiri pernah melihat liputan tentang Indo-Star Trek di sebuah stasiun televisi swasta. Inti liputannya menceritakan tentang komunitas Indo-Star Trek secara umum dan menceritakan tentang nonton bareng yang dilakukan oleh komunitas Indo-Star Trek.

Terpublikasikannya kegiatan Indo-Star Trek melalui corong media semakin terkuatkan ketika saya melihat layar yang ada di ruang presentasi @America yang menampilkan snap shot kegiatan Indo-Star Trek. Komunitas ini pernah diliput oleh Tv One, pernah pula mengadakan semacam unjuk komunitas dengan memperlihatkan atribut Star Trek. Komunitas Indo-Star Trek sendiri di usianya yang ke-8 tahun telah memiliki anggota hingga 800-an yang tersebar di banyak titik daerah. Selain gathering yang sekali-kali diadakan, temu dunia maya melalui akun Facebook rupanya menjadi pilihan pertautan.

Dunia fantasi Indonesia dan media memang perlu kiranya untuk menjalin relasi yang sinergis. Melalui media akan terjadi resonansi konsep, ide, dan pemahaman. Tak dapat dipungkiri peran media amat penting bagi melesat dan tenggelamnya suatu ide. Tak mengherankan media dilabeli sebagai pilar keempat dari demokrasi, selain eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Perkembangan fantasi Indonesia akan lebih massif manakala diresonansikan melalui media, lalu terjadilah diseminasi gagasan. Diseminasi gagasan ini membuat persepsi dan apresiasi terhadap fantasi lebih baik di masa sekarang dan mendatang.

Acara Indo-Star Trek yang saya ikuti tersebut kemudian berlanjut dengan diadakannya sebuah kuis singkat. Pesertanya ialah mereka yang terdata aktif di komunitas Indo-Star Trek via facebook. Salah satu pertanyaan dari kuisnya yang masih saya ingat ialah siapa tokoh dalam serial Star Trek yang selalu memakai topeng? Setelah kuis usai dilaksanakan terdapat penyematan bagi beberapa orang yang telah mencapai level tertentu. Ada level kapten, commodore di komunitas Indo-Star Trek. Level ini sendiri ditentukan berdasarkan umur.

Berbicara tentang umur, ternyata dari yang hadir di acara Indo-Star Trek tersebut kebanyakan mereka yang sudah berumur lumayan tidak muda lagi. Analisa saya sebagai berikut terkait dengan cluster umur yang datang di acara Indo-Star Trek di @America. Serial Star Trek merupakan serial lawas. Sehingga wajar saja penggemarnya ialah mereka yang telah berumur tidak muda lagi. Analisa saya berikutnya ialah ternyata sumbu fantasi dari seseorang dapat terus hidup bahkan ketika usianya sudah tidak muda lagi. Fantasi menurut hemat saya dapat mengalami degradasi peminat sesuai umur. Seperti piramida, pecinta fantasi terbanyak ialah mereka yang masih anak-anak, lalu semakin tua seseorang semakin berkurang dan menyempitlah pecinta fantasi.

Muhibah ke Indo-Star Trek memberikan keyakinan pada saya, bahwa ketika tua menyapa kecintaan fantasi pun dapat terus hidup dan berkobar. Di Indo-Star Trek tersebut, saya menemui orang yang sudah sampai pada tahap bapak-bapak, ibu-ibu, dan bahkan ada yang rasanya sudah layak menjadi kakek. Saya harus mengucapkan apresiasi terhadap mereka yang masih percaya dan mencintai fantasi.

Sesi acara Indo-Star Trek di atas panggung diakhiri dengan foto bersama di atas panggung. Tentu saja bukan dengan seruan smile, tapi dengan simbol tangan Star Trek. Anda tahu kan simbol tangan Star Trek yang khas itu? Merapatkan jempol, telunjuk, jari tengah di satu kutub dan merapatkan jari manis dan kelingking di kutub lainnya. Jarak antar kerapatan dua kutub tersebut membentuk huruf V.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s